Pasar Motuba Solo Raya, Tempat Berkumpulnya Pecinta Mobil Lawas
Pasar Motuba Solo Raya menjadi tempat yang sangat diminati oleh para penggemar mobil klasik di Kartasura, Sukoharjo. Acara ini menawarkan pengalaman nostalgia yang tidak tergantikan bagi banyak orang. Salah satu pengunjung, Sevi, datang bersama istrinya dan dua anaknya untuk menikmati suasana yang penuh dengan kesan masa lalu.
Sevi mengaku senang dengan mobil-mobil yang dirilis sebelum tahun 2000. Ia menjelaskan bahwa acara ini memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk melihat dan membeli mobil-mobil tua yang masih dalam kondisi baik. Selain itu, acara ini juga menjadi ajang berkumpul bagi para pecinta otomotif, termasuk keluarga Sevi.
Anak pertama Sevi, yang masih berusia sembilan tahun, ternyata memiliki ketertarikan pada mobil BMW. Hal ini menunjukkan bahwa minat terhadap mobil klasik bisa muncul dari usia dini. Dwi, istri Sevi, menyebutkan bahwa putra sulung mereka sangat menyukai mobil dari pabrikan BMW. Menurut Dwi, ketika putranya sudah SMA nanti, ia akan meminta mobil BMW sebagai hadiah.
Bagi Sevi dan Dwi, motuba bukan hanya sekadar kendaraan, tetapi juga hiburan dan sarana untuk menambah wawasan tentang mobil-mobil lawas. Mereka juga sering menghadiri acara-acara otomotif lain seperti Black Xperience, salah satu event modifikasi otomotif besar di Indonesia.
Impian Keluarga Sevi dan Dwi
Sevi memiliki impian untuk memiliki mobil legendaris seperti Nissan Fairlady (S30 series tahun 70an) dan Nissan GTR R32. Kedua mobil tersebut dianggap sebagai ikon dalam dunia otomotif. Sementara itu, Dwi lebih tertarik pada mobil Jerman, khususnya VW. Ia ingin memiliki mobil yang cocok digunakan untuk liburan.
Putra sulung Sevi dan Dwi juga tampaknya telah menjadi penggemar mobil BMW sejak kecil. Menurut Dwi, putranya akan meminta mobil BMW ketika sudah masuk SMA. Hal ini menunjukkan bahwa antusiasme terhadap mobil klasik dapat diturunkan dari orang tua ke anak-anak.
Ajang Nostalgia dan Kolaborasi
Ginanjar, inisiator Pasar Motuba Solo Raya, menjelaskan bahwa acara ini dibuat tidak hanya untuk menjembatani antara penjual dan pembeli, tetapi juga sebagai ajang nostalgia. Ia mengatakan bahwa banyak orang yang pernah ingin memiliki mobil yang dirilis di bawah tahun 2000, tetapi belum sempat memilikinya. Di Pasar Motuba Solo Raya, mereka bisa menemukan mobil impian mereka.
“Jadi, mungkin dulunya pernah pingin punya Toyota Crown (yang rilis di tahun 90an), pingin punya Suzuki Katana, tapi waktu itu belum jumpa, di sini diharapkan mereka bisa menemukan mobil impiannya,” ujarnya.
Ginanjar juga bekerja sama dengan Widodo Teguh atau akrab disapa Om Wid, pendiri bengkel modifikasi off-road ProRock Engineering dan pemilik museum Making Cars. Kolaborasi ini bertujuan untuk memperkuat acara pasar mobil tua.
Potensi Ekonomi dan UMKM
Acara Pasar Motuba Solo Raya dibuka untuk umum dan semua umur. Ginanjar berharap acara ini dapat menjadi alat untuk memutar roda ekonomi, khususnya di dunia otomotif. Ia berharap acara ini dapat memberikan semangat kepada teman-teman untuk berkembang dalam bisnis otomotif dan UMKM.
Dengan adanya acara ini, masyarakat memiliki kesempatan untuk menemukan mobil impian mereka, sekaligus mendukung perekonomian lokal. Acara ini juga menjadi ajang untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam dunia otomotif.



