Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Sabtu, 28 Februari 2026
Trending
  • RX6000: Motor Listrik Petualangan Pertama dengan Pengisian SPKLU Tipe Euro 2
  • Bruno Moreira bersuara! Persebaya tertekan, laga vs PSM jadi titik balik!
  • Jadi Tulang Punggung Keluarga, Ayu Ting Ting Sindir Hobi Belanja Ayah Rojak
  • Wisatawan Jatim Capai 15 Juta, Hotel Kembangkan Layanan Baru
  • Profil Brigjen Eko Hadi Santoso Terbongkar Kasus Suap Rp2,8 M AKBP Didik Putra
  • RI Peroleh 19 Persen dari Negosiasi Tarif Resiprokal, Ekonom: Kewajiban Lebih Besar dari AS
  • 226 pekerja Kristalin dievakuasi setelah kebakaran, 2 tewas, tambang dihentikan
  • JuraganXtra: Mandiri Bantu UMKM Berkembang dan Kompetitif
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Hiburan»Seniman Multitalenta Muhammad Guruh Irianto Soekarnoputra
Hiburan

Seniman Multitalenta Muhammad Guruh Irianto Soekarnoputra

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover28 Februari 2026Tidak ada komentar9 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Sebuah Kehidupan yang Berjuang untuk Indonesia



Di antara saudara-saudaranya, Guruh Soekarnoputra dianggap yang paling seniman. Tapa Swara Maharddhika nyatanya dia niatkan untuk … politik.

Guruh Sukarno Putra dikenal sebagai seorang seniman serba bisa dan terus berkarya. Lagu-lagunya abadi, tetap enak dinikmati setelah masa 20 tahun. Swara Maharddhika yang dia bentuk pada 1977 menjadi “sekolah” para insan bisnis hiburan top Indonesia. Padahal kiprah seninya hanyalah batu loncatan.

“Kita pasti bisa bikin sesuatu. Tak boleh biasa-biasa, harus luar biasa!” kata M. Guruh Sukarno Putra tanpa bermaksud sesumbar. Maka jadilah “Pergelaran Karya Cipta Guruh Sukarno Putra” pada 1979 bak revolusi seni pertunjukan modern Indonesia. Menjadi fenomena. Menjangkitkan demam “menari ala Guruh”.

Memberi makna baru pada tata tari-musik-lagu khas Indonesia yang gemerlap gegap gempita. Karya yang memantulkan semangat tertinggi penciptaan dalam napas kental keindonesiaan.

Empat puluh lima menit ngobrol bareng Mas Ruh – begitu orang-orang terdekatnya menyapa – seperti membaca kembali pemikiran-pemikiran Bung Karno tentang kebangsaan. Sedemikian besarkah pengaruh Sukarno pada karya sang putra?

“Pengaruh langsung, rasanya tidak. Tapi gagasan-gagasannya, setelah saya dewasa, menyadarkan bahwa ternyata ada dua manusia yang berbeda tapi sepaham dalam pikiran. Kita harus revolusioner, berani melakukan terobosan!” tutur putra bungsu presiden pertama RI dengan Fatmawati ini.

Jiwa seni adalah anugerah yang dipupuk lingkungan. “Bapak itu seniman sekaligus penikmat seni. Pengumpul lukisan dan benda seni tapi juga melukis, menciptakan tata tari, lagu, dan banyak cabang seni. Ibu juga menari, main musik, mencipta lagu, dan menyanyi.”

Jadi, kalau Guruh belajar bermacam tari – Jawa, Bali, Sunda, Sumatera, bahkan Barat – itu tradisi keluarga. Usia lima tahun sudah mempelajari tari Bedoyo dan spiritual Jawa dari Laksmito Rumi, istri Paku Buwono X. Belajar tari bali dibimbing Agung Mandra, I Wayan Diya, dan I Gusti Kompyang Raka. Belum lagi angklung, gamelan jawa dan bali. Piano dikuasai secara otodidak sejak kelas 5 SD, sementara Ismail Marzuki dan Mochtar Embut andil dalam bimbingan teori dan komposisi musik.

Semua itu bukanlah untuk kesenangan dan kepentingan pribadi. Hasil latihan tiap hari selepas Maghrib itu dipertunjukkan bersama para kakak – Guntur, Mega, Rachma, Sukma – di hadapan para tamu negara di istana.

Bertahun-tahun kemudian, ketika memperdalam arkeologi di Universiteit van Amsterdam (1972 – 1975), keterampilan ini menjadi bukan sekadar memperkenalkan seni budaya Indonesia di luar negeri. Sepeninggal Bung Karno, keadaan ekonomi keluarga memprihatinkan. Rumah Fatmawati di Jl. Sriwijaya, Kebayoran Baru, dikontrakkan ke sebuah perusahaan untuk membiayai keperluan sehari-hari dan kuliah Guruh.

Seperti anak kos umumnya, “Kiriman dari hasil kontrakan itu tak cukup. Jadi, saya mencari tambahan dengan mengajar gamelan, tari bali, membuat pertunjukan seni. Inilah awal seni menolong saya memperoleh penghasilan,” kisah Guruh yang lagu-lagunya abadi (ingat Melati Suci, Puspa Indah Taman Hati, Anak Jalanan).

Alasan biaya juga yang memaksa Guruh tak menyelesaikan studinya. Kembali ke Indonesia, pria kelahiran Jakarta, 13 Januari 1953, ini tertantang Festival Lagu Pop Tingkat Nasional 1976. Soal mencipta lagu, telah dilakukannya sejak usia 15 tahun dengan “Sepasang Merpati”. Karyanya, “Renjana”, menang dan mewakili Indonesia ke World Song Festival di Tokyo. “Tidak menang (di sana). Tapi itulah debut saya sebagai pencipta lagu.”

Guruh kemudian diminta melatih kelompok-kelompok vokal anak muda yang sedang menjamur, gabungan siswa SMA 4, Kanisius, dan Satria. “Saat itu, kalau nyanyi tak mengutamakan gaya. Lalu saya masukkan tata tari sambil nyanyi.” Membawakan “Januari Kelabu” dengan koreografi, Tarida, Berlian, Bornok, dan Rugun Hutauruk menjadi juara pertama festival vocal group di UI.

Bertemu kembali dengan teman-teman semasa sekolah, Chrisye, Keenan Nasution dari Gipsy Band menghasilkan album Guruh Gipsy (1977) yang memadukan musik etnis Indonesia (Jawa, Sunda, Bali) dan rock Barat. Masyarakat dan pers ternyata menyambut baik. Ini menalikan pengalaman semasa sekolah, bersama teman-teman, meminjam peralatan Guntur, dua kali Guruh membentuk band, antara lain The Flower Poetmen – kepujanggaan bunga.

Memahami Indonesia

Guruh kembali mengingat alasan dasarnya memperdalam arkeologi. “Yang menempel di arkeologi itu sejarah. Sejak kecil saya sudah penasaran, seperti apa sih bangsa Indonesia itu sebenarnya? Mengapa bangsa yang dulunya merasa besar dengan kerajaan-kerajaan besar semacam Sriwijaya dan Majapahit bisa mengalami penjajahan beratus tahun oleh bangsa kecil yang luasnya hanya se-Jawa Barat?”

Dibesarkan dalam lingkungan kenegaraan, “Saya ingin berjuang untuk Indonesia, jadi harus tahu dulu latar belakangnya. Bagaimana sebenarnya perilaku dan budaya manusia Indonesia purba hingga (sudah) merdeka pun masih begini. Banyak yang miskin dan tak sekolah.”

Ini sesuai dengan harapan sang ibu yang menciptakan lagu “Buah Hati Pengarang Jantung” bagi Bujang – panggilan sayang Fatmawati kepada Guruh.
Hanyalah anak/pinta bunda kapan nanti/tilah dewasa/bekerjalah selamanya untuk kebaikan nusa bangsa
….”

Gagasan ini dituangkan dalam Swara Maharddhika (SM) (diambil dari bahasa Kawi bermakna suara yang berkuasa, suara merdeka). “Maunya saya jadikan wadah mendidik pemuda-pemuda tentang soal kenegaraan sambil belajar seni. Orde Baru membuat anak muda jauh dari politik. Awalnya, ingin dikembangkan jadi organisasi massa dan politik. Tapi saat itu tak memungkinkan karena hanya boleh ada tiga partai — Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Golongan Karya (Golkar), dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI).”

Kegiatan tentu membutuhkan biaya. Pertunjukan seni jadi pilihan pemasukan. Setelah pertunjukan kecil di Taman Fatahillah dan TIM, “Pergelaran Karya Cipta Guruh Sukarno Putra” (1979) yang kolosal sukses besar. Disusul kian besar dengan “Untukmu Indonesiaku” (1980), “Cinta Indonesia” (1984), “Gilang Indonesia Gemilang” (1986), dan “Gempita Swara Mahardhika” (1987).

Guruh telah berhasil melewati rintangan berat. “Awalnya toh dikritik. Hanya untuk kelas atas, gedongan, katanya. Itu karena orang-orang belum paham. Di syair ‘kan saya banyak menggunakan kata yang sudah tak lazim dipakai, purba, mati. Renjana, niskala, teja. Saya ciptakan dengan penuh kesadaran. Belajar berkarya untuk Indonesia,” ungkap Mas Ruh, yang telah melahirkan sejumlah bintang macam Marissa Haque, Harry de Fretes, Titi Dwijayati, Denny Malik, dll.

Sisi Baik dan Kegagalan

Sisi baiknya, “Saya dikenal sebagai seniman profesional. Tak masalah, karena seni itu seperti orang bernapas. Rasa seni menyenangi dan mendorong menciptakan yang indah. Sementara orang selalu memilah-milah, seakan seniman jauh dari politik. Padahal, semuanya bisa menyatu dalam kehidupan. Politik itu ‘kan mencakup banyak segi. Pemahaman kita tentang kenegaraan, kewarganegaraan, kebijakan, sikap kita sebagai bangsa, sikap suatu negara pada bangsa dan negara lain. Kita punya banyak masalah, harus diperjuangkan. Itulah alasan saya terjun ke politik, untuk bersama-sama berjuang.”

Di sisi lain, SM dia anggap gagal menelurkan kader. Jadi, pada rapat umum SM 1987, Guruh memutuskan agar SM kembali ke khittah, niat dasar. Politik. Tak boleh manggung lagi. Untuk pertunjukan seni dan bisnis hiburan lain dibentuklah PT Kinarya Gencar Semarak Perkasa alias GSP Production. Sementara SM dijadikan yayasan yang akhirnya juga tak berkutik karena pembatasan politik Orba.

Kinarya GSP sendiri dibagi dua divisi, Paniradia Seri Gemilang menangani penyelenggaraan kegiatan dan seni, Kinarya GSP menyediakan pagar ayu dan pagar bagus untuk acara khusus. Tahun 2000 misalnya, “Selangit Pesona” tiga kali seminggu manggung di Restoran Internasional Hailai Ancol, juga di Restoran Manari Jakarta, dan program Jakarta Week di Singapura.

Tetap Bidik Anak Muda

Di mata Guruh, “Indonesia sangat sering kehilangan kesempatan. Selalu tak mendahulukan Indonesia, membiarkan Indonesia di belakang. Stasiun TV, MTV terutama MetroTV, mengapa judul acaranya saja pakai bahasa Inggris. Memangnya untuk konsumsi siapa? Bahasa dalam rapat pun campur-campur bahasa Inggris. Kalau ada padanannya dalam bahasa Indonesia, mengapa tak diperjuangkan?

“Mengapa pakai kata manifestasi kalau ada ejawantah atau perwujudan? Banyak kata dalam bahasa Indonesia yang kuno tapi indah. Rindu dendam. Sendu rawan. Saya terpanggil ketika mencipta syair. Bukan diterima, malah dibilang mengada-ada.”

Berbusana juga. “Mengapa wanita Indonesia tak terampil berbusana kebaya? Ini bukan gaya kuno tapi bisa disesuaikan. Singapore Airlines justru yang mempopulerkan kebaya yang dianggap susah jalan itu. Dirancang orang Prancis pula. Sekarang pramugari Garuda Indonesia ya berkebaya, tapi ‘kan dibilang ikut-ikutan!”

Guruh boleh bilang begitu. Tapi kalau kita menukik lebih dalam pada karya-karyanya, cinta Indonesia diungkapkan lewat penjelajahan dan coba-coba meramu dengan seni budaya tanpa batas. Tidakkah saling bertentangan? Apakah ini jalan tengah?

Tengok album Candu Asmara dan NTXTC (1996). Guruh menakali lagu-lagunya yang populer macam “Zamrud Khatulistiwa”, “Jalan-jalan Sore” ke dalam dentaman house music yang sedang digandrungi kawula muda, dengan ramuan musik jawa, bali, sunda, dangdut, bahkan disko.

“Ada persamaan dengan pola musik tradisional Indonesia, pada pengulangan tiap satu atau lebih birama, seperti pada gamelan jawa (kodok ngorek, monggang, carabalen, kebogiro, gangsaran, gending soran) atau gamelan bali (gilak, batel, bapang). Orang bilang agak monoton, tapi enak karena lebih merdeka bervariasi,” katanya di sampul NTXTC (baca: anti-ekstasi).

House music lahir lewat daya cipta positif seniman musik penghujung abad ke-20 melalui rekayasa komputer … turut memberi ciri dan warna milenium kedua di era globalisasi … kita patut mensyukurinya dan memberi lahan di bumi Indonesia demi kemajuan dan kekayaan khasanah budaya Indonesia sendiri.”

Di luar penjelajahan musik, dua album ini agaknya juga untuk menepis anggapan bahwa house music tersangkut pecandu pil ekstasi, jadi harus “dilarang” seperti halnya dangdut yang dianggap kampungan berlirik kerap tak senonoh, maupun blues dan musik bernuansa psychedelic era 1960 – 1970-an dengan ganja dan narkotika. Memerangi pil setan bukan berarti menolak house music yang enak mengiringi tata tari. “Jadi, jangan berjiwa beku terkungkung kemunafikan,” katanya.

Guruh juga menjejak kembali bidang seni yang lama tak ditekuni. Batik, misalnya, yang pernah dia pelajari kala SMP (1967), diseriusi lagi mulai 1996 dengan membuka bengkel batik di Jakarta, Solo, dan Surabaya untuk menghasilkan batik tulis di atas mori hingga sutera. Menghasilkan Patriot untuk kalangan bawah, Guruh Sukarno Putra (menengah) dan Dewangga (atas dan ekspor). Karyanya bisa dinikmati antara lain di Batik Kontemporer, Galeri Batik Kuno Danar Hadi Solo, dan Balai Pajang Guruh Sukarno Putra Rumah Adityawarman, Jakarta.

Walau hanya sekilas, Guruh sempat mencoba seni peran lewat film Sembilan Wali dan Untukmu Indonesiaku. Tiga tahun terakhir, Guruh dengan Kinarya GSP sangat produktif. Dari “Zamrud Khatulistiwa Merah Putih” (2000) sampai “Pentas Lelaki Super” (2003). Terakhir, Kinarya GSP ikut terlibat dalam konser Chrisye, “Dekade”.

Dengan demikian banyak bakat dan karya seni, bagaimana Guruh memilih kader dan mewariskan ilmunya? “Saya lakukan pada siapa pun yang bersentuhan langsung dengan saya. Penari, misalnya, yang penting profesional. Orang Indonesia itu ‘kan kurang disiplin, curi-curi, korupsi. Kita harus memperjuangkan kebudayaan kita, harus tahu masalahnya. Kalau tidak, tergusur lagi oleh kebudayaan asing.”

Itulah sikap prihatin Guruh seperti yang dia ungkap dalam “Chopin Larung”,
Sang jukung kelapu-lapu/santukan baruna kroda/nanging chopin nenten ngugu/kadangipun ngarusak seni budaya (perahu terombang-ambing, karena dewa laut murka, namun Chopin tiada memahami, bangsanya merusak seni budaya).

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Ramalan zodiak besok Senin 23 Februari 2026: Cek keberuntunganmu di sini!

28 Februari 2026

Laga PSIM Yogyakarta vs Bali United Malam Ini Bakal Seru

28 Februari 2026

Promo Ramadan 1447 H: Harga Sirup Marjan di Alfamart dan Indomaret Hari Ini

28 Februari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

RX6000: Motor Listrik Petualangan Pertama dengan Pengisian SPKLU Tipe Euro 2

28 Februari 2026

Bruno Moreira bersuara! Persebaya tertekan, laga vs PSM jadi titik balik!

28 Februari 2026

Jadi Tulang Punggung Keluarga, Ayu Ting Ting Sindir Hobi Belanja Ayah Rojak

28 Februari 2026

Wisatawan Jatim Capai 15 Juta, Hotel Kembangkan Layanan Baru

28 Februari 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?