Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Minggu, 3 Mei 2026
Trending
  • Pedagogi Abad ke-21: Saat Pesantren Thailand Mencetak Founder Startup yang Hafiz
  • Hasil Kejurnas ORADO 2026: Bangka Belitung Juara Senior, Sulawesi Selatan Juara Junior
  • 5 desain pagar stainless terkini untuk tampilan mewah
  • Klasemen Moto3 Moto2 MotoGP Spanyol 2026: Live Streaming, Poin Veda Ega, Mario, Marquez
  • Harga Emas Pegadaian Senin 27 April 2026: Galeri 24, Antam, UBS Stagnan Sejak Sabtu
  • 5 model teralis pintu 2 daun terkini, aman dan indah
  • 5 Zodiak Dengan Ramalan Bintang Sempurna Pada 27 April 2026: Virgo Bawa Keberuntungan
  • Apa Itu Motif Pagar Lisplang? Kenali Pesonanya
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Internasional»Pedagogi Abad ke-21: Saat Pesantren Thailand Mencetak Founder Startup yang Hafiz
Internasional

Pedagogi Abad ke-21: Saat Pesantren Thailand Mencetak Founder Startup yang Hafiz

Redaksi Indonesia DiscoverBy Redaksi Indonesia Discover3 Mei 2026Tidak ada komentar5 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Di tengah gemerlap kuil emas dan dentingan lonceng Buddha yang menggema di seantero Thailand, sekelompok remaja Muslim di wilayah selatan—Pattani, Yala, dan Narathiwat—tengah menempuh perjuangan sunyi untuk mempertahankan jati diri mereka. Sebagai negara “Gajah Putih” dengan 95% penduduk beragama Buddha, Thailand membangun identitas nasionalnya di atas tiga pilar kokoh: kebangsaan, monarki, dan agama Buddha. Kebijakan ini, meski efektif menyatukan bangsa, nyatanya menjadi pedang bermata dua bagi minoritas Muslim Melayu. Diskriminasi sistemik merayap pelan melalui marjinalisasi bahasa Melayu, pembatasan praktik ibadah, hingga lunturnya akar budaya di bawah tekanan asimilasi yang masif.

Karya ilmiah sarat makna yang disusun oleh tim International Conference Santri Mendunia (ICSM) 2026—terdiri dari Maulayya Shalwaa Alfajry Kia, Risman Mulyana, Afra Avifa Ramadani, Anis Nuraini, Harbiah Hilda Amalia, Ibrahim Hikmal Akbar, Aisyah Habibillah, dan Gea Izza Fatin Nafisa—menggali lebih dalam bagaimana institusi pesantren bertransformasi menjadi benteng terakhir sekaligus kekuatan adaptif dalam melawan arus tersebut. Narasi ini mengajak kita membayangkan bagaimana rasanya tumbuh di tanah tempat agama mayoritas bukan sekadar keyakinan pribadi, melainkan fondasi negara. Melalui kebijakan homogenisasi budaya di kurikulum sekolah, media, hingga festival nasional, pemerintah Thailand terus mendorong identitas “Thai-ness” yang berakar kuat pada tradisi Buddha.

Bagi komunitas Muslim di wilayah selatan yang populasinya hanya berkisar 5-10 persen, diskriminasi sering kali muncul secara halus namun sistemik. Hal ini tercermin dari sekolah-sekolah negeri yang minim jam pelajaran agama Islam, pembatasan penggunaan hijab, hingga tekanan untuk mengubah nama Melayu menjadi nama Thai. Sanusi Ulath (2024) menyebut fenomena ini sebagai “Diskriminasi Sistemik” yang didesain secara sengaja. Dampaknya sangat krusial; generasi muda terancam kehilangan identitas Islam mereka dan perlahan digantikan oleh citra “warga Thailand yang baik” sesuai standar mayoritas.

Namun, di tengah tekanan tersebut, pesantren di Thailand Selatan muncul dengan wajah baru yang berbeda dari pondok sederhana pada umumnya. Mereka telah bertransformasi menjadi mesin pertahanan identitas yang canggih. Kurikulum inti yang berbasis Al-Qur’an, Hadis, dan akidah akhlak bukan lagi sekadar hafalan tekstual, melainkan internalisasi nilai ke dalam jiwa para santri. Sebagaimana dicatat oleh Kahfi (2025), ini adalah pembentukan karakter afektif-spiritual yang tangguh agar santri memiliki daya tahan terhadap tekanan asimilasi luar.

Bagian paling menarik dari fenomena ini adalah adaptasi cerdas yang dilakukan pihak pesantren. Mereka tidak menutup diri, melainkan mengintegrasikan pelajaran umum seperti matematika dan sains, kewirausahaan bisnis halal, hingga literasi digital untuk membangun counter-narasi secara daring. Taufikin (2025) memuji langkah ini sebagai “pedagogi Islam abad ke-21” yang berhasil mencetak lulusan hibrida: seorang hafiz yang juga pendiri startup, yang mampu bersaing global tanpa pernah meninggalkan kewajiban salat tepat waktu.

Lebih jauh lagi, pesantren di Pattani berperan vital dalam menjaga memori historis Melayu dengan tetap mengajarkan bahasa Jawi dan mendiskusikan narasi perjuangan antikolonial. Upaya ini membuahkan hasil nyata berupa santri yang memiliki kebanggaan mendalam terhadap identitas Islam sekaligus kompetensi global. Makalah ini pada akhirnya menegaskan bahwa pesantren bukanlah institusi yang stagnan atau kuno, melainkan sebuah “meaning-making space”—ruang pembentuk makna yang melahirkan identitas dinamis bagi Muslim di masa depan.

Pendidikan Islam sering kali dituduh eksklusif, namun realitanya justru sebaliknya. Melalui konsep ta’ayush (hidup harmonis), pesantren menerapkan fiqih moderat yang mengedepankan persamaan di atas perbedaan. Hal ini terlihat dari keterlibatan santri dalam aksi sosial, seperti membersihkan kuil Buddha bersama warga lokal hingga aktif dalam dialog antarbudaya. Studi kasus oleh Sama-alee et al. (2023) di Mueang Pattani menunjukkan bahwa kolaborasi antara pesantren dan sekolah dasar berhasil meningkatkan toleransi dan meredam konflik.
‎
‎Ini membuktikan bahwa pendidikan pesantren tidak memicu separatisme, melainkan menjadi jembatan harmoni dalam masyarakat multikultural Thailand. Kebijakan pemerintah Thailand yang diskriminatif sering kali menganggap pesantren sebagai “hambatan persatuan.”
‎
‎Menanggapi hal itu, pesantren memilih adaptasi fleksibel, alih-alih konfrontasi, meski harus menghadapi tantangan nyata berupa keterbatasan dana, regulasi ketat, hingga marginalisasi. Sathian (2020) mengingatkan bahwa identitas Melayu-Muslim harus dinegosiasikan secara adil, bukan dipaksa hilang.
‎
‎Mengapa Ini Relevan Bagi Kita?
‎
‎Di Indonesia, pesantren adalah raksasa dunia dengan jutaan santri. Belajar dari dinamika di Thailand, pilihannya hanya satu: adaptasi atau tergerus zaman. Di era AI dan TikTok, pesantren harus bertransformasi menjadi “benteng digital”—menjaga iman sekaligus mencetak pemimpin global.Makalah ICSM ini bukan sekadar kajian akademik, melainkan sebuah manifesto: identitas Islam yang kuat tidak berarti isolasi, melainkan kontribusi yang harmonis. Thailand membuktikan bahwa sebagai minoritas pun, komunitas Muslim bisa unggul selama memiliki strategi yang cerdas.
‎
‎Akhirnya, karya ilmiah ini menegaskan bahwa moderasi dan adaptabilitas adalah kunci eksistensi pendidikan Islam di kancah global. Kasus Thailand Selatan memberikan pelajaran berharga bahwa identitas yang kuat justru lahir dari negosiasi dan kontribusi nyata bagi kemanusiaan. Pesantren adalah masa depan dan masa depan itu dimulai dari keberanian untuk beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
‎
‎Karya Ilmiah (Paper) ICSM B5
‎KELOMPOK 4 – SAVOR
‎Disusun Oleh:
‎Maulayya Shalwaa Alfajry Kia
‎Risman Mulyana
‎Afra Avifa Ramadani
‎Anis Nuraini
‎Harbiah Hilda Amalia
‎Ibrahim Hikmal Akbar
‎Aisyah Habibillah
‎Gea Izza Fatin Nafisa
‎
‎Karya Ilmiah lengkap berjudul: “The Role of Pesantren Education in Shaping Islamic Identity of Muslim Youth in Thailand” (ICSM Batch 5, 2026).
‎
‎

Pedagogi Abad ke-21 Pedagogi Abad ke-21: Saat Pesantren Thailand Mencetak Founder Startup yang Hafiz Santri Mendunia
Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Redaksi Indonesia Discover

    Berita Terkait

    Kolaborasi Dindik Jatim dan EMI Fokus Pertukaran Pelajar dan Penguatan SDM Pendidikan

    29 April 2026

    Presiden Pure Earth akan memimpin delegasi tingkat tinggi

    7 Juli 2025

    Kenya Airways & Qatar Airways menandatangani kemitraan strategis yang menarik

    7 Juli 2025
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Pedagogi Abad ke-21: Saat Pesantren Thailand Mencetak Founder Startup yang Hafiz

    3 Mei 2026

    Hasil Kejurnas ORADO 2026: Bangka Belitung Juara Senior, Sulawesi Selatan Juara Junior

    3 Mei 2026

    5 desain pagar stainless terkini untuk tampilan mewah

    3 Mei 2026

    Klasemen Moto3 Moto2 MotoGP Spanyol 2026: Live Streaming, Poin Veda Ega, Mario, Marquez

    3 Mei 2026
    © 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
    • Home
    • Pedoman Media Siber
    • Redaksi
    • PT. Indonesia Discover Multimedia
    • Indeks Berita

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?