Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Jumat, 29 Mei 2026
Trending
  • 5 Warna Cat Pintu Kayu Minimalis yang Menarik dan Modern
  • Upaya Membangun Kepercayaan Diri Anak Melalui Matematika dan Seni
  • Honda CR-V 2026 Siap Mendominasi Pasar SUV, Varian Hybrid Jadi Favorit Utama
  • Pemerintah: AI Bukan Pengganti Manusia dalam Ciptakan Karya
  • Jaringan Transmisi Sumatra Jadi Sorotan Pasca Blackout, Ini Jawaban PLN
  • Alasan Sebenarnya Priyo, Terdakwa Pembunuhan Keluarga Haji Sahroni, Minta Jadi Saksi Keadilan
  • Kasus Pemalsuan Riset, LPDP Akui Prihantini Lulusan 2022
  • Pesan menyentuh Marc Klok untuk Bojan Hodak usai hengkang dari Persib
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Jaringan Transmisi Sumatra Jadi Sorotan Pasca Blackout, Ini Jawaban PLN
Ekonomi

Jaringan Transmisi Sumatra Jadi Sorotan Pasca Blackout, Ini Jawaban PLN

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover29 Mei 2026Tidak ada komentar5 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Peran Jaringan Transmisi dalam Meningkatkan Keandalan Sistem Kelistrikan Sumatra

Pemadaman listrik dalam skala besar yang melanda wilayah Sumatra telah menjadi perhatian serius terhadap keandalan jaringan transmisi PT PLN (Persero). Berbagai pihak menuntut agar perusahaan pelat merah ini segera memperkuat sistem dan jaringan transmisi di wilayah tersebut. Executive Vice President Komunikasi Korporat & Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan PLN, Gregorius Adi Trianto, menyatakan bahwa PLN terus melakukan evaluasi menyeluruh, pengembangan berkelanjutan, serta mempercepat penguatan sistem kelistrikan di Sumatra.

Strategi PLN berfokus pada pengembangan tulang punggung (backbone) sistem kelistrikan Sumatra melalui penguatan jaringan transmisi 150 kilovolt (kV), 275 kV, hingga 500 kV sesuai dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. Pengembangan backbone ini bertujuan menghubungkan pusat-pusat pembangkit besar di berbagai provinsi ke dalam satu sistem interkoneksi Sumatra agar lebih kuat dan fleksibel.

“Dengan sistem interkoneksi yang semakin terhubung, maka kemampuan transfer daya antarwilayah akan meningkat dan masing-masing subsistem di tiap provinsi dapat saling menopang ketika terjadi gangguan,” kata Greg saat dihubungi.

Pengembangan Jaringan Transmisi untuk Meningkatkan Keandalan

Jaringan 150 kV berperan sebagai tulang punggung penyaluran daya ke pusat-pusat beban utama dan ibu kota provinsi di Sumatra. Pengembangan jaringan 150 kV ini difokuskan untuk memperkuat pasokan dan keandalan kota besar. Jaringan 275 kV difungsikan sebagai backbone interkoneksi koridor barat dan timur Sumatra yang mendukung transfer daya antar subsistem serta memperkuat keandalan regional. Jaringan ini juga menjadi jalur penting untuk mengevakuasi potensi Energi Baru dan Terbarukan (EBT) di Sumatra Bagian Utara.

Sedangkan jaringan 500 kV dikembangkan sebagai backbone utama Sistem Interkoneksi Sumatra di koridor timur untuk penyaluran daya skala besar antar daerah dengan efisiensi tinggi. Infrastruktur ini memperkuat stabilitas sistem dari Sumatra Selatan hingga Sumatra Utara, serta menjadi jalur utama integrasi EBT di masa depan.

Greg mengungkapkan bahwa saat ini sebagian jalur backbone 275 kV maupun 500 kV di Sumatra telah beroperasi dan menjadi bagian penting dalam sistem interkoneksi Sumatra. “Sejumlah infrastruktur lainnya masih berjalan secara bertahap sesuai tahapan konstruksi dan kesiapan sistem,” ungkap Greg.

Proyek Transmisi 500 kV Paket III Sumatra

Greg pun membeberkan kelanjutan proyek transmisi 500 kV Paket III Sumatra untuk jalur Muara Enim–Perawang. Dia menyatakan, saat ini pekerjaan tetap dilanjutkan oleh PLN. Beberapa bagian jalur sebelumnya telah selesai dan beroperasi, sementara sebagian lainnya masih dalam proses penyelesaian secara bertahap. “PLN memastikan infrastruktur strategis ini tetap menjadi bagian penting dalam pengembangan backbone kelistrikan Sumatra guna mendukung peningkatan keandalan sistem interkoneksi Sumatra secara keseluruhan,” kata Greg.

Dia menambahkan, jaringan transmisi dikembangkan untuk memperkuat sistem kelistrikan lokal dan regional. Khususnya dalam mendukung program dedieselisasi, integrasi pembangkit baru skala kecil-menengah, meningkatkan keandalan sistem, pengurangan bottleneck penyaluran, perbaikan kualitas tegangan, serta fleksibilitas operasi di wilayah tersebar.

Di sisi lain, Greg menyatakan bahwa pengembangan jaringan transmisi tersebut akan didukung implementasi jaringan tenaga listrik cerdas (smart grid) secara bertahap sesuai roadmap RUPTL 2025–2034. Program ini dilakukan melalui modernisasi sistem distribusi, digitalisasi operasi jaringan, hingga penguatan monitoring dan kendali sistem secara real time.

Tantangan dan Solusi untuk Memperkuat Jaringan Kelistrikan

Pasca blackout yang melanda Sumatra pada akhir pekan lalu, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Unsur Pemangku Kepentingan dari Kalangan Konsumen, Muhammad Kholid Syeirazi menyoroti kerentanan sistem interkoneksi Sumatra. Terutama pada transmisi backbone, proteksi sistem, dan kemampuan isolasi gangguan agar tidak menjalar menjadi blackout regional. Kholid menduga, blackout Sumatra bukan semata hanya karena faktor cuaca, melainkan ada persoalan struktural dari sisi keandalan sistem jaringan kelistrikan.

Sementara itu, Anggota DEN Unsur Pemangku Kepentingan dari Kalangan Industri, Satya Widya Yudha, memberikan tiga catatan untuk memperkuat jaringan kelistrikan di Sumatra agar blackout tidak berulang kembali. Pertama, menyelesaikan jaringan backbone 500 kV atau yang juga dikenal sebagai proyek “tol listrik” Sumatra. RUPTL 2025-2034 sudah merencanakan pembangunan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV koridor timur yang membentang dari Sumatra Selatan (Muara Enim) hingga Sumatra Utara (Galang).

Kedua, DEN mendorong penambahan gardu induk dan transformator daya di titik-titik yang berpotensi menyebabkan kemacetan aliran listrik (bottleneck). Hal ini penting untuk memenuhi kriteria keandalan “N-1”: jika satu sirkuit padam, sirkuit lain masih mampu menanggung beban. Ketiga, Satya menekankan pentingnya interkoneksi ke Batam. Interkoneksi 500 kV dari Sumatra ke Batam yang juga telah direncanakan dalam RUPTL akan memperkuat sistem Sumatra secara keseluruhan dan membuka peluang pengembangan listrik EBT.

Energy Finance Specialist Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) Indonesia, Randi Bachtiar turut menyoroti bahwa dalam RUPTL 2021–2030 maupun RUPTL 2025–2034 PLN sudah menempatkan backbone 500 kV Sumatra sebagai proyek strategis. Tetapi sebagian proyek masih mengalami keterlambatan, reroute, penyesuaian operasi komersial, hingga pengadaan ulang, sementara penyelesaiannya terus bergeser. Randi menegaskan, percepatan backbone 500 kV dan penguatan redundansi sistem menjadi sangat penting untuk mengurangi ketergantungan pada koridor kritikal tertentu.

Chief Executive Officer Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa punya catatan serupa. IESR mendesak PLN mempercepat penguatan jaringan transmisi dan distribusi listrik. Termasuk peningkatan redundansi sistem, modernisasi proteksi grid, pengembangan smart grid, serta investasi pada sistem pengendalian dan fleksibilitas jaringan. Kebutuhan terhadap sistem transmisi dan distribusi yang kuat, fleksibel, dan resilien semakin penting seiring meningkatnya elektrifikasi sektor transportasi dan industri, pertumbuhan pusat data, serta penetrasi energi terbarukan.

Di sisi lain, IESR mengimbau agar masyarakat, khususnya konsumen segmen residensial dan bisnis mulai menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap yang didukung Battery Energy Storage System (BESS). Kombinasi tersebut dapat membantu meningkatkan ketahanan pasokan listrik pelanggan serta mengurangi kerugian akibat pemadaman. Apalagi, biaya penggunaan genset saat ini akan membengkak seiring dengan lonjakan harga solar. “(Biaya) PLTS dan BESS sudah semakin terjangkau, hitungan kami cukup kompetitif dibandingkan dengan menjalankan diesel dan gas. Penggunaan PLTS Atap dan BESS juga mengurangi risiko kerugian ekonomi yang lebih besar saat terjadi pemadaman dalam jangka waktu lama,” ungkap Fabby.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Amelia Lulus Terbaik Sambil Bekerja Hingga Subuh di UIN Walisongo

29 Mei 2026

AI dan DSI Gantikan Bea Cukai, Ekonom Kritik Keras

29 Mei 2026

Pemidanaan kebijakan wajib cek ‘mens rea’, bukan hanya kerugian negara

29 Mei 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

5 Warna Cat Pintu Kayu Minimalis yang Menarik dan Modern

29 Mei 2026

Upaya Membangun Kepercayaan Diri Anak Melalui Matematika dan Seni

29 Mei 2026

Honda CR-V 2026 Siap Mendominasi Pasar SUV, Varian Hybrid Jadi Favorit Utama

29 Mei 2026

Pemerintah: AI Bukan Pengganti Manusia dalam Ciptakan Karya

29 Mei 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?