Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Friday, 16 October 2026
Trending
  • Saat bencana menguji literasi kita, refleksi Hari Aksara Internasional 2026
  • Bullying pakai api di Telkom University, awal mula hingga akhir nasib
  • Daftar 7 berita pilihan hari ini, listrik padam, air terganggu, akademisi: Apa arti ekonomi tumbuh
  • Apple gelar acara Welcome Home hari ini, ini 3 produk yang diprediksi meluncur
  • Duel Pelindung Cat Mobil: Ceramic Coating vs PPF, Mana yang Terbaik?
  • Buntut kehebohan ijazah luar negeri, syarat SMA capres-cawapres di UU Pemilu resmi digugat ke MK
  • Prediksi skor Feyenoord vs Como: I Lariani siap bikin kejutan di De Kuip, berpotensi hujan gol!
  • Soal HOTS teks prosedur bahasa Indonesia kelas 9 SMP materi bab 2 buku-buku berbicara, soal terbaru
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Saat bencana menguji literasi kita, refleksi Hari Aksara Internasional 2026
Nasional

Saat bencana menguji literasi kita, refleksi Hari Aksara Internasional 2026

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover16 October 2026No Comments5 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Oleh: Nor Hasanah, S.Ag, M.I.Kom

Pustakawati UIN Antasari Banjarmasin

Indonesiadiscover.com BENCANA tidak selalu datang dengan suara gemuruh. Kadang ia hadir melalui udara yang tiba-tiba pekat, langit yang berubah kelabu, jarak pandang yang menurun, atau butiran debu yang perlahan memenuhi ruang kehidupan. 

Di saat seperti itu, manusia dipaksa berhenti sejenak dan bertanya: apa yang sebenarnya sedang terjadi? Pertanyaan sederhana tersebut sesungguhnya membawa kita pada makna literasi yang jauh lebih luas.

Hari Aksara Internasional yang diperingati setiap 8 September bukan sekadar momentum untuk merayakan kemampuan membaca dan menulis.

Literasi adalah kemampuan manusia memahami informasi, mengambil keputusan, memecahkan persoalan, dan beradaptasi dengan perubahan kehidupan. Karena itu, ketika bencana datang, literasi ikut diuji.

Tema Hari Aksara Internasional 2026, “Literacy for people, the planet and prosperity”, menjadi semakin relevan ketika masyarakat berhadapan dengan persoalan lingkungan dan bencana. Literasi untuk manusia berarti memastikan setiap orang memiliki pengetahuan yang dapat melindungi kehidupannya.

Literasi untuk planet berarti membangun kesadaran agar manusia mampu memahami dan merawat lingkungan. Sementara literasi untuk kemakmuran berarti menjadikan pengetahuan sebagai modal membangun kehidupan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Ketika asap dan debu vulkanik menyelimuti sejumlah wilayah, masyarakat bukan hanya membutuhkan perlindungan fisik. Mereka juga membutuhkan informasi.

Apakah udara aman untuk dihirup? Bagaimana dampak abu vulkanik terhadap kesehatan? Apakah aktivitas luar ruangan perlu dibatasi? Ke mana masyarakat harus bergerak jika status gunung meningkat? Informasi mana yang harus dipercaya? Dan bagaimana membedakan peringatan resmi dari kabar yang beredar di media sosial?

Semua pertanyaan itu membutuhkan kemampuan membaca. Namun membaca yang dimaksud bukan sekadar mengeja kalimat, melainkan kemampuan memahami pesan, menilai sumber, menghubungkan informasi dengan kondisi nyata, kemudian mengambil keputusan.

Di sinilah bencana menjadi semacam “ujian literasi” bagi masyarakat. Masyarakat yang memiliki literasi kebencanaan akan berusaha mencari informasi dari sumber tepercaya.

Mereka memahami peringatan dini dan tidak menganggap remeh ancaman. Mereka mengetahui tindakan yang harus dilakukan dan tidak mudah terprovokasi oleh kabar yang belum jelas.

Sebaliknya, masyarakat yang lemah literasinya akan lebih mudah terjebak dalam kepanikan, informasi palsu, bahkan keputusan yang membahayakan dirinya sendiri.

Dengan demikian, dalam situasi bencana, kemampuan membaca dapat menjadi bagian dari kemampuan menyelamatkan kehidupan.

Ketika Hoaks Lebih Cepat daripada Bencana

Ada persoalan lain yang tidak kalah serius: bencana informasi. Di era media sosial, kabar tentang bencana dapat menyebar dalam hitungan detik. Sayangnya, kecepatan informasi tidak selalu berbanding lurus dengan kebenarannya.

Foto lama dapat diunggah kembali seolah-olah merupakan kejadian terbaru. Video dari daerah lain dapat diberi narasi yang berbeda.

Pesan berantai tanpa sumber dapat dipercaya hanya karena dikirim oleh orang yang dikenal. Bahkan informasi resmi terkadang kalah cepat dengan kabar yang sensasional. Pada titik inilah literasi digital menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar.

Kita harus mengajarkan masyarakat untuk berhenti sejenak sebelum menekan tombol “bagikan”. Siapa sumbernya? Kapan informasi itu dibuat? Apakah sesuai dengan kondisi terkini? Apakah ada sumber resmi yang mengonfirmasinya?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut merupakan bagian dari kecakapan literasi. Sebab, dalam keadaan darurat, menyebarkan informasi yang salah bukan sekadar persoalan etika bermedia sosial. Ia dapat menimbulkan kepanikan, mengganggu proses evakuasi, bahkan membahayakan keselamatan orang lain.

Lebih jauh, literasi juga harus mengajarkan manusia membaca alam. Alam sesungguhnya selalu memberikan tanda.

Perubahan cuaca, peningkatan suhu, pola hujan yang tidak biasa, perubahan kondisi sungai, aktivitas gunung api, hingga berbagai gejala lingkungan merupakan bahasa alam yang perlu dipahami.

Persoalannya, manusia modern sering kali terlalu sibuk membaca layar sehingga lupa membaca lingkungan di sekitarnya. Kita mengetahui apa yang sedang viral di media sosial, tetapi tidak mengetahui perubahan lingkungan di sekitar rumah.

Anak-anak perlu belajar bukan hanya membaca buku tentang lingkungan, tetapi juga memahami mengapa sungai harus dijaga, mengapa hutan penting, bagaimana gunung api bekerja, mengapa kualitas udara perlu diperhatikan, dan apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi. Dengan begitu, literasi tidak berhenti menjadi pengetahuan. Ia tumbuh menjadi kesiapsiagaan.

Dalam konteks ini, perpustakaan memiliki peran yang sangat strategis. Perpustakaan tidak boleh hanya dipahami sebagai tempat menyimpan buku.

Ia harus hadir sebagai pusat pengetahuan yang membantu masyarakat memahami berbagai persoalan kehidupan.

Ketika bencana terjadi, masyarakat membutuhkan informasi yang sederhana, cepat, terpercaya, dan mudah dipahami.

Perpustakaan dapat ikut menyediakan sumber-sumber pengetahuan tentang kebencanaan, kesehatan, lingkungan, mitigasi, dan keselamatan.

Pustakawan pun dituntut bergerak melampaui tugas-tugas administratif. Di tengah kepungan asap, pustakawan dapat ikut mengingatkan masyarakat: jangan hanya mencari informasi yang paling cepat, tetapi carilah informasi yang paling dapat dipercaya.

Jangan Hanya Melek Huruf

Hari Aksara Internasional memberi kita kesempatan untuk memperluas kembali definisi literasi.

Kita tidak cukup hanya menjadi masyarakat yang melek huruf. Kita perlu menjadi masyarakat yang melek informasi, melek digital, melek lingkungan, dan melek bencana.

Sebab ketika bencana datang, yang diuji bukan hanya kekuatan bangunan dan kecanggihan teknologi, tapi kemampuan manusia memahami apa yang sedang terjadi dan menentukan apa yang harus dilakukan.

Pada akhirnya, literasi bukan sekadar kemampuan memahami tulisan. Literasi adalah kemampuan memahami kehidupan. Seberapa literatkah kita ketika kehidupan sedang diuji oleh bencana?

Jika jawabannya adalah kemampuan untuk tetap tenang, mencari informasi yang benar, memahami risiko, melindungi sesama, dan mengambil tindakan yang tepat, maka literasi telah menemukan maknanya yang paling nyata.

Sebab bangsa yang literat bukan hanya bangsa yang pandai membaca buku. Bangsa yang literat adalah bangsa yang mampu membaca zaman, membaca alam, membaca risiko, dan membaca jalan menuju masa depan. (*)

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Daftar 7 berita pilihan hari ini, listrik padam, air terganggu, akademisi: Apa arti ekonomi tumbuh

16 October 2026

Buntut kehebohan ijazah luar negeri, syarat SMA capres-cawapres di UU Pemilu resmi digugat ke MK

16 October 2026

Soal HOTS teks prosedur bahasa Indonesia kelas 9 SMP materi bab 2 buku-buku berbicara, soal terbaru

15 October 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Saat bencana menguji literasi kita, refleksi Hari Aksara Internasional 2026

16 October 2026

Bullying pakai api di Telkom University, awal mula hingga akhir nasib

16 October 2026

Daftar 7 berita pilihan hari ini, listrik padam, air terganggu, akademisi: Apa arti ekonomi tumbuh

16 October 2026

Apple gelar acara Welcome Home hari ini, ini 3 produk yang diprediksi meluncur

16 October 2026
TAGS
akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?