Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 13 Mei 2026
Trending
  • 43 Hari Kematian Karim Belum Terungkap, Keluarga Kecewa Proses Hukum Lambat
  • Niat Jadi Tulang Punggung Keluarga, Gadis 18 Tahun Diserang 8 Orang
  • Kadis Sosial Sambas Kunjungi Warga Tinggal di Rumah Reyot, Pastikan Hak Terpenuhi
  • Ririn Nekat Bantah Pembunuhan Keluarga, Bukti CCTV dan Sidik Jari Terungkap
  • Sikap Fans Borneo di Samarinda: Laga Kunci Persija vs Persib untuk Gelar Super League
  • Makassar, Kota Tanpa Rasa Aman
  • Cara Mengurangi Risiko Transaksi Anak di E-Commerce
  • Karir Menjanjikan! 7 Weton Ini Siap Meraih Puncak dengan Gaji Tinggi Menurut Primbon Jawa
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Ekspedisi Maluku Barat Daya Temukan Habitat Dugong Terbesar di Asia Tenggara
Ekonomi

Ekspedisi Maluku Barat Daya Temukan Habitat Dugong Terbesar di Asia Tenggara

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover9 Februari 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Ekspedisi KKP dan WWF Indonesia Mengungkap Habitat Dugong Terbesar di Asia Tenggara



Ekspedisi yang dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Yayasan WWF Indonesia di kawasan konservasi Kepulauan Romang dan Damer, Maluku Barat Daya pada tahun 2025 berhasil menemukan habitat dugong terbesar di Indonesia, bahkan di seluruh Asia Tenggara. Penelitian ini berlangsung selama sebulan dan semakin memperkuat posisi perairan Maluku Barat Daya sebagai salah satu ekosistem laut paling resilien di dunia.

Para peneliti mampu membuktikan bahwa perairan Maluku Barat Daya menjadi pertahanan terakhir bagi keanekaragaman hayati laut dunia dalam menghadapi ancaman perubahan iklim global. Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan, Koswara, menyampaikan bahwa KKP terus mendorong pengelolaan kawasan konservasi perairan yang berbasis data ilmiah, melibatkan masyarakat sebagai aktor utama, serta memberikan manfaat nyata bagi keberlanjutan sumber daya dan ekonomi lokal, sejalan dengan implementasi ekonomi biru.

Perairan Maluku Barat Daya sebagai Koridor Migrasi Laut

Perairan Maluku Barat Daya menjadi koridor migrasi utama untuk 24 spesies laut yang terancam punah dan dilindungi, termasuk paus biru, orca, hiu martil, beberapa jenis penyu, hingga dugong. Ekspedisi ilmiah yang dilaksanakan pada 3 Oktober-3 November 2025 ini berhasil menyingkap habitat dugong terbesar di Indonesia. Dalam satu area, peneliti menjumpai dugong sebanyak 32 ekor. Berdasarkan catatan para peneliti, populasi dugong dalam jumlah besar menjadi temuan langka, bahkan untuk ukuran dunia.

Kualitas Perairan yang Masih Terjaga

Temuan penting ini juga menunjukkan bahwa kualitas perairan Maluku Barat Daya masih relatif terjaga. Kawasan laut ini mampu memasok nutrisi bagi spesies kunci hingga menjadi rumah yang nyaman untuk sejumlah biota. Para peneliti telah mencatat ekosistem lamun, yang menjadi rumah dugong, berada dalam kondisi sangat baik dengan tutupan di atas 50%. Tim ekspedisi berhasil menemukan sembilan dari 14 jenis lamun yang tercatat ada di Indonesia.

Data ekspedisi lainnya menunjukkan bahwa ekosistem terumbu karang di perairan Kepulauan Romang dan Damer dalam kondisi sedang-baik. Hal ini tercermin dari angka rata-rata tutupan terumbu karang tertinggi mencapai 51,4%. Angka temuan ini di atas rata-rata regional (34%). Dalam analisis tingkat lanjut, peneliti menemukan sebagian koloni karang di perairan itu berusia sekitar 100-200 tahun. Fakta tersebut menunjukkan bahwa ekosistem perairan dangkal di kawasan itu telah bertahan sejak lama. Ekosistem tua ini mampu memberikan manfaat ekologis yang tinggi, seperti penjaga kawasan pantai, daerah pemijahan hewan-hewan laut penting dan bernilai ekonomis. Perairan dangkal yang sehat ini juga memiliki peran krusial bagi masa depan Indonesia.

Peran Masyarakat Adat dalam Perlindungan Ekosistem

Ekspedisi ini juga menyoroti peran penting masyarakat adat Maluku Barat Daya yang masih memegang teguh prinsip keberlanjutan melalui kearifan lokal. Di Pulau Romang dan Damer, praktik Sasi serta larangan adat (pemali) terhadap perburuan spesies tertentu menjadi pilar utama yang menjaga keseimbangan ekosistem sejak zaman nenek moyang.

Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Program Kelautan dan Perikanan, Yayasan WWF Indonesia, Candhika Yusuf, mengatakan hasil ekspedisi mampu menunjukkan Maluku Barat Daya memiliki pulau-pulau kecil yang dikelilingi perairan yang masih terjaga sejak zaman leluhur. Candhika menyaksikan bagaimana terumbu karang di sana tetap sehat dan tangguh di saat banyak wilayah lain mengalami pemutihan.

Ancaman yang Mengancam Keberlanjutan Ekosistem

Kini, keberlangsungan kekayaan alam di MBD menghadapi tantangan besar yang memerlukan tindakan kolektif segera. Ancaman nyata itu terdiri atas praktik penangkapan ikan menggunakan bahan peledak dan racun, perburuan penyu, hingga polusi sampah plastik yang mulai merambah pesisir terpencil. Hal-hal tersebut berisiko merusak resiliensi ekosistem yang telah terjaga selama berabad-abad.

Mengingat posisi Maluku Barat Daya sebagai pemasok nutrisi yang kaya dari samudra dan laut dalam, kerusakan di wilayah ini akan berdampak luas pada ketahanan pangan dan keseimbangan ekologi regional. Karena itu, penguatan pengawasan kolaboratif dan sinergi antara pemerintah, masyarakat, serta mitra pembangunan menjadi kunci utama untuk menyelamatkan kepulauan yang tersembunyi ini dari kerusakan permanen.

Program Sosialisasi Berbasis Lokal

Berangkat dari temuan ilmiah yang kuat, komitmen pemerintah, dan peran nyata masyarakat adat, Maluku Barat Daya kini menjadi simbol harapan bagi masa depan laut Indonesia. WWF Indonesia akan menyusun beberapa program sosialisasi dengan menggunakan pendekatan lokal, Kalwedo. Sosialisasi itu sebagai langkah strategis untuk memperluas jangkauan penyadartahuan masyarakat pesisir MBD terkait keberadaaan kawasan konservasi dan spesies kunci yang ada didalamnya.

Kalwedo berasal dari bahasa lokal yang merupakan ungkapan budaya masyarakat Maluku Barat Daya yang bermakna persaudaraan, kebersamaan, dan komitmen untuk hidup saling menghormati, serta saling menolong sebagai satu kesatuan. Integrasi kearifan lokal ini diharapkan dapat menjadi alat komunikasi yang efektif dalam menyampaikan pesan-pesan konservasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda di MBD.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

60 Ucapan Haji Penuh Doa dan Mengharukan

11 Mei 2026

Lompatan Ekonomi NTB: Dari Negatif ke Dua Digit dalam Setahun

11 Mei 2026

Pertumbuhan Ekonomi 5,61% Kuartal I-2026 Bertolak Belakang dengan Kinerja Emiten BEI

11 Mei 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

43 Hari Kematian Karim Belum Terungkap, Keluarga Kecewa Proses Hukum Lambat

12 Mei 2026

Niat Jadi Tulang Punggung Keluarga, Gadis 18 Tahun Diserang 8 Orang

12 Mei 2026

Kadis Sosial Sambas Kunjungi Warga Tinggal di Rumah Reyot, Pastikan Hak Terpenuhi

12 Mei 2026

Ririn Nekat Bantah Pembunuhan Keluarga, Bukti CCTV dan Sidik Jari Terungkap

12 Mei 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?