Rupiah Terus Melemah Akibat Tekanan Global
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami penurunan yang signifikan dalam beberapa hari terakhir. Pada perdagangan Selasa (5/5/2026), rupiah sudah melemah ke posisi Rp17.428 per dolar AS, turun 0,20 persen dibandingkan sehari sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen global berdampak besar terhadap stabilitas mata uang Indonesia.
Faktor Eksternal yang Memicu Pelemahan
Salah satu penyebab utama pelemahan rupiah adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Selat Hormuz memicu kembali ketegangan yang memperburuk situasi pasar. Menurut pengamat ekonomi, Ibrahim Assuaibi, serangan AS terhadap kapal milik Iran menyebabkan banyak korban jiwa dan memicu reaksi dari pihak Iran.
Selain itu, konflik antara Ukraina dan Rusia juga turut berkontribusi pada pelemahan rupiah. Serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia menyebabkan penurunan produksi minyak hingga 10 persen. Hal ini berdampak langsung pada harga minyak dunia, seperti Brent dan WTI, yang mencapai level masing-masing 113,76 dolar AS per barel dan 104,83 dolar AS per barel.
Kenaikan harga minyak ini meningkatkan permintaan terhadap dolar AS karena transaksi internasional masih banyak menggunakan mata uang tersebut. Seiring dengan itu, inflasi di berbagai negara juga mulai naik, sehingga bank sentral di seluruh dunia cenderung meningkatkan suku bunga untuk mengendalikan tekanan inflasi.
Dampak pada Investasi dan Pasar Keuangan
Kenaikan suku bunga yang terjadi akan membuat investor lebih memilih investasi di negara-negara maju seperti AS, karena dinilai lebih aman. Misalnya, obligasi pemerintah AS menjadi pilihan yang lebih menarik dibandingkan investasi di negara berkembang seperti Indonesia.
Ibrahim Assuaibi memprediksi bahwa pelemahan rupiah akan terus berlanjut dalam beberapa hari ke depan. Ia memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah bisa menyentuh level Rp17.550 per dolar AS pada pekan ini jika kondisi tidak segera membaik.
Faktor Internal yang Mempengaruhi Rupiah
Di samping faktor eksternal, ada juga faktor internal yang memengaruhi pelemahan rupiah. Salah satunya adalah kenaikan harga minyak dunia. Pemerintah Indonesia membutuhkan dolar AS dalam jumlah besar untuk membeli minyak impor. Impor minyak Indonesia mencapai 1,5 juta barel per hari, sehingga memerlukan dolar AS dalam jumlah yang sangat besar.
Selain itu, pada kuartal II 2026, banyak perusahaan di Indonesia akan membagikan dividen kepada para pemegang saham. Hal ini juga meningkatkan permintaan terhadap dolar AS, yang semakin memperparah tekanan terhadap rupiah.
Langkah BI untuk Menjaga Stabilitas Rupiah
Bank Indonesia (BI) telah melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Erwin Gunawan Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI, menjelaskan bahwa pergerakan rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga saat ini masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya.
Contohnya, Philippine Peso melemah sebesar 6,58 persen, Thailand Baht melemah 5,04 persen, India Rupee melemah 4,32 persen, dan Chile Peso melemah 4,24 persen. Sementara itu, Indonesia Rupiah melemah 3,65 persen, dan Korea Won melemah 2,29 persen.
BI akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan baik dan menjaga stabilitas nilai tukar sesuai dengan fundamentalnya. Langkah-langkah yang dilakukan termasuk transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder.
Transaksi NDF merupakan kontrak derivatif valuta asing berjangka yang digunakan untuk lindung nilai atau spekulasi mata uang negara berkembang. Sedangkan DNDF adalah instrumen derivatif valas terhadap Rupiah standar yang digunakan untuk lindung nilai risiko nilai tukar di pasar domestik tanpa pertukaran pokok fisik.
Langkah-langkah ini dilakukan secara konsisten untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang terus berlangsung. BI menegaskan komitmen untuk senantiasa hadir di pasar dan mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.



