Kehidupan Rosa Sofi yang Penuh Ketulusan
Rosa Sofi Andriani, mahasiswi Program Studi Sistem Informasi Fakultas Teknik Industri UPN “Veteran” Yogyakarta, meninggal dunia dalam kecelakaan tunggal saat sedang berusaha membantu temannya. Kepergiannya menjadi duka mendalam bagi keluarga dan kampusnya.
Aksi Mulia yang Berujung pada Kecelakaan
Pada akhir Februari 2026, teman dekat Rosa membutuhkan bantuan darah. Meski malam semakin pekat, Rosa tetap berinisiatif untuk menemui pendonor darah demi menyelamatkan nyawa sahabatnya. Ia rela menghadapi dinginnya malam Yogyakarta demi tindakan mulianya tersebut.
Saat itu, ibunya, Theresia Anik Susilowati, sempat memperingatkan agar tidak melakukan perjalanan karena sudah malam. Namun, Rosa bersikeras ingin menemui pendonor darah. Akhirnya, Anik memberikan izinnya dengan harapan putrinya bisa kembali dengan selamat.
Namun, nasib berkata lain. Di tengah perjalanan, Rosa mengalami kecelakaan tunggal. Sepeda motor yang dikendarainya terjatuh, dan nyawanya tak tertolong. Malam yang dingin menjadi saksi akhir dari perjalanan hidup pemudi yang penuh ketulusan.
Wisuda yang Diwakili oleh Sang Ibu
Tiga bulan setelah kepergiannya, Rosa seharusnya hadir dalam wisuda UPN “Veteran” Yogyakarta. Namun, ia justru diwakili oleh sang ibu menerima ijazah kelulusannya. Pada acara wisuda yang digelar pada 9 Mei 2026, Anik melangkah ke podium dengan tatapan kosong namun tegar.
Mengenakan kebaya hitam sebagai simbol duka, Anik menggenggam erat foto putrinya saat prosesi wisuda berlangsung. Ia mewakili Rosa yang wafat pada 26 Februari 2026 akibat kecelakaan tunggal.
Kesedihan mengisi suasana auditorium saat nama Rosa Sofi Andriani dipanggil. Rektor UPN “Veteran” Yogyakarta, Prof. Dr. Mohamad Irhas Effendi, M.Si., mengajak seluruh hadirin untuk memberikan penghormatan dan doa bersama.
“Semoga amal ibadah ananda Rosa Sofi Andriani, S.Kom., diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa, semua kesalahannya diampuni, dan mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Dan semoga orang tua serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” ucap Irhas.
Prestasi yang Menggambarkan Karakter Kuat
Rosa dikenal sebagai mahasiswi dengan karakter kuat dan penuh ketekunan. Ia berhasil menuntaskan studinya tepat waktu, bahkan tercatat sebagai lulusan tercepat di angkatannya dengan IPK membanggakan sebesar 3,49.
Anik mengenang, “Ocha itu anaknya memiliki tekad yang kuat, jika ada sesuatu yang harus dikerjakan, maka harus tuntas walaupun sampai malam, jadi harus selesai.” Perkataan ini mencerminkan dedikasi dan komitmen Rosa terhadap studinya.
Kepergian Ocha, putri semata wayang Andreas Parikesit dan Theresia Anik Susilowati, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga sekaligus sivitas akademika kampus. Dalam wisuda periode IV Tahun Akademik 2025/2026, terdapat 594 wisudawan, termasuk 55 lulusan magister dan 539 sarjana. Sebanyak 352 wisudawan atau sekitar 59,26 persen berhasil meraih predikat cum laude.
Nilai Kehidupan yang Tak Terlupakan
Di balik gemerlap capaian akademik, kisah Rosa menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang angka dan prestasi, melainkan juga tentang nilai kehidupan, pengabdian, dan kasih sayang yang abadi.
Rosa Sofi Andriani, atau lebih akrab disapa Ocha, meninggalkan kenangan tentang sebuah ketulusan yang paripurna. Ia tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga, tetapi juga inspirasi bagi banyak orang.



