Kembali Bekerja, Namun Ekonomi Masih Suram
Warga Iran mulai kembali bekerja pada pekan ini setelah jeda pertempuran yang memberikan waktu sementara dari serangan Amerika Serikat dan Israel. Meski begitu, prospek ekonomi masih suram bagi sebagian besar masyarakat.
Di Grand Bazaar Teheran, pusat perdagangan ibu kota, lebih banyak toko buka dan beroperasi lebih lama pada Sabtu, hari pertama pekan kerja, dibandingkan sebelum gencatan senjata yang diumumkan pada Rabu. Namun, penjualan tetap lesu dibandingkan periode sebelum perang, menurut para pedagang.
“Ini hampir stagnasi total,” kata seorang pedagang di bagian bazar yang menjual barang logam, alat, dan perlengkapan industri ringan.
“Kami menerima daftar harga baru dari pemasok hari ini, semuanya sekitar 20–30 persen lebih mahal dibandingkan akhir Januari,” ujarnya, seraya menambahkan ketidakpastian kapan dan bagaimana barang baru dapat diimpor akibat perang.
Harga pada Januari juga telah mengalami kenaikan signifikan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya karena terdampak inflasi tinggi yang memburuk setelah gelombang protes nasional. Dalam periode tersebut, ribuan orang dilaporkan tewas dan pemerintah memberlakukan pemadaman internet hampir total selama 20 hari.

Ranger Pakistan berpatroli di jalan sebagai pengamanan menjelang pembicaraan damai antara Iran dan AS, di Hyderabad, Pakistan, 10 April 2026. – (EPA/NADEEM KHAWAR)
Iran kembali menerapkan pembatasan internet hampir total sejak perang dimulai pada 28 Februari. Kondisi ini menghilangkan banyak sumber pendapatan masyarakat yang berupaya bertahan di tengah serangan dan perlambatan ekonomi.
“Saya tidak mengerti mengapa otoritas tidak mempertimbangkan bahwa internet juga merupakan infrastruktur sipil penting, seperti pembangkit listrik yang terancam serangan,” ujar seorang perempuan muda di Teheran.
Perempuan tersebut merupakan pengajar bahasa Inggris daring yang sebelumnya menggunakan Google Meet, namun kini terpaksa beralih ke platform lokal milik pemerintah yang berbasis intranet sederhana.
Ia menilai layanan pesan dan platform lokal tersebut tidak aman dari sisi keamanan dan enkripsi data. Selain itu, aksesnya terbatas hanya bagi pengguna dengan protokol internet (IP) Iran, sehingga siswa dari luar negeri tidak dapat terhubung.
Pedagang di Grand Bazaar juga menyebut penjualan daring mereka hampir nol karena pelanggan kesulitan mengakses situs mereka akibat pembatasan internet.
Pemerintah Presiden Masoud Pezeshkian, yang sebelumnya berjanji melonggarkan pembatasan internet, menyatakan pembatasan tetap diberlakukan karena alasan keamanan.
Menteri Teknologi Informasi dan Komunikasi Sattar Hashemi menyatakan pemerintah akan memberikan dukungan terbatas kepada sejumlah pelaku usaha digital, termasuk pinjaman dan akses internet yang lebih baik. Namun, belum jelas bagaimana nasib pelaku usaha lain yang tidak mendapat dukungan tersebut.
Sejumlah operator telekomunikasi juga mulai memperkenalkan konsep “Internet Pro”, sebagai bagian dari rencana jangka panjang pemerintah untuk menerapkan sistem internet berlapis dengan tingkat akses berbeda bagi masyarakat.
Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja
Kondisi ekonomi Iran berpotensi semakin memburuk seiring dampak serangan terhadap infrastruktur sipil yang diperkirakan akan terasa dalam beberapa pekan hingga bulan ke depan.
Amerika Serikat dan Israel dilaporkan mengebom berbagai fasilitas penting, termasuk pabrik baja, industri petrokimia, produsen aluminium, bandara, pesawat sipil, pelabuhan, otoritas bea cukai, jembatan, jaringan kereta api, serta fasilitas minyak dan gas.
Proses pemulihan diperkirakan memerlukan waktu bertahun-tahun, bahkan jika perang berakhir saat ini. Hal ini terjadi di tengah tekanan anggaran yang sudah berat sebelum perang, serta belum adanya prospek pencabutan sanksi dari Amerika Serikat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Sementara itu, Iran, Amerika Serikat, dan Israel masih terlibat dalam negosiasi yang dimediasi Pakistan di Islamabad, dengan tuntutan yang saling bertentangan.
Lebih dari 50 ribu tentara AS saat ini berada di kawasan tersebut, disertai kapal induk dan berbagai aset militer lainnya. Washington bahkan mengancam akan melancarkan serangan darat guna menghancurkan fasilitas energi Iran dan membuka kembali Selat Hormuz secara paksa.
Di sisi lain, seluruh sektor ekonomi Iran terdampak kombinasi masalah, mulai dari salah kelola dan korupsi, sanksi internasional, dua konflik besar dalam waktu kurang dari satu tahun, hingga pembatasan internet nasional selama lebih dari dua bulan.
Perusahaan teknologi kini hanya berani menandatangani kontrak jangka pendek, produsen mobil besar melakukan pemutusan hubungan kerja massal, dan banyak jurnalis kehilangan pekerjaan di media pemerintah maupun swasta.
Seorang kritikus gim dan kreator konten dari Teheran mengatakan ia dan banyak lainnya telah kehabisan tabungan. Ia bahkan mencoba menjual peralatan kerja, tetapi sulit mendapatkan pembeli meski dengan harga di bawah pasar.
“Dengan atau tanpa perang, rasanya kami sudah mati sejak lama. Tidak hanya suara kami dibungkam, kami juga harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar,” ujarnya.



