Awal Kebiasaan yang Tidak Terduga
Saya sebenarnya suka mencoba banyak hal, tetapi biasanya hanya sampai di tahap bisa saja dan setelah itu lupa atau beralih ke aktivitas lainnya. Mungkin karena bosan atau memang saya tidak terlalu berkomitmen. Namun, semuanya berubah sejak guru SMA-ku memberikan tugas.
Saat kelas 12, saya mendapat tugas praktik agama. Tugas ini mengharuskan kami membuat karya kreativitas yang benar-benar dibuat dari tangan sendiri, atau istilahnya handmade. Awalnya saya bingung harus membuat apa. Ide sebenarnya banyak, tetapi karena terlalu banyak, jadinya saya tidak tahu harus memilih yang mana. Menurut saya, handmade itu identik dengan sesuatu yang sulit dan membutuhkan ketelatenan. Di sisi lain, saya selalu menyukai hal-hal yang terlihat estetik. Saya senang melihat sesuatu yang rapi dan enak dipandang.
Dari situ, saya coba mencari ide yang sekiranya masih bisa saya buat dan tidak terlalu sulit. Akhirnya, saya terpikir untuk mencoba membuat makrame. Makrame adalah hiasan dinding yang terbuat dari benang atau tali rami dengan bentuk rumbai-rumbai dan pola simpul. Memang banyak sekali jenis makrame, bahkan ada yang polanya cukup rumit, tetapi saya memilih pola yang tidak terlalu sulit. Sebenarnya penasaran bagaimana cara membuatnya. Saya pun membeli benang tiga warna yaitu pink, hijau, dan jingga. Mulailah saya mencoba membuat makrame sederhana.
Namun, ternyata saya salah membeli benang. Saya membeli benang katun, padahal makrame seharusnya menggunakan benang atau tali rami. Pada saat itu, saya tidak tahu apa bedanya. Yang saya tahu, makrame terbuat dari benang. Ternyata benang banyak sekali jenisnya. Saya akhirnya mencoba lagi menggunakan tali rami dan akhirnya jadi, lumayan bagus karena bentuknya jelas dan cukup rapi. Tugas selesai, tapi ceritaku tidak berhenti di sini saja, justru ceritaku baru dimulai.
Masalahnya, benang yang salah dibeli masih banyak. Di sinilah, saya mulai mencoba sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terpikirkan sebelumnya, bahkan saya belum pernah mencobanya. Daripada benangnya tidak terpakai, saya mencoba membuat sesuatu. Niatnya sederhana, asal benangnya terpakai. Namun, entah kenapa, saya mencoba bikin tas dari benang dan dirajut. Padahal saya tidak pernah membuatnya dan tidak mengerti pola-pola cara membuatnya. Jujur saja, ini saya lakukan dengan perasaan yakin tidak yakin.
Saya mulai menonton tutorialnya. Ternyata polanya sangat sulit dan kepalaku pusing karena tidak mengerti arti pola itu apa dan cara mengerjakannya. Merajut ternyata jauh lebih sulit dari yang dilihat. Hitungan bolak-balik, jarum masuk ke mana, benang tarik ke mana, semuanya membingungkan. Anehnya, di sini saya tidak menyerah dan justru semakin penasaran. Saya tetap melanjutkannya pelan-pelan. Salah pola berarti harus siap membongkar ulang.
Proses pembuatannya tidak sebentar. Hampir dua minggu saya mengerjakan tas ini, dan hasilnya? Baru setengah jadi. Bentuknya pun aneh. Semakin dilihat, semakin membuat frustrasi. Akhirnya saya menyerah. Tas itu saya bongkar total dan saya ubah seadanya menjadi semacam bando ala-ala. Tidak sesuai rencana, tapi ya sudahlah.
Saat itu saya berpikir, mungkin memang cukup sampai di sini saja. Saya bukan orang yang telaten. Lagi pula, dari awal, niatnya hanya coba-coba saja. Namun, entah kenapa, rasa penasaran itu terus muncul dan tidak hilang.
Beberapa waktu kemudian, saya mencoba lagi membuat tas dengan model yang berbeda. Anehnya, saya justru memilih pola yang lebih sulit dari yang sebelumnya. Secara logikanya memang tidak masuk, tapi semuanya sudah terlanjur. Kali ini saya mengerjakannya lebih pelan. Tidak memaksakan harus cepat jadi.
Proses pengerjaannya memakan waktu lebih dari dua minggu. Di luar dugaan, tas itu jadi. Bukan hanya jadi, tetapi bentuknya sesuai dengan yang saya bayangkan. Di situ saya merasa puas dan senang dengan cara yang berbeda. Bukan puas karena hasilnya sangar bagus, tetapi karena saya akhirnya menyelesaikan sesuatu yang sejak awal terasa sudah terlalu sulit buat saya.
Dari situ saya mulai mencoba membuat hal-hal kecil, seperti gantungan kunci. Ukurannya kecil, tidak terlalu ribet, tetapi tetap membutuhkan fokus. Hasil dari gantungan kunci itu saya pakai sendiri karena lucu dan cocok di tasku.
Sampai suatu hari, temanku ada yang bertanya, “Itu beli di mana?” Saya jawab santai, “Bikin sendiri”. Responsnya di luar dugaan. Ada yang kaget, ada yang minta dibuatkan, ada juga yang bilang, “Coba saja dijual.”
Jujur, saya langsung berpikir, emang bisa ya? Di kepalaku langsung muncul banyak pertimbangan. Soal harga, soal modal, dan tenaga. Saya juga belum percaya diri. Takut kemahalan, tetapi kalau terlalu murah juga tidak sebanding dengan usaha.
Akhirnya, setelah berpikir cukup lama, saya mencoba membuka pesanan. Saya tidak berharap terlalu tinggi, hanya ingin melihat bagaimana responsnya. Ternyata, yang memesan cukup banyak. Ada yang minta model mudah, justru ada yang minta bentuk lain yang lebih sulit. Semua beda-beda, dan semuanya membutuhkan waktu.
Capek? Iya. Ribet? Banget. Tapi anehnya, saya tetap menikmati prosesnya. Saya masih belum berani menyebut ini bakat. Saya juga masih sering salah hitung dan harus membongkar ulang rajutan. Tapi dari semua proses ini, saya menyadari satu hal yaitu saya ternyata bisa bertahan pada sesuatu yang sebelumnya hanya saya anggap “iseng”.
Saya yang biasanya mudah berpindah ke hal lain, kali ini justru berjalan pelan-pelan tetapi maju terus. Bukan karena tuntutan, melainkan karena keinginan. Dari tugas praktik yang awalnya hanya saya anggap kewajiban, saya menemukan pengalaman yang sama sekali tidak pernah saya rencanakan. Bukan hanya soal benang atau merajut, tetapi tentang mengenal diri sendiri lebih jauh. Tentang berani mencoba, gagal, menyerah, penasaran lagi, lalu melanjutkan. Dan ternyata, dari sanalah bisa lahir sesuatu yang lebih besar dari sekadar tugas.



