Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 30 September 2026
Trending
  • Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!
  • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
  • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
  • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
  • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
  • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
  • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
  • Nilai pasaran tembus Rp 163 miliar! Persija Jakarta belum puas dan masih buru pemain baru
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Teknologi»Rektor Unismas Tekankan Pentingnya Melampaui Dogmatisme Hukum Tradisional
Teknologi

Rektor Unismas Tekankan Pentingnya Melampaui Dogmatisme Hukum Tradisional

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover21 April 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Peran Hukum dalam Menghadapi Algoritma yang Tidak Netral

Ketua Umum DPN PERADI PROFESIONAL dan juga Guru Besar Universitas Negeri Makassar, Prof. Dr. Harris Arthur Hedar, SH, MH, menyampaikan kekhawatiran tentang pergeseran fundamental dalam cara manusia mengonsumsi informasi. Ia menyoroti bahwa sebelumnya kurasi informasi dilakukan oleh redaktur atau mekanisme profesional lainnya, tetapi kini sepenuhnya diserahkan kepada algoritma.

Menurut Prof Harris, teknologi tidak pernah netral. Ia membawa misi, desain, dan konsekuensi. Hal ini menjadi dasar dari kekhawatiran terhadap penggunaan algoritma dalam memengaruhi perilaku manusia secara sistematis.

Tantangan Hukum yang Dihadapi

  1. Kausalitas Hukum

    Membuktikan bahwa algoritma secara langsung menyebabkan kekerasan atau bunuh diri memang sulit. Perusahaan teknologi seringkali menunjuk pada “kehendak bebas” korban atau pelaku sebagai intervening cause. Namun, dalam perspektif psikologi dan neurosains, algoritma yang dirancang dengan teknik behavioral reinforcement telah secara sistematis menghilangkan kemampuan rasionalitas pengguna secara bertahap.

  2. Status Subjek Hukum

    Algoritma tidak memiliki status sebagai subjek hukum. Menurut Prof Harris, algoritma bukan badan hukum maupun manusia. Dalam ranah gugatan perdata, class action membutuhkan pihak yang digugat. Tanpa adanya konstruksi yuridis yang memandang algoritma sebagai “produk” yang cacat (product defect), maka korban hanya bisa meratapi kerugiannya tanpa keadilan restitutif.

  3. Yurisdiksi

    Platform global sering kali berada di luar jangkauan hukum nasional negara berkembang. Meskipun ada niat untuk menggugat, eksekusi putusan menjadi utopia.

Perbedaan Algoritma dengan Tradisi Hukum Perdata

Prof Harris menjelaskan bahwa algoritma berbeda dengan tradisi hukum perdata yang terbiasa dengan subjek hukum jelas. Ia mencontohkan, seperti perusahaan rokok yang bisa digugat apabila menyebabkan kerugian kepada korbannya. Namun, algoritma berbeda. Ia bukan barang atau produk dalam arti klasik. Ia adalah kode, sistem, atau black box yang terus berkembang secara dinamis.

Ia pun mempertanyakan, siapa yang dimintain pertanggungjawaban bilamana sebuah algoritma di media sosial memacu seseorang untuk melakukan kekerasan dalam rumah tangga setelah terpapar konten misoginis secara masif, atau mendorong seorang remaja menuju konten pro-anorexia hingga bunuh diri.

Langkah yang Bisa Ditempuh

Prof Harris mengutarakan beberapa langkah yang bisa ditempuh untuk menghadapi algoritma. Pertama, memperluas interpretasi kealpaan berat (gross negligence) dalam hukum perdata. Jika sebuah platform mengetahui bahwa desain algoritmanya berpotensi menciptakan polarisasi ekstrem atau memicu kekerasan, namun tetap mengedepankan engagement demi keuntungan, maka platform tersebut telah melakukan kealpaan yang menimbulkan kerugian massal.

Selain itu, pentingnya merekonseptualisasi algoritma sebagai produk dalam ranah product liability. Meskipun algoritma tidak berwujud fisik, ia adalah komoditas yang didistribusikan, dijual dalam bentuk perhatian pengguna atau attention economy, dan memiliki cacat desain (design defect) yang mematikan. Gugatan class action dapat diarahkan kepada korporasi di balik algoritma tersebut dengan menggunakan teori design defect layaknya gugatan terhadap produk berbahaya.

Dengan demikian, tegas Prof Harris, menggugat algoritma bukanlah upaya untuk menghambat inovasi atau menyalahkan teknologi semata. Ia memastikan, langkah ini adalah upaya untuk mengembalikan hukum pada fungsinya yang paling hakiki: Memberikan keadilan bagi korban dan menciptakan keadilan sosial.

Saatnya hukum hadir sebagai panglima di ruang siber, memastikan bahwa inovasi teknologi selaras dengan martabat manusia dan nilai-nilai keadilan.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Huawei Klaim Xinghe Tingkatkan Kecepatan AI 20 Persen

25 Agustus 2026

30 Soal UH IPS Kelas 9 SMP Tema 2 Ekonomi Digital Kurikulum Merdeka 2026

25 Agustus 2026

Rekomendasi laptop 2026 untuk mahasiswa, harga Rp5-10 jutaan

25 Agustus 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

27 September 2026

Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

16 September 2026

6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

16 September 2026

PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

16 September 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?