Perkembangan Teknologi AI dan Peluang bagi Indonesia
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang pesat memberikan peluang besar bagi Indonesia, tidak hanya dalam hal adopsi teknologi tetapi juga dalam pengembangan sumber daya manusia. SDM yang mampu mengonversi AI menjadi produktivitas, inovasi, dan nilai ekonomi akan menjadi kunci sukses di masa depan. AI berperan dalam menggeser fokus dari bonus demografi ke peningkatan kemampuan dan kapabilitas tenaga kerja.
Hal ini disampaikan oleh Dr. Tan Hong Ming, Assistant Dean (Digital Operations) di National University of Singapore (NUS) Business School, dalam sesi diskusi dengan media di Jakarta, Selasa (18/8). Menurutnya, selama puluhan tahun, bonus demografi selalu diukur dari jumlah tenaga kerja. Namun, kehadiran AI telah mengubah paradigma tersebut.
“Selama puluhan tahun, bonus demografi selalu diukur dari jumlah tenaga kerja. Keberadaan AI mengubah hal tersebut,” ujar Tan. Ia menjelaskan bahwa seorang karyawan yang dibekali keterampilan dalam AI kini bisa melakukan banyak hal lebih efisien. Produktivitas kian ditentukan oleh kapabilitas tenaga kerja, bukan lagi jumlahnya.
“Teknologinya sudah ada. Pertanyaan besarnya kini: siapkah SDM kita mencetak nilai tambah dari AI?” tanya Tan. Ini menunjukkan pentingnya persiapan SDM dalam menghadapi era AI.
Manusia Jadi Kunci Keberhasilan AI
Indonesia memiliki populasi lebih dari 280 juta jiwa dan merupakan kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan nilai ekonomi digital mencapai hampir US$ 100 miliar pada 2025. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai pasar digital terbesar di ASEAN. Selain itu, Indonesia didukung oleh sekitar 65 juta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menyumbang 60% Produk Domestik Bruto (PDB) nasional serta menyerap 97% tenaga kerja.
Potensi ini membuka ruang untuk produktivitas dan inovasi berbasis AI secara masif. Tan menilai saat ini pembahasan masih berkutat pada pekerjaan yang akan tergantikan oleh AI. Namun, ia menilai ini kurang tepat. Tujuan AI tak boleh sebatas otomatisasi, melainkan peningkatan kapasitas.
“Saat ini, pembahasan masih berkutat pada pekerjaan yang akan tergantikan oleh AI. Saya rasa ini kurang tepat. Tujuan AI tak boleh cuma sebatas otomatisasi, melainkan peningkatan kapasitas,” ujar Tan. AI dapat membantu manusia memecahkan masalah yang lebih besar, membuat keputusan yang lebih tepat, dan melahirkan nilai-nilai baru. Perusahaan yang menggunakan AI hanya untuk mengotomatisasi tugas mungkin bisa menghemat biaya dalam jangka pendek. Namun, entitas yang memakai AI untuk memberdayakan manusianya justru akan memetik nilai jangka panjang yang jauh lebih besar.
Tan tidak menganggap AI sebagai ancaman bagi manusia. Ia menekankan AI bisa membantu perusahaan merestrukturisasi pola kerja mereka, mempertajam daya pikir, meningkatkan kapasitas SDM, dan mendorong karyawan untuk lebih berkembang. Hal-hal yang krusial tetap berada di tangan manusia.
Tiga Tahap Investasi Human Dividend
Tan menyebut ada tiga tahap investasi untuk mengembangkan human dividend. Pertama, setiap entitas memerlukan literasi AI agar karyawan memahami cara menggunakannya secara efektif. Kedua, jajaran pimpinan perusahaan harus memiliki kapabilitas untuk merancang ulang pola kerja agar AI dapat memperkuat peran manusia, bukan sekadar otomatisasi. Tujuannya adalah memungkinkan orang-orang mencapai hasil yang sebelumnya sulit atau mustahil diraih. Ketiga, setiap entitas harus membangun budaya belajar berkelanjutan seiring dengan perkembangan AI yang dinamis.
Bagaimana Mencetak SDM yang Siap Gunakan AI?
Tan menilai Indonesia memiliki modal kuat untuk mengoptimalkan potensi human dividend. Berdasarkan data Microsoft Work Trend Index 2026, sebanyak 33% kalangan profesional di Indonesia masuk dalam kategori pengguna AI tingkat mahir (advanced), angka ini dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang berada di kisaran 16%. Hal ini tidak lepas dari penetrasi internet yang mencapai sekitar 81%. Selain itu, ekosistem kewirausahaan yang dinamis, menjadikannya pondasi yang kokoh untuk memperluas adopsi AI di berbagai sektor ekonomi Indonesia.
Profesor Teo Chung Piaw, Dekan NUS Business School, menilai tantangan terbesar saat ini adalah memastikan adopsi AI berjalan selaras dengan pengembangan kualitas SDM atau tenaga kerja. “Setiap proyek AI wajib menyertakan rencana pengembangan SDM di samping rencana implementasi teknologinya. Perusahaan jangan lagi memandang adopsi AI dan pengembangan SDM sebagai dua hal terpisah. Keduanya harus berjalan beriringan,” kata Teo.
Teo juga mematahkan anggapan bahwa UMKM di Indonesia hanya menjadi pengguna AI. Ia justru optimistis sektor UMKM berpotensi menjadi salah satu kisah sukses adopsi AI di tanah air. Ia mengatakan UMKM itu dinamis. Mereka mampu bereksperimen dengan cepat, beradaptasi lebih lincah dibandingkan dengan korporasi besar, dan memanfaatkan AI untuk menjangkau lebih banyak pelanggan tanpa biaya operasional yang membengkak.
“AI memberikan kesempatan bagi bisnis skala kecil untuk menghasilkan dampak besar dengan sumber daya yang efisien,” ujar Teo.



