Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Senin, 24 Agustus 2026
Trending
  • Harga ayam naik, Aura Kasih: Bisnis ternak stabil, fokus pada penggemukan 40 ribu ekor
  • Tiga aktor Korea dihina kasar oleh senior, berlebihan
  • Pemerintah dan Oposisi Venezuela Berusaha Kembalikan 31 Ton Emas di Inggris
  • Daftar 7 Berita Terpilih Hari Ini, Pengungkapan Narkotika Cair 2,6 Ton Diungkap
  • Opini: Keindahan Kemanusiaan di Tengah Bencana
  • Jam Tayang Moto3 MotoGP Spanyol 2026 di Trans7-SPOTV, Aksi Veda Pratama Siang Hari?
  • Bromo Kembali Dibuka, Wisatawan Banjiri Area Puncak
  • Kementan tingkatkan inovasi dan kompetisi pemuliaan tanaman melalui layanan PVT yang lebih kuat
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Hobi»Harga ayam naik, Aura Kasih: Bisnis ternak stabil, fokus pada penggemukan 40 ribu ekor
Hobi

Harga ayam naik, Aura Kasih: Bisnis ternak stabil, fokus pada penggemukan 40 ribu ekor

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover24 Agustus 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Aura Kasih Berbisnis Peternakan Ayam

Artis ternama Indonesia, Aura Kasih, kini lebih fokus pada dunia bisnis. Salah satu bisnis yang ia jalani adalah peternakan ayam. Bisnis ini dinilai stabil meskipun harga daging ayam di pasaran saat ini sedang melonjak.

Aura Kasih menyatakan bahwa bisnis ayam yang ia kelola tidak untuk penggemukan ayam potong, melainkan penggemukan ayam. Ia bekerja sama dengan salah satu perusahaan ayam untuk menjalankan bisnis tersebut.

Jumlah ayam yang dikelolanya mencapai sekitar 40.000 ekor. Meski jumlah tersebut terdengar besar, Aura mengaku bahwa skala peternakan ini masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan industri ayam yang lebih besar.

“Jadi memang ini penggemukan aja, penggemukan. Jadi kerjasama sama salah satu perusahaan ayam,” ujarnya.

Alasan Memilih Bisnis Ayam

Aura mengungkapkan alasan mengapa ia memilih bisnis ayam. Menurutnya, ayam merupakan sumber protein yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia dan relatif terjangkau.

“Karena protein termurah itu kan sebenarnya ayam, ya kan? Dan orang Indonesia rata-rata makan ayam karena masih affordable,” katanya.

Bisnis ini juga tidak sepenuhnya ia lakukan sendiri. Karena jumlah ayam yang cukup banyak, ia mengandalkan pekerja kandang untuk memantau kondisi ayam.

Tidak Langsung Mengawasi Kondisi Ayam

Aura mengakui bahwa ia tidak terlibat langsung dalam setiap kondisi ayam karena jumlahnya yang mencapai puluhan ribu. Ia menegaskan bahwa kondisi ayam harus terus dipantau karena ayam industrial hidup dalam jumlah besar.

Jika ada ayam yang mulai terlihat lemas atau sakit, ayam tersebut harus segera dipisahkan agar tidak menular kepada ayam lainnya.

“Itulah kadang risikonya ayam itu di situ makanya kita juga harus punya anak buah kandangnya yang memang teliti ya gitu yang bagus,” ucapnya.

Harga Daging Ayam Melonjak Pasca MBG Aktif

Harga daging ayam di sejumlah daerah melonjak tajam. Di Pasar Besar Kota Madiun, misalnya, harga melonjak hingga Rp42 ribu per kilogram.

Salah satu pedagang ayam, Purwati, mengatakan bahwa awalnya harga daging ayam berada di kisaran Rp35 ribu. Ia menuturkan bahwa harga tersebut mulai naik setelah kegiatan belajar mengajar (KBM) sekolah kembali berjalan pada Juni 2026 lalu.

“Biasanya Rp 35 ribu. Setelah anak sekolah masuk, langsung setiap hari melonjak Rp 1.000, Rp 1.000 sampai sekarang Rp 42 ribu,” ujarnya.

Warga menduga kenaikan harga daging ayam karena aktifnya kembali program (Makan Bergizi Gratis) di sekolah. Kenaikan ini berdampak pada daya beli masyarakat.

Konsumen yang awalnya meminta 10 potong ayam per kilogram, kini potongannya diperkecil agar jumlah potongannya lebih banyak.

“Mengurangi sekali. Biasanya satu kilo bisa jadi 10, sekarang katanya jadi 12 sampai 14. Dipotong kecil-kecil,” ungkapnya.

Dampak Pada Pedagang

Pedagang lainnya mengaku, awalnya ia bisa menjual 50 kilogram sehari, kini turun hanya menjadi 30 kilogram sehari.

“Kalau dulu pas harga Rp 35 ribu banyak, bisa 50 kilo. Sekarang 30 saja sulit,” keluhnya.

Tak hanya di Jatim saja, di Jawa Tengah, tepatnya di Pasar Ir. Soekarno, Kabupaten Sukoharjo, satu kilogram daging ayam juga mencapai Rp42 ribu.

Sapardi Ahmad Muslim, salah satu pedagang mengatakan, kenaikan tersebut sudah berlangsung selama satu bulan ini. Ia menuturkan, kenaikan ini dipicu karena stok dari peternak ayam mulai berkurang.

Naiknya harga daging ayam ini juga membuat permintaan dari masyarakat turun. “Ini menurun. Ini ya kurang lebih 4-5 kuintal. Yang sebelumnya ya mungkin bisa 6 sampai 7 kuintal. Sekarang paling 4 lah, kurang lebih,” ungkapnya.

Penjelasan Menteri Perdagangan

Sementara itu, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso yang meninjau harga-harga di Pasar Ir. Soekarno mengatakan, harga daging ayam yang mendekati Rp40 ribu per kilogram menandakan bahwa peternak tidak lagi rugi.

Harga eceran tertinggi (HET) daging ayam yakni Rp40 ribu per kilogram.

“Harga ayam dulu kan pernah turun, ya. Pernah harga ayam itu kan dulu Rp 36.000. Harga acuannya kan Rp 40.000,” ucapnya kepada Kompas.com di tengah-tengah kunjungannya ke Pasar Ir. Soekarno Sukoharjo, Kamis (20/8/2026).

“Jadi justru kalau mendekati Rp 40.000 itu bagus, ya. Karena apa? Karena apa? Karena peternak tidak dirugikan. Kalau harga Rp 36.000 terus, peternaknya bisa tutup,” lanjutnya.

Menanggapi keluhan masyarakat soal tingginya harga daging ayam, ia menyatakan, harga di atas Rp40 ribu per kilogram tersebut sudah ideal antara produsen dan konsumen.

“Ya, makanya. Jadi HET itu harga yang ideal antara produsen dan konsumen. Kita melihat, menilai, harus dua-duanya,” ujarnya.

“Kita tidak hanya melihat produsen, kita juga tidak hanya melihat konsumen. Kalau konsumen, pasti kan maunya harganya di bawah,” terangnya.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Kelelawar Hantu Terlacak Lagi Setelah 200 Tahun, Jejak Ditemukan di Italia

24 Agustus 2026

Shio Beruntung Besok: Naga, Ular, Kuda, dan Kambing

24 Agustus 2026

Sering Perhatikan Hewan Peliharaan? Anda Tak Sadar Dapat 6 Manfaat Ini

24 Agustus 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Harga ayam naik, Aura Kasih: Bisnis ternak stabil, fokus pada penggemukan 40 ribu ekor

24 Agustus 2026

Tiga aktor Korea dihina kasar oleh senior, berlebihan

24 Agustus 2026

Pemerintah dan Oposisi Venezuela Berusaha Kembalikan 31 Ton Emas di Inggris

24 Agustus 2026

Daftar 7 Berita Terpilih Hari Ini, Pengungkapan Narkotika Cair 2,6 Ton Diungkap

24 Agustus 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?