Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Jumat, 20 Maret 2026
Trending
  • Target Persib di kandang Borneo FC tidak terlalu tinggi
  • 3 Hal yang Harus Dihindari Generasi Sandwich Agar Terhindar dari Utang
  • Rusdi Masse Bergabung dengan PSI, Mulai Kuasai Basis Lama NasDem di Ajatappareng
  • Soal PTS Bahasa Indonesia Kelas 2 SD Semester 2 Kurikulum Merdeka dan Jawaban
  • Revisi DHE SDA Belum Dirilis, Ekonom Khawatir Pemerintah Masih Hitung Risiko bagi Eksportir
  • Polda Bengkulu Tanggapi Tuduhan Kriminalisasi ART Refpin yang Cubit Anak Anggota DPRD
  • THR Dikenakan Pajak, Buruh Minta Perusahaan Beri Keadilan
  • Permainan Kecil, Makna Besar
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Rupiah melemah di bawah Rp 16.900 akibat sentimen global
Ekonomi

Rupiah melemah di bawah Rp 16.900 akibat sentimen global

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover16 Januari 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Indonesia – Jakarta.

Nilai tukar rupiah mengalami penurunan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari Kamis (15/1/2026). Berdasarkan data dari Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah sebesar 0,18% secara harian menjadi Rp 16.896 per dolar AS. Dalam seminggu terakhir, rupiah di pasar spot juga mengalami pelemahan sebesar 0,58% dibandingkan posisi pada hari Kamis (8/1/2026) yang berada di level Rp 16.798 per dolar AS.

Sementara itu, menurut data Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah sebesar 0,05% secara harian menjadi Rp 16.880 per dolar AS. Dalam sepekan, rupiah Jisdor juga mengalami pelemahan sebesar 0,47% dari posisi pada hari Kamis (8/1/2026) yang berada di level Rp 16.801 per dolar AS.

Ahli ekonomi dan pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pergerakan rupiah dalam seminggu terakhir dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah data indeks harga konsumen (CPI) AS yang naik sebesar 0,2% pada bulan Desember dan 2,6% secara tahunan, yang lebih rendah dari perkiraan. Hal ini memperkuat spekulasi mengenai kemungkinan penurunan suku bunga di masa depan.

Selain itu, ada sentimen geopolitik yang turut memengaruhi kondisi pasar. Misalnya, ketegangan antara AS dan Venezuela serta aksi demonstrasi di Iran yang semakin intensif. Demonstrasi tersebut dilaporkan telah menewaskan sekitar 2.000 orang, meningkatkan kekhawatiran akan ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah.

Peristiwa ini juga memicu peringatan dari Presiden AS Donald Trump, yang mengingatkan potensi tindakan militer serta ancaman tarif sebesar 25% terhadap negara-negara yang berbisnis dengan Iran. Selain itu, ada kekhawatiran terkait independensi Federal Reserve (The Fed).

“Kekhawatiran atas independensi bank sentral AS setelah pemerintahan Trump membuka penyelidikan kriminal terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell,” kata Ibrahim kepada media, Kamis (15/1/2026).

Meskipun situasi ini menimbulkan ketidakpastian bagi investor, para kepala bank sentral dan eksekutif bank besar secara terbuka mendukung Powell. Mereka menekankan pentingnya menjaga otonomi The Fed di tengah tekanan politik.

Taufan Dimas Hareva, Research and Development ICDX, menyatakan bahwa tekanan terhadap rupiah masih cukup signifikan akibat dominasi dolar AS. Namun, potensi stabilisasi tetap terbuka jika sentimen global membaik dan tidak ada tekanan eksternal yang signifikan.

Beberapa sentimen yang perlu diperhatikan ke depan, khususnya dari faktor global, seperti rilis data ekonomi AS seperti inflasi dan data tenaga kerja. Arah kebijakan The Federal Reserve juga akan memengaruhi pergerakan dolar AS.

“Selain itu, dinamika geopolitik global dan pergerakan imbal hasil US Treasury juga akan menjadi faktor penting,” ujar Taufan.

Dari sisi domestik, Taufan menambahkan bahwa pasar akan mencermati respons Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Selain itu, pergerakan arus modal asing akan sangat menentukan arah rupiah dalam jangka pendek.

Ibrahim memproyeksikan rupiah dalam seminggu ke depan akan berada di kisaran Rp 16.840 hingga Rp 17.000 per dolar AS. Sementara itu, Taufan memperkirakan rupiah selama seminggu ke depan masih akan fluktuatif dengan kecenderungan bergerak di rentang Rp 16.750 hingga Rp 17.000 per dolar AS.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

3 Hal yang Harus Dihindari Generasi Sandwich Agar Terhindar dari Utang

19 Maret 2026

Revisi DHE SDA Belum Dirilis, Ekonom Khawatir Pemerintah Masih Hitung Risiko bagi Eksportir

19 Maret 2026

KDMP: Kontrak Ekonomi Desa, Harapan dan Risiko Hukum

19 Maret 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Target Persib di kandang Borneo FC tidak terlalu tinggi

19 Maret 2026

3 Hal yang Harus Dihindari Generasi Sandwich Agar Terhindar dari Utang

19 Maret 2026

Rusdi Masse Bergabung dengan PSI, Mulai Kuasai Basis Lama NasDem di Ajatappareng

19 Maret 2026

Soal PTS Bahasa Indonesia Kelas 2 SD Semester 2 Kurikulum Merdeka dan Jawaban

19 Maret 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?