Transformasi Militer Jerman yang Menyentuh Masyarakat
Jerman tengah memasuki fase transformasi militer terbesar sejak Perang Dunia II. Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dengan Rusia, Berlin kini tidak hanya mempercepat modernisasi Bundeswehr, tetapi juga mulai membuka jalan menuju kemungkinan kembalinya wajib militer nasional.
Menurut laporan media Jerman Der Spiegel, pemerintah mulai mempertimbangkan pemberian denda kepada ribuan pemuda yang tidak mengisi kuesioner wajib militer daring. Sekitar 10 ribu pria berusia 18 tahun dilaporkan terancam denda sebesar 250 euro setelah mengabaikan formulir yang diwajibkan pemerintah, meski telah menerima surat pengingat.
Kuesioner tersebut merupakan bagian dari program wajib militer sukarela baru yang didorong Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius. Program itu mewajibkan seluruh pria berusia 18 tahun untuk mendaftar, mengisi data kesehatan, kebugaran fisik, dan kesiapan mengikuti dinas militer.
Langkah ini menjadi bagian dari Undang-Undang Modernisasi Wajib Militer yang disiapkan Berlin untuk memperbesar kekuatan Bundeswehr secara drastis. Pemerintah Jerman menargetkan jumlah tentara aktif meningkat dari sekitar 186 ribu personel saat ini menjadi lebih dari 260 ribu personel aktif, ditambah sekitar 200 ribu pasukan cadangan pada dekade mendatang.
Namun, pemerintah menghadapi tantangan besar dalam merekrut personel baru. Isu reformasi wajib militer kembali mencuat seiring kebutuhan memperluas jumlah pasukan secara cepat di tengah meningkatnya tensi keamanan Eropa.
Undang-undang baru yang mulai berlaku pada 1 Januari membuka jalan bagi skema wajib militer terhadap pemuda kelahiran 2008 atau setelahnya, dengan pendekatan awal berbasis sukarelawan. Akan tetapi, apabila target perekrutan tidak tercapai, parlemen Jerman atau Bundestag dapat mengaktifkan kembali sistem wajib militer berbasis kebutuhan nasional.
Dinamika ini memicu respons beragam di masyarakat Jerman. Data terbaru menunjukkan peningkatan signifikan permohonan penolakan wajib militer atas dasar keyakinan pribadi. Pada kuartal pertama 2026, sebanyak 2.656 orang mengajukan permohonan tersebut, melanjutkan tren kenaikan dari 2.998 kasus pada 2024 dan 3.867 kasus pada 2025.
Jika tren itu terus berlanjut, jumlah penolakan berpotensi menjadi yang tertinggi sejak wajib militer ditangguhkan pada 2011.
Meski demikian, fenomena sebaliknya juga mulai terlihat. Sejumlah warga justru mencabut penolakan yang sebelumnya mereka ajukan. Tercatat, 781 orang mencabut keberatan pada 2025, sementara 233 orang lainnya melakukan hal serupa hanya dalam kuartal pertama tahun ini.
Perubahan tersebut mencerminkan pergeseran psikologis di tengah masyarakat Jerman yang kini dihadapkan pada situasi keamanan yang semakin tidak pasti. Pemerintah Jerman sendiri secara terbuka mengakui peningkatan risiko global.
Pistorius menyebut dunia saat ini menjadi semakin sulit diprediksi dan lebih berbahaya, penilaian yang kemudian dijadikan dasar bagi penguatan militer nasional secara menyeluruh.
Selain memperbesar jumlah pasukan, Berlin juga mulai memfokuskan diri pada modernisasi teknologi militer. Pemerintah Jerman mengintegrasikan kecerdasan buatan dan otomatisasi dalam perencanaan pertahanan, menandai arah baru strategi keamanan yang tidak lagi semata-mata bertumpu pada kekuatan konvensional.
Kanselir Jerman, Friedrich Merz, bahkan secara terbuka menyatakan ambisinya menjadikan Bundeswehr sebagai kekuatan militer konvensional terkuat di Uni Eropa.
“Kita akan menjadikan Bundeswehr sebagai angkatan darat konvensional terkuat di Eropa sesegera mungkin, angkatan yang mampu bertempur jika diperlukan,” ujar Merz dalam forum keamanan internasional.
Transformasi ini menandai perubahan besar dalam doktrin pertahanan Jerman yang selama puluhan tahun cenderung menahan diri akibat bayang-bayang sejarah perang dunia.
Berlin juga menyiapkan investasi pertahanan raksasa bernilai lebih dari 100 miliar euro untuk mendukung agenda tersebut. Dana itu diarahkan untuk memperkuat sistem pertahanan udara, pengembangan senjata presisi jarak jauh, modernisasi satelit militer, serta revitalisasi industri pertahanan nasional.
Selain memperbesar kekuatan dalam negeri, Jerman mulai memperluas kehadiran militernya di kawasan timur NATO. Untuk pertama kalinya sejak perang dunia, Berlin menempatkan brigade penuh Bundeswehr di Lithuania guna memperkuat sayap timur aliansi menghadapi Rusia.
Pemerintah Jerman bahkan secara resmi mengadopsi strategi pertahanan baru yang menempatkan Rusia sebagai ancaman utama keamanan Eropa. Kebijakan ini memicu respons keras dari Kremlin.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, memperingatkan bahwa strategi baru Berlin berpotensi membawa Eropa menuju jalur berbahaya yang pernah terjadi dalam sejarah.
“Yang terpenting adalah Berlin tidak menyeret negara-negara lain ke jalan yang sama seperti yang telah ditempuhnya beberapa kali dalam sejarah,” kata Peskov.
Nada yang lebih keras datang dari Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev. Dalam artikelnya menjelang peringatan kemenangan Uni Soviet atas Nazi Jerman, Medvedev menuduh Barat tengah membangun militerisasi agresif dengan menjadikan Rusia sebagai musuh bersama.

Ilustrasi militer Jerman atau Bundeswehr. – (tangkapan layar)
Ia bahkan menyebut potensi konflik masa depan sebagai “Operasi Barbarossa 2.0”, merujuk pada invasi Nazi Jerman ke Uni Soviet pada Perang Dunia II.
“Tanggapan kita hanya bisa berupa keamanan Rusia melalui rasa takut yang mendalam terhadap Eropa,” tulis Medvedev.
Sementara itu, Moskow terus membantah tuduhan bahwa Rusia memiliki rencana menyerang negara-negara NATO. Pemerintah Rusia menyebut berbagai narasi ancaman Rusia yang digunakan Eropa untuk mempercepat pembangunan militer sebagai “omong kosong”.
Namun di sisi lain, pejabat Jerman dan Uni Eropa justru semakin sering memperingatkan potensi konfrontasi langsung dengan Rusia pada akhir dekade ini. Pistorius sebelumnya menyatakan Rusia dapat menyerang negara anggota NATO “paling cepat pada 2028”, sementara sejumlah pejabat Eropa menyebut 2029 sebagai target kesiapan perang kawasan.
Ketegangan ini kini memunculkan kekhawatiran baru di Eropa: apakah benua itu sedang memasuki era perlombaan senjata modern yang baru, dengan trauma sejarah perang besar kembali menghantui hubungan Berlin dan Moskow.



