Kehilangan yang Mendalam
Widya Riskyanti (28), seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kantor Pertanahan Kota Surabaya II, meninggal dunia setelah sempat mengalami koma selama 4 hari akibat kejadian penjambretan yang menimpanya. Kejadian tersebut terjadi pada Selasa (2/6/2026) sore di Jalan Kusuma Bangsa, Kecamatan Genteng, Surabaya. Widya mengembuskan napas terakhirnya di RSUD dr Soetomo Surabaya pada Jumat (5/6/2026) pukul 15.49 WIB.
Kepergian Widya tidak hanya meninggalkan luka akibat tindak kriminal, tetapi juga menyisakan kehilangan besar bagi keluarga. Di rumahnya di Rusunawa Indrapura, Kecamatan Pabean Cantikan, Surabaya, Widya dikenal sebagai sosok pekerja keras yang selama ini menjadi penopang ekonomi keluarga. Kepergian perempuan muda tersebut membuat keluarga kehilangan figur yang selama ini menggantikan peran sang ayah yang telah meninggal dunia setahun lalu.
Selain bekerja sebagai ASN, Widya juga membantu memenuhi kebutuhan ibunya dan membiayai pendidikan kedua adiknya. Kasus yang menimpa Widya kini masih dalam proses penyelidikan aparat kepolisian.
Tanggung Jawab yang Berat
Bagi keluarga, Widya bukan sekadar anak kedua dari empat bersaudara. Ia merupakan sosok yang mengambil tanggung jawab besar setelah ayahnya meninggal dunia. Sejak saat itu, Widya menjadi tulang punggung keluarga dengan membantu memenuhi kebutuhan ibunya, Isnaini Budiarti (53), sekaligus membiayai sekolah kedua adiknya.
Kehilangan tersebut menjadi pukulan berat bagi keluarga yang selama ini bergantung pada penghasilan dan perhatian Widya. Di mata keluarganya, Widya dikenal sebagai pribadi sederhana, pendiam, dan penuh tanggung jawab. Ibunda korban, Isnaini, mengenang putrinya sebagai anak yang sangat berbakti kepada keluarga.
Di tengah kesibukannya sebagai ASN, Widya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga setelah pulang bekerja. Sejak ayahnya meninggal dunia sekitar setahun lalu, tanggung jawab ekonomi keluarga berada di pundak Widya. Ia menjadi tulang punggung keluarga yang membiayai kebutuhan sang ibu sekaligus pendidikan kedua adiknya.
Pengorbanan Widya bahkan melampaui kepentingan pribadinya sendiri. Menurut keluarga, ia memilih menunda rencana pernikahan demi memastikan masa depan adik-adiknya tetap terjamin.
Permintaan Terakhir Korban
Keluarga mengaku tidak memiliki firasat buruk sebelum peristiwa yang merenggut nyawa Widya terjadi. Namun, ada satu momen yang kini terus dikenang keluarga. Beberapa hari sebelum kejadian, Widya sempat meminta sang ibu memasakkan makanan favoritnya, yakni perkedel dan kotokan daging. Permintaan sederhana tersebut kini menjadi kenangan terakhir yang tersimpan dalam ingatan keluarga.
Awal Mula Kasus Penjambretan
Peristiwa yang menimpa Widya terjadi saat korban melintas di kawasan belakang gedung Mal Grand City, Surabaya, pada Selasa sore. Saat ditemukan warga, korban tergeletak di jalan dengan mengenakan seragam Korpri. Pada awalnya, warga menduga insiden tersebut merupakan kecelakaan lalu lintas biasa. Namun, hasil penyelidikan kemudian mengarah pada dugaan tindak penjambretan yang menyebabkan korban mengalami luka serius hingga harus menjalani perawatan intensif.
Polisi Masih Memburu Pelaku
Kanit Reskrim Polsek Genteng, Iptu Vian Wijaya, membenarkan bahwa Widya meninggal dunia setelah menjalani masa kritis di rumah sakit. Pihak kepolisian memastikan proses penyelidikan dan pengejaran terhadap pelaku masih terus berlangsung. “Mohon waktu, nanti akan kami sampaikan,” ujar Iptu Vian terkait progres pengejaran pelaku yang hingga kini masih dalam pengejaran intensif oleh personel Polsek Genteng. Polisi belum merinci identitas maupun jumlah pelaku karena proses penyidikan masih berjalan.
Kisah Hidup yang Menginspirasi
Kisah hidup Widya Riskyanti menghadirkan potret pengorbanan seorang anak yang berusaha menjaga keluarganya setelah kehilangan sosok ayah. Di usia yang masih muda, ia memikul tanggung jawab besar demi masa depan ibu dan kedua adiknya. Peristiwa yang merenggut nyawanya juga menjadi pengingat bahwa keamanan ruang publik masih menjadi perhatian penting di kawasan perkotaan.
Selain penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan jalanan, diperlukan peningkatan pengawasan dan kewaspadaan bersama agar kejadian serupa tidak kembali menimpa masyarakat. Sementara itu, keluarga berharap proses hukum dapat berjalan hingga pelaku berhasil ditangkap dan mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai ketentuan hukum yang berlaku.




