Aura Kasih Berbisnis Peternakan Ayam
Artis ternama Indonesia, Aura Kasih, kini lebih fokus pada dunia bisnis. Salah satu bisnis yang ia jalani adalah peternakan ayam. Bisnis ini dinilai stabil meskipun harga daging ayam di pasaran saat ini sedang melonjak.
Aura Kasih menyatakan bahwa bisnis ayam yang ia kelola tidak untuk penggemukan ayam potong, melainkan penggemukan ayam. Ia bekerja sama dengan salah satu perusahaan ayam untuk menjalankan bisnis tersebut.
Jumlah ayam yang dikelolanya mencapai sekitar 40.000 ekor. Meski jumlah tersebut terdengar besar, Aura mengaku bahwa skala peternakan ini masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan industri ayam yang lebih besar.
“Jadi memang ini penggemukan aja, penggemukan. Jadi kerjasama sama salah satu perusahaan ayam,” ujarnya.
Alasan Memilih Bisnis Ayam
Aura mengungkapkan alasan mengapa ia memilih bisnis ayam. Menurutnya, ayam merupakan sumber protein yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia dan relatif terjangkau.
“Karena protein termurah itu kan sebenarnya ayam, ya kan? Dan orang Indonesia rata-rata makan ayam karena masih affordable,” katanya.
Bisnis ini juga tidak sepenuhnya ia lakukan sendiri. Karena jumlah ayam yang cukup banyak, ia mengandalkan pekerja kandang untuk memantau kondisi ayam.
Tidak Langsung Mengawasi Kondisi Ayam
Aura mengakui bahwa ia tidak terlibat langsung dalam setiap kondisi ayam karena jumlahnya yang mencapai puluhan ribu. Ia menegaskan bahwa kondisi ayam harus terus dipantau karena ayam industrial hidup dalam jumlah besar.
Jika ada ayam yang mulai terlihat lemas atau sakit, ayam tersebut harus segera dipisahkan agar tidak menular kepada ayam lainnya.
“Itulah kadang risikonya ayam itu di situ makanya kita juga harus punya anak buah kandangnya yang memang teliti ya gitu yang bagus,” ucapnya.

Harga Daging Ayam Melonjak Pasca MBG Aktif
Harga daging ayam di sejumlah daerah melonjak tajam. Di Pasar Besar Kota Madiun, misalnya, harga melonjak hingga Rp42 ribu per kilogram.
Salah satu pedagang ayam, Purwati, mengatakan bahwa awalnya harga daging ayam berada di kisaran Rp35 ribu. Ia menuturkan bahwa harga tersebut mulai naik setelah kegiatan belajar mengajar (KBM) sekolah kembali berjalan pada Juni 2026 lalu.
“Biasanya Rp 35 ribu. Setelah anak sekolah masuk, langsung setiap hari melonjak Rp 1.000, Rp 1.000 sampai sekarang Rp 42 ribu,” ujarnya.
Warga menduga kenaikan harga daging ayam karena aktifnya kembali program (Makan Bergizi Gratis) di sekolah. Kenaikan ini berdampak pada daya beli masyarakat.
Konsumen yang awalnya meminta 10 potong ayam per kilogram, kini potongannya diperkecil agar jumlah potongannya lebih banyak.
“Mengurangi sekali. Biasanya satu kilo bisa jadi 10, sekarang katanya jadi 12 sampai 14. Dipotong kecil-kecil,” ungkapnya.
Dampak Pada Pedagang
Pedagang lainnya mengaku, awalnya ia bisa menjual 50 kilogram sehari, kini turun hanya menjadi 30 kilogram sehari.
“Kalau dulu pas harga Rp 35 ribu banyak, bisa 50 kilo. Sekarang 30 saja sulit,” keluhnya.
Tak hanya di Jatim saja, di Jawa Tengah, tepatnya di Pasar Ir. Soekarno, Kabupaten Sukoharjo, satu kilogram daging ayam juga mencapai Rp42 ribu.
Sapardi Ahmad Muslim, salah satu pedagang mengatakan, kenaikan tersebut sudah berlangsung selama satu bulan ini. Ia menuturkan, kenaikan ini dipicu karena stok dari peternak ayam mulai berkurang.
Naiknya harga daging ayam ini juga membuat permintaan dari masyarakat turun. “Ini menurun. Ini ya kurang lebih 4-5 kuintal. Yang sebelumnya ya mungkin bisa 6 sampai 7 kuintal. Sekarang paling 4 lah, kurang lebih,” ungkapnya.
Penjelasan Menteri Perdagangan
Sementara itu, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso yang meninjau harga-harga di Pasar Ir. Soekarno mengatakan, harga daging ayam yang mendekati Rp40 ribu per kilogram menandakan bahwa peternak tidak lagi rugi.
Harga eceran tertinggi (HET) daging ayam yakni Rp40 ribu per kilogram.
“Harga ayam dulu kan pernah turun, ya. Pernah harga ayam itu kan dulu Rp 36.000. Harga acuannya kan Rp 40.000,” ucapnya kepada Kompas.com di tengah-tengah kunjungannya ke Pasar Ir. Soekarno Sukoharjo, Kamis (20/8/2026).
“Jadi justru kalau mendekati Rp 40.000 itu bagus, ya. Karena apa? Karena apa? Karena peternak tidak dirugikan. Kalau harga Rp 36.000 terus, peternaknya bisa tutup,” lanjutnya.
Menanggapi keluhan masyarakat soal tingginya harga daging ayam, ia menyatakan, harga di atas Rp40 ribu per kilogram tersebut sudah ideal antara produsen dan konsumen.
“Ya, makanya. Jadi HET itu harga yang ideal antara produsen dan konsumen. Kita melihat, menilai, harus dua-duanya,” ujarnya.
“Kita tidak hanya melihat produsen, kita juga tidak hanya melihat konsumen. Kalau konsumen, pasti kan maunya harganya di bawah,” terangnya.



