Identitas Keempat Terdakwa Dalam Berkas Perkara
IDN Times sempat melihat bagian depan dari berkas perkara yang diserahkan ke pengadilan militer. Di bagian depan berkas itu tertulis nama keempat terdakwa. Identitas keempatnya yakni Sersan Dua Mar Edi Sudarko (ES), Letnan Satu Budhi Hariyanto Widhi Cahyono (BHW), Kapten Nandala Dwi Prasetia (NDP), dan Letnan Satu Pas Sami Lakka (SL).
Kepala Oditur Militer Tinggi II Jakarta, Kolonel Corps Hukum (Chk) Andri Wijaya enggan berkomentar soal identitas keempat terdakwa. Ia hanya menyebut detail informasinya akan dipaparkan di ruang sidang.
Identitas keempat terdakwa tak sepenuhnya selaras dengan pemaparan yang disampaikan kuasa hukum Andrie Yunus, yang diberi nama Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD). Tim investigasi independen yang membantu TAUD menyebut, di dalam potongan rekaman CCTV terdapat individu lain yang bernama Muhammad Akbar Kuddus.
Muhammad Akbar berasal dari satuan TNI Angkatan Laut (AL). Tim investigasi independen menemukan kecocokan wajah Akbar di media sosial, dan yang terekam di kamera CCTV ketika aksi penyiraman air keras terjadi.
“Muhammad Akbar Kuddus juga merupakan seorang perwira TNI. Foto-fotonya kami kumpulkan dari sumber terbuka di media sosial,” ujar anggota tim investigasi independen, Ravio Patra, ketika memberikan keterangan, Kamis, 9 April 2026.
Sidang Perdana Keempat Anggota TNI Digelar Rabu 29 April 2026

Sementara, Kepala Pengadilan Militer II-08 Jakarta, Kolonel Corps Hukum (Chk) Freddy Ferdian Isnartanto mengatakan, sidang perdana empat anggota TNI penyiram air keras terhadap Andrie Yunus akan digelar pada Rabu, 29 April 2026 mulai pukul 09.00 WIB.
Alokasi waktu dipilih Rabu, agar tidak berbenturan dengan sidang kasus pembunuhan Kepala Cabang BRI yang melibatkan tiga anggota Kopassus TNI Angkatan Darat (AD) sebagai terdakwa.
Selain itu, mereka memiliki prosedur untuk menggelar sidang 10 hari usai berkas perkara didaftarkan. Dia memperkirakan bila dihitung hari ini hingga 10 hari ke depan, maka semula jadwal sidang perdana digelar pada Senin, 27 April 2026.
“Kalau sekarang tanggal 16 (April), berarti besok tanggal 17 (April). Kami akan mendaftar pada 17 April. Berarti 10 hari ke depan, 27 April. Tapi kami lihat perkembangan sidang karena Senin itu ada persidangan pembunuhan Kacab BRI, sehingga kami mungkin mempertimbangkan di Rabu,” ujar Freddy di pengadilan militer, Jakarta Timur.
Empat Anggota TNI Hanya Dijerat Pasal Penganiayaan Berat

Di forum itu, Kepala Oditurat Militer II-07 Jakarta, Kolonel Corps Hukum (Chk) Andri Wijaya mengatakan, pihaknya menjerat empat anggota TNI dengan pasal berlapis. Namun, dakwaan primer menggunakan Pasal 469 ayat (1) jo Pasal 20 huruf C Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023, mengenai Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) terkait penganiayaan berat.
“Ancaman pidana penjara maksimal 12 tahun,” ujar Andri ketika memberikan keterangan di Pengadilan Militer, Jakarta Timur, Kamis, 16 April 2026.
Selain itu, oditur militer juga menggunakan Pasal 448 ayat (1) jo Pasal 20 huruf C dengan ancaman pidana penjara maksimal delapan tahun untuk dakwaan subsider. Kemudian, oditur militer juga mengenakan Pasal 467 ayat (1) jo ayat (2) jo Pasal 20 huruf C dengan ancaman hukuman bui maksimal tujuh tahun.
Pasal yang didakwakan kepada empat anggota TNI berbeda dari harapan Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD). Mereka menilai penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus merupakan perbuatan yang terstruktur dan terorganisir. Sehingga pelaku lapangan tak hanya berjumlah empat orang.
Berdasarkan penelusuran tim investigasi independen TAUD, setidaknya ada 16 orang yang terlibat dalam aksi penyiraman air keras pada Kamis, 12 Maret 2026 di Salemba, Jakarta Pusat.
Anggota TAUD, Afif Abdul Qoyyim, mengatakan berdasarkan skenario peristiwa pada 12 Maret 2026, maka konstruksi tindakannya masuk upaya pembunuhan berencana. Mereka melaporkan ke Bareskrim Mabes Polri pada Rabu, 8 April 2026 dengan Pasal 459 juncto Pasal 17 juncto Pasal 20 KUHP.
Mereka juga menggunakan pasal dugaan tindak terorisme terstruktur sesuai dengan Pasal 600, Pasal 601, Pasal 602 KUHP. TAUD mengikuti janji Presiden Prabowo Subianto yang menyebut aksi penyiraman air keras yang dialami Andrie Yunus merupakan tindakan terorisme.



