Mantan Bos PSIS Semarang Tanggung Jawab Atas Sanksi FIFA
Mantan bos PSIS Semarang, Yoyok Sukawi, angkat bicara mengenai sanksi yang diberikan oleh FIFA terhadap klub Mahesa Jenar menjelang kompetisi 2026-2027. Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak akan lepas tangan dari masalah yang sedang membelit mantan klubnya tersebut.
Menurut Yoyok, sanksi FIFA diberikan karena pemutusan kontrak dua pemain asing pada masa kepemimpinannya, yaitu di musim 2025. Ia berjanji untuk secepatnya menyelesaikan persoalan ini agar persiapan tim tidak semakin terganggu ke depannya.
FIFA memberikan dua sanksi utama kepada PSIS Semarang. Pertama, klub dilarang mendaftarkan pemain pada tiga periode bursa transfer berturut-turut, mulai dari Kamis (28/5/2026). Kedua, larangan mendaftarkan pemain baru juga berlaku selama tiga periode bursa transfer, per Jumat (29/5/2026).
Kasus ini berkaitan dengan pemutusan kontrak dua pemain asing pada 2025 serta masalah tunggakan gaji. Yoyok Sukawi menyatakan bahwa pihaknya akan ikut bertanggung jawab dalam menyelesaikan perkara ini.
“Perlu saya tegaskan bahwa kasus tersebut terkait pemutusan kontrak dua pemain asing pada 2025,” ujarnya. Dia meyakini bahwa kasus ini dapat diselesaikan secara baik agar PSIS Semarang dapat melakukan persiapan Championship musim 2026-2027 secara maksimal.
“Saya pastikan, saya tidak lepas tangan karena ini adalah pemain yang diputus kontrak oleh manajemen lama, pada 2025,” tambah Yoyok. Saat ini, komunikasi antara manajemen baru dan lama PSIS Semarang telah terjalin baik.
“Sehingga sesuai kesepakatan antara manajemen lama dan manajemen baru, penyelesaian kasus ini menjadi kewajiban manajemen lama untuk menyelesaikan pembayaran dengan menggunakan anggaran PSIS 2024-2025, anggarannya masih ada,” jelasnya.
Yoyok juga mengungkapkan bahwa PT Liga Indonesia Baru masih memiliki piutang ke PSIS Semarang pada periode anggaran 2024-2025. Anggaran piutang tersebut akan digunakan untuk menyelesaikan sanksi saat ini.
“Perhitungan piutang ini jauh lebih besar daripada beban kewajiban pembayaran sanksi-sanksi FIFA tersebut,” ujarnya.
Langkah Cepat Manajemen PSIS
Dalam upaya menyelesaikan sengketa yang berujung pada sanksi FIFA, manajemen PSIS Semarang bergerak cepat agar tidak mengganggu persiapan tim menghadapi kompetisi musim depan. Sikap tersebut disampaikan setelah PSIS Semarang tercantum dalam daftar sanksi FIFA berupa larangan mendaftarkan pemain baru hingga tiga periode transfer akibat adanya laporan yang masuk ke FIFA pada 28 Mei 2026.
COO PSIS Semarang, Fariz Julinar, telah mengetahui persoalan tersebut sejak beberapa hari terakhir dan saat ini fokus menyelesaikan akar permasalahannya. “Untuk masalah FIFA, saya sudah mengetahui beberapa hari lalu,” kata Fariz. Menurutnya, manajemen tidak tinggal diam dan sedang melakukan langkah-langkah penyelesaian terhadap sengketa yang menjadi dasar keluarnya sanksi tersebut.
“Pihak manajemen sedang proses untuk menyelesaikan sengketa agar ke depan tidak mengganggu kesiapan tim untuk mencapai targetnya,” ujarnya.
Sanksi FIFA sempat memunculkan kekhawatiran di kalangan suporter karena berpotensi menghambat aktivitas transfer pemain PSIS menjelang musim kompetisi baru. Jika tidak segera dituntaskan, Mahesa Jenar terancam tidak dapat mendaftarkan pemain anyar dalam beberapa periode pendaftaran.
Namun demikian, manajemen menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak berkaitan dengan kewajiban pembayaran hak-hak pemain dan ofisial pada era kepemimpinan saat ini.
Asisten Manajer PSIS Semarang, Reza, menyebut bahwa selama klub berada di bawah kepemimpinan manajemen baru saat ini, seluruh hak pemain, pelatih, maupun ofisial telah dipenuhi sesuai ketentuan. “Kami masih kroscek karena semua pemain, pelatih, dan official selalu mendapatkan hak-haknya,” ungkap Reza.
Pihaknya juga masih melakukan penelusuran mengenai identitas pelapor dan pokok permasalahan yang menjadi objek sengketa di FIFA. “Ini terkait laporan dari pemain-pemain yang lama. Kami masih proses untuk bisa tahu pelaporan dari siapa dan kasusnya apa,” katanya.
Saat ini, manajemen PSIS terus berkoordinasi untuk menyelesaikan sengketa tersebut dengan harapan sanksi dapat dicabut sehingga agenda pembentukan skuad dan persiapan tim menghadapi musim depan dapat berjalan sesuai rencana.


