Kombes Pol Artanto, Sosok Polisi yang Humanis dan Peduli
Di balik tampilan profesionalnya sebagai Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Artanto memiliki sisi lain yang menarik untuk diketahui. Ia dikenal sebagai sosok yang dekat dengan masyarakat, seorang kepala keluarga yang hangat, serta penyayang hewan. Salah satu bukti kepedulian tersebut adalah perhatiannya terhadap anjing peliharaannya, Danger, seekor anjing ras Cane Corso.
Artanto tidak hanya memelihara Danger sebagai hewan peliharaan biasa. Ia terlibat langsung dalam berbagai proses perawatan, mulai dari memandikan, menyikat gigi, membersihkan telinga, hingga memberi makan secara langsung. Dalam beberapa unggahan media sosialnya, ia juga terlihat melatih kepatuhan dan fokus Danger, mengajaknya berolahraga menggunakan treadmill, berenang di kolam khusus, hingga sekadar bersantai bersama.
Dalam salah satu video, Artanto bahkan terlihat memijat tubuh Danger setelah beraktivitas. Anjing besar itu tampak rileks sambil memejamkan mata menikmati pijatan dari tuannya. Kedekatan ini juga terlihat saat Artanto mengajak Danger bepergian ke luar kota. Dalam unggahan terbaru, Danger tampak ikut menemaninya berlibur ke Yogyakarta.
Selain menjaga hubungan dengan hewan kesayangannya, Artanto juga dikenal gemar menjaga kebugaran fisik. Ia rutin berenang dan berlatih menyelam. Dalam satu video, kemampuannya melintasi kolam sepanjang 50 meter di bawah air ditampilkan dengan tenang dan percaya diri.
Pandangan tentang Sosok Polisi Ideal
Di tengah kesibukannya sebagai pejabat utama Polda Jateng, Artanto memiliki pandangan tersendiri tentang sosok polisi ideal. Menurutnya, polisi yang humanis adalah mereka yang dekat dengan masyarakat, mendengarkan, melayani, dan memberi solusi. Prinsip ini bukan sekadar slogan, tetapi menjadi pedoman dalam perjalanan karirnya.
Sebagai alumnus Akpol 1994, Artanto aktif membangun komunikasi dengan masyarakat dan media. Sebelum menjabat Kabid Humas Polda Jawa Tengah sejak Juni 2024, ia pernah mengemban berbagai tugas di sejumlah wilayah Indonesia, mulai dari Timor Timur, Aceh, Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga Kalimantan Timur.
Pengalamannya di bidang kehumasan membuatnya dikenal responsif dalam memberikan klarifikasi terhadap isu-isu yang berkembang di masyarakat. Ia juga kerap mengingatkan generasi muda agar bijak menggunakan media sosial dan tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Aksi Heroik di Perlintasan Kereta Api
Nilai humanis yang diyakini Artanto juga pernah dia buktikan sendiri. Pada 13 Januari 2026, ia sedang menjalankan tugas dinas dan berhenti di perlintasan kereta api (KA) Jalan Madukoro Raya karena palang pintu akan ditutup. Saat menunggu kereta melintas, perhatiannya tertuju pada sebuah mobil minibus bertuliskan “Belajar Mengemudi” yang mendadak mogok tepat di atas rel.
Pengemudi yang sedang menjalani latihan mengemudi diduga panik sehingga kendaraan tidak dapat bergerak. Situasi menjadi kritis karena kereta api sudah akan melintas. Situasi itu juga terekam CCTV hingga viral. Tampak Artanto bersama pengemudi mobil dinasnya turun dan berlari menuju lokasi.
Bersama sejumlah warga, mereka mendorong kendaraan tersebut keluar dari jalur rel. Upaya itu berhasil. Mobil akhirnya dipindahkan sekitar 20 detik sebelum kereta melintas. Rekaman CCTV yang beredar memperlihatkan detik-detik menegangkan ketika warga dan seorang polisi berlari membantu mendorong mobil keluar dari rel. Polisi tersebut kemudian diketahui adalah Kombes Pol Artanto.
Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu. Namun aksi spontan tersebut menuai apresiasi dari warga dan petugas perlintasan karena berhasil mencegah potensi kecelakaan fatal. Artanto menyebut, tindakan itu merupakan bentuk kepedulian yang seharusnya dimiliki setiap orang.
“Perlintasan kereta api adalah titik rawan yang membutuhkan kewaspadaan penuh. Pengendara harus memastikan kondisi kendaraan prima dan tetap tenang agar tidak terjadi situasi yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain,” imbuhnya.



