Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 8 Juli 2026
Trending
  • Temuan Dugaan SKP dan SBU di Pengadaan BPBD Jawa Timur Kian Mengundang Pertanyaan
  • Momen Langka, Sherly Bertemu Diri Sendiri, Gubernur Malut Berenang Bersama Hiu Paus di Gorontalo
  • Harry Kane Lega, Peramal Ghana Akui Hentikan Kutukan Gol
  • Promo Krakatau Park 2026: Tiket Gratis untuk Siswa Berprestasi
  • Ramalan Zodiak Aquarius dan Pisces 25 Juni 2026: Cinta, Karir, Kesehatan, dan Keuangan
  • Ramalan Zodiak Sagitarius dan Capricorn 25 Juni 2026: Cinta, Karir, Kesehatan, dan Keuangan
  • Investasi Rp 82 Triliun dan Konflik Agraria Rempang, Prabowo Diminta Bersikap Jelas
  • 4 Kandidat Kuat Gantikan Adam Pryzbek di Persib: Semua Bintang, Tapi Rela Duet dengan Mantan Persija?
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Teknologi»6 tanda otak putih anak tak berkembang, apakah gadget penyebabnya?
Teknologi

6 tanda otak putih anak tak berkembang, apakah gadget penyebabnya?

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover30 Maret 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Apa Itu White Matter?



Secara sederhana, White matter adalah jaringan di otak yang berfungsi sebagai “jalan penghubung” antar bagian otak. Jaringan ini tersusun dari serabut saraf yang dilapisi mielin, suatu lapisan pelindung yang membantu mempercepat pengiriman sinyal antar sel saraf. Pada anak, White matter memiliki peran penting dalam berbagai fungsi kognitif, seperti kemampuan berpikir, memori, hingga tingkat fokus tertentu pada anak. Ketika koneksi ini berkembang dengan baik, anak cenderung akan lebih mudah memahami informasi, merespons situasi, serta mengontrol emosi dengan lebih baik. Sebaliknya, jika perkembangan jaringan ini terhambat, komunikasi antarbagian otak menjadi kurang optimal sehingga dapat memengaruhi proses belajar dan perilaku anak.

Anak Menjadi Sulit Fokus



Anak yang mengalami hambatan perkembangan ini dinilai sering terlihat kesulitan mempertahankan perhatian. Mereka mudah terdistraksi, cepat berpindah aktivitas, dan sulit menyelesaikan tugas hingga tuntas. Bahkan, untuk kegiatan sederhana seperti merespons cerita atau bermain bersama teman sebaya. Dalam studi neuropsikologi, konektivitas ini sangat berkaitan dengan kemampuan atensi. Jika jalur komunikasi antarbagian otak tidak kuat, otak kesulitan mempertahankan fokus dalam waktu lama. Hal ini membuat anak cenderung mencari stimulasi yang lebih cepat dan instan.

Kesulitan Untuk Memecahkan Masalah



Dalam kehidupan sehari-hari, tanda yang umumnya terlihat adalah anak terlihat binggung saat menghadapi situasi sederhana yang membutuhkan pemecahan masalah. Mereka cenderung cepat menyerah, mudah frustrasi, atau langsung mencari bantuan tanpa mencoba memahami situasi terlebih dahulu. Pola ini bisa menjadi salah satu tanda bahwa kemampuan berpikir atau problem solving belum berkembang optimal. Secara neurologis, kemampuan ini melibatkan kerja sama berbagai area otak, termasuk bagian yang mengatur memori kerja tubuh. White matter berperan sebagai jalur penghubung antararea tersebut. Jika konektivitas ini belum matang, proses integrasi informasi menjadi kurang efisien, sehingga anak kesulitan mengolah masalah dan menemukan solusi secara mandiri.

Kurang Tertarik Berinteraksi dengan Orang Lain



Tanda lain yang umumnya terlihat adalah anak kurang tertarik bermain secara aktif dan berinterkasi dengan lingkungan sekitar. Mereka lebih memilih menghabiskan waktu dengan gadget alih-alih bermain dengan orang lain. Padahal, perkembangan White matter tentunya sangat dipengaruhi oleh pengalaman langsung pada anak. Lingkungan yang kaya stimulasi, seperti aktivitas fisik, interaksi sosial, dan eksplorasi, terbukti membantu memperkuat koneksi otak anak. Konsep Serve and Return Interaction dari Center on The Developing Child, Harvard University, menekankan bahwa interaksi timbal balik antara anak dan orangtua seperti saling merespons, berbicara, dan bermain bersama, merupakan fondasi penting dalam membangun struktur otak anak yang sehat.

Emosi Sulit Dikendalikan



Anak yang mudah tantrum atau mengalami ledakan emosi berlebihan juga bisa menunjukkan tanda gangguan dalam perkembangan konektivitas otak. Hal ini terlihat ketika mereka cenderung sulit menenangkan diri ketika marah, kecewa, atau frustrasi. White matter membantu menghubungkan bagian otak emosional dengan bagian yang bertugas mengontrol respons. Jika koneksi ini belum matang, anak akan lebih impulsif dan kesulitan dalam mengatur emosinya. Selain itu, overstimulasi dari layar dapat membuat sistem saraf anak menjadi jauh lebih sensitif. Akibatnya, anak menjadi lebih mudah kewalahan secara emosional, terutama ketika harus menghadapi situasi di dunia nyata yang tidak secepat dan semudah yang mereka lihat di layar gawai mereka.

Tips Mengembangkan White Matter pada Anak



Tak perlu khawatir, tentunya hal ini dapat diatasi dengan penanganan yang tepat. Riset dari Center on the Developing Child, Harvard University, menunjukkan bahwa koneksi otak anak berkembang pesat melalui pengalaman sehari-hari yang kaya akan interaksi. Mama dapat mulai dengan mengarahkan anak pada aktivitas yang melibatkan pengalaman langsung, seperti bermain aktif, eksplorasi alam, atau permainan imajinatif. Selain mengasyikkan, beberapa kebiasaan sederhana juga terbukti membantu perkembangan white matter, seperti membaca buku secara rutin, serta membangun hubungan emosional yang hangat dengan orangtua.

Itulah beberapa tanda White matter tidak berkembang optimal pada anak yang perlu diperhatikan. Dengan pendampingan yang tepat, perkembangan otak anak dapat tetap optimal di masa depan. Jadi, apakah tanda ini pada anak mama?

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

HP Xiaomi Murah di Bawah Rp1 Juta Bulan Juni 2026: Redmi dan POCO Hadir

25 Juni 2026

Alasan ASUS TUF Gaming F16 Jadi Laptop Gaming Terbaik 2026

25 Juni 2026

Harga HP Realme Juni 2026: Seri C100 Dimulai dari Rp 2.499.000

25 Juni 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Temuan Dugaan SKP dan SBU di Pengadaan BPBD Jawa Timur Kian Mengundang Pertanyaan

7 Juli 2026

Momen Langka, Sherly Bertemu Diri Sendiri, Gubernur Malut Berenang Bersama Hiu Paus di Gorontalo

30 Juni 2026

Harry Kane Lega, Peramal Ghana Akui Hentikan Kutukan Gol

30 Juni 2026

Promo Krakatau Park 2026: Tiket Gratis untuk Siswa Berprestasi

30 Juni 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?