Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Selasa, 28 April 2026
Trending
  • Survei Jakpat: Keamanan dan Harga Jadi Kunci Pemilihan Maskapai
  • Dampak Ekonomi Akibat Demam Berdarah pada Pekerja
  • Kisah di Balik Bagasi Jamaah, Ketelitian Petugas Bandara
  • Hasil Piala FA – Gol Roket Membawa City ke Final Keempat Berturut-turut
  • Pengadaan Fasilitas Museum Marsinah di Nganjuk Diresmikan Prabowo
  • Kekerasan Anak di Jogja: Daycare Little Aresha Tak Berizin
  • Sejarah Mitsubishi Berawal dari Tangan Dingin Iwasaki
  • UI 8.5: Era Baru HP Samsung yang Lebih Cerdas dan Personal
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Dampak Ekonomi Akibat Demam Berdarah pada Pekerja
Nasional

Dampak Ekonomi Akibat Demam Berdarah pada Pekerja

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover28 April 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Angka kematian yang tinggi menunjukkan bahwa penyakit ini tidak hanya menjadi isu kesehatan masyarakat, tetapi juga masalah ekonomi dan sosial yang kompleks. Menurut Fadjar Silalahi, Ketua Tim Kerja Penyakit Akibat Tular Vektor Kementerian Kesehatan, Indonesia menyumbang 17 persen dari total kematian DBD secara global. Hal ini terungkap dalam diskusi bertajuk “SIAP Lawan Dengue” yang digelar pada 23 April 2026 di Jakarta.

Berdasarkan laporan sepanjang tahun 2025, terdapat 121 ribu kasus DBD dengan 673 kematian di Indonesia. Angka ini menjadikan negara kita sebagai peringkat kedua dunia dalam hal fatalitas akibat virus dengue. Di bawah Brasil, Indonesia menghadapi tantangan yang semakin memprihatinkan.

Situasi ini semakin memburuk karena kasus DBD kini lebih banyak menyerang kelompok usia produktif. Fadjar mencatat bahwa rentang usia paling rentan adalah 15 hingga 44 tahun. Pada usia ini, pekerja menjadi sasaran utama penyebaran virus dengue. “Dengue tidak memandang usia, tapi kehilangan produktivitas pada usia kerja setara dengan hilangnya sepuluh tahun kehidupan sehat masyarakat kita,” ujarnya.

Beban Ekonomi di Balik DBD

Bagi dunia usaha, DBD bukan hanya soal izin sakit karyawan. Agustina Puspitasari, Ketua Umum Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia (Perdoki), menjelaskan dampak finansial yang sering kali luput dari pembukuan perusahaan. Selain absensi, fenomena presenteeism atau karyawan tetap bekerja meskipun dalam kondisi tidak bugar juga menjadi ancaman besar bagi performa bisnis.

Biaya pengobatan untuk satu kasus DBD rata-rata mencapai 6 juta rupiah, yang setara dengan dua kali lipat upah minimum nasional. Bagi perusahaan dengan skala 4 ribu karyawan, biaya tersebut bisa mencapai antara 300 juta hingga 500 juta rupiah per tahun. Agustina menambahkan bahwa siklus wabah DBD kini semakin pendek, dari sepuluh tahun menjadi tiga tahun, sehingga ancaman ini akan semakin sering muncul di lingkungan kerja.

Pentingnya Investasi Kesehatan

Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia melihat celah ini sebagai “titik emas intervensi”. Wakil Ketua Komite Tetap Kadin Maika Nurhayati menegaskan bahwa kesehatan pekerja adalah investasi, bukan beban operasional. “Gigitan nyamuk terjadi di jam aktif kerja. Begitu mereka pulang, mereka membawa virus ke keluarga, atau sebaliknya. Tempat kerja sangat strategis untuk memutus rantai penularan ini,” katanya.

Pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan mulai memperketat pengawasan. Direktur Pengujian K3 Kemnaker, M. Yusuf, menegaskan bahwa perlindungan dari bahaya biologis merupakan bagian integral dari Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Ia mendorong perusahaan untuk menjadikan pencegahan DBD sebagai bagian dari tata kelola kelulusan yang berkelanjutan.

Vaksinasi sebagai Langkah Awal

Namun, di atas semua regulasi itu, vaksinasi dianggap sebagai langkah pencegahan paling efektif. Agustina menyebutkan bahwa vaksinasi kini menjadi rekomendasi resmi Perdoki, terutama bagi pekerja di sektor berisiko tinggi seperti konstruksi, perkebunan, dan pertanian. “Vaksinasi adalah wujud tanggung jawab sosial sekaligus cara menjaga reputasi dan keberlangsungan usaha,” kata dia.

Pandangan Raditya Dika

Penulis dan komedian Raditya Dika setuju dengan pentingnya kewaspadaan dini terhadap DBD. Ia memilih untuk menjadi “ribet di awal” daripada harus menghadapi konsekuensi serius di tengah jadwal yang padat. Ia memastikan seluruh anggota keluarganya, termasuk anak-anak, sudah mendapatkan vaksinasi dengue. “Saya cuma takut dua hal: tipes dan DBD. Kalau sudah kena itu, kerjaan pasti batal semua,” katanya.

Radit juga mengenang pengalamannya terkena tipes tahun lalu yang mengharuskannya dirawat selama tiga hari berkat proteksi vaksinasi sebelumnya. “Kalau nggak vaksin, mungkin bisa sebulan pemulihan. Ruginya lebih besar karena banyak pekerjaan yang harus dibatalkan,” katanya.

Bagi Radit, edukasi kesehatan bukan soal menakut-nakuti, melainkan memberikan pemahaman perlindungan diri jangka panjang ke anak-anaknya. Usai mengikuti diskusi sinergi perusahaan ini, ia bahkan mulai mempertimbangkan untuk memfasilitasi vaksinasi bagi tim kerja di bawah naungannya. “Ternyata ada aspek kesehatan yang selama ini banyak yang terlewat. Padahal vaksinasi adalah kunci supaya pekerjaan tetap lancar,” katanya.

Dengan target Zero Dengue Deaths pada 2030, kolaborasi antara regulasi yang ketat dan kesadaran preventif serta dunia usaha menjadi harga mati. Sebab, di balik angka ekonomi dan grafik produktivitas, ada nyawa pekerja yang harus tetap dijaga agar tetap berdaya saing.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Survei Jakpat: Keamanan dan Harga Jadi Kunci Pemilihan Maskapai

28 April 2026

Kisah di Balik Bagasi Jamaah, Ketelitian Petugas Bandara

28 April 2026

Kekerasan Anak di Jogja: Daycare Little Aresha Tak Berizin

28 April 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Survei Jakpat: Keamanan dan Harga Jadi Kunci Pemilihan Maskapai

28 April 2026

Dampak Ekonomi Akibat Demam Berdarah pada Pekerja

28 April 2026

Kisah di Balik Bagasi Jamaah, Ketelitian Petugas Bandara

28 April 2026

Hasil Piala FA – Gol Roket Membawa City ke Final Keempat Berturut-turut

28 April 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?