Peran Jusuf Kalla dalam Karier Politik Jokowi

Jusuf Kalla (JK), yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, mengungkapkan rasa kesalnya terhadap pihak-pihak yang sering menyebarkan fitnah mengenai hubungannya dengan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi). Dalam situasi di mana isu-isu tentang ijazah Jokowi sedang menjadi sorotan, JK menegaskan kembali peran pentingnya dalam membawa Jokowi ke panggung politik nasional.
“Saya ingin semua tahu bahwa Jokowi bisa jadi Presiden karena saya. Setuju? Setuju. Tanpa gubernur mana bisa jadi presiden?” tegas JK secara lugas saat berbicara dalam media briefing di kediamannya, Jakarta Selatan, pada Sabtu (18/4).
Sejarah Politik yang Tidak Terlupakan
JK mengingatkan kembali bagaimana ia secara langsung memengaruhi keputusan Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), untuk mendukung Jokowi sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta. Keberhasilan Jokowi di ibu kota, menurut JK, menjadi batu loncatan yang membawanya ke kursi kepresidenan. Bahkan, dalam Pemilihan Umum 2014, JK menyebut posisinya sebagai Wakil Presiden adalah permintaan langsung dari Megawati untuk mendampingi Jokowi.
Pernyataan ini kemudian mendapat respons beragam dari berbagai pihak. Berikut beberapa tanggapan yang muncul:
Ahmad Ali: Pak JK Terlalu Emosional
Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ahmad Ali, menilai pernyataan JK terlalu emosional. Ia menekankan bahwa kemenangan Pilpres 2014 adalah hasil kerja kolektif dari pasangan calon, tim sukses, dan partai politik.
“Tidak tepat kalau Pak JK mengeklaim dirinya sebagai satu-satunya faktor yang membuat Jokowi bisa menang. Ini kerja sama antara pasangan calon dan tim sukses serta partai politik,” ujarnya.
Menurut dia, Jokowi dan JK bekerja bersama secara kolektif. Oleh karena itu, ia menilai tidak tepat jika kemenangan tersebut diklaim hanya berasal dari satu pihak.
Juru Bicara JK Membantah
Juru bicara JK, Husein Abdullah, membantah pernyataan Ahmad Ali. Ia menjelaskan bahwa nada tinggi yang digunakan JK bukan karena emosi, melainkan respons terhadap narasi yang berkembang di kalangan pendukung Jokowi.
“Pak JK menyampaikan pernyataan dalam nada tinggi karena pendukung Jokowi sering menyarankan bahwa JK tidak tahu balas budi padahal sudah diangkat sebagai Wapres oleh Jokowi,” ujarnya.
Golkar: Tak Ada Faktor Tunggal
Sekretaris Jenderal Partai Golkar Sarmuji menilai bahwa kemenangan dalam politik tidak ditentukan oleh satu faktor saja, melainkan banyak unsur yang saling menopang.
“Di dunia ini enggak ada yang terjadi karena faktor tunggal,” kata Sarmuji. Ia mengakui bahwa JK mungkin memiliki peran dalam kemenangan Jokowi pada Pilpres 2014, tetapi menurutnya, ada banyak pihak lain yang juga berkontribusi.
Hensat: Wajar, Karena Tidak Seharusnya Membesar
Analis politik KedaiKOPI Hendri Satrio (Hensat) menilai reaksi JK terhadap kelompok relawan pendukung Jokowi, Termul, merupakan hal yang wajar. Menurutnya, reaksi JK muncul di tengah tuduhan yang menyerangnya terkait polemik ijazah Jokowi.
“Nah, terkait kemudian JK marah terhadap tuduhan Termul dan mengatakan bahwa dalam proses menjadi Presiden, JK juga memiliki andil, menurut saya ya wajar saja karena tidak seharusnya persoalan ini kemudian menjadi membesar begitu ya,” ujarnya.
Hensat menekankan pentingnya sikap proporsional dari para relawan dalam menyampaikan pendapat di ruang publik. Ia mengingatkan bahwa JK juga merupakan tokoh bangsa yang harus dihormati.
Pengamat Politik UIN: Publik Bingung, Biar Hukum Ungkap Semuanya
Pengamat politik sekaligus dosen Ilmu Politik FISIP UIN Jakarta, Adi Prayitno, menilai polemik yang menyeret nama JK dalam isu ijazah Jokowi semakin melebar dan membingungkan publik. Ia meminta seluruh pihak sebaiknya menyerahkan persoalan tersebut ke proses hukum agar fakta yang sebenarnya bisa terungkap secara jelas.
“Asal muasal Pak JK dikaitkan dengan ijazah karena ada tudingan yang mengarah fitnah ke JK yang dinilai ikut mendanai soal ijazah. JK merasa difitnah, merasa disudutkan, karena itulah JK lapor ke pihak berwajib. Biarkan hukum ungkap semuanya supaya terang benderang soal ini semua,” ujarnya.
Grace Natalie: Kemenangan Ditentukan Dukungan Rakyat
Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie menilai bahwa dalam kontestasi politik terdapat banyak elemen yang saling memengaruhi.
“Siapa pun yang pernah ikut kontestasi pemilihan pasti tahu bahwa banyak elemen yang saling mempengaruhi,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa elemen dalam kontestasi politik meliputi elektabilitas calon, tim sukses, hingga dukungan partai politik. Namun, faktor paling menentukan tetap dukungan masyarakat.
Sahroni Prihatin: Enggak Guna Buat Gaduh Seperti Ini
Bendahara Umum NasDem Ahmad Sahroni mengaku prihatin karena masalah ini merembet ke mana-mana sampai berujung laporan polisi. Ia menilai, tidak ada gunanya membuat kegaduhan dalam situasi seperti sekarang, terlebih geopolitik tidak menentu.
“Enggak guna buat gaduh seperti ini dengan hanya memotong-motong pidato seseorang,” ujarnya.
Sahroni menuturkan, awal masalah ini memanjang imbas ceramah JK di UGM dipotong. Ia menekankan, sebaliknya pihak-pihak yang melaporkan JK ke polisi, mencabut laporannya karena sudah ada penjelasan resmi dari JK.









