Peristiwa Trisakti 1998: Kekacauan dan Rasa Duka yang Mengguncang Negeri
Pada tanggal 12 Mei, 28 tahun lalu, darah tumpah dan mengubah sejarah. Bunga-bunga bangsa, berguguran di Jakarta. Empat mahasiswa Universitas Trisakti gugur dan memicu rangkaian kejadian yang membentuk Indonesia ke depannya.
Pada masa saat belum ada media sosial, bagaimana masyarakat menyampaikan kemarahan?
”
Selasa 12 Mei itu cinta dibalas teror
Tangkai-tangkai mawar bertukar pelor—beratus pelor
” — Penggalan puisi duka Yudhistira ANM Massardi
Pada malam hari selepas penembakan, pernyataan rasa duka cita seperti tulisan Yudhis di atas tak henti-hentinya mengalir dari masyarakat ke berbagai media. Ratusan lembar kertas faksimili menumpuk di meja redaksi dan telepon hampir setiap menit berdering. Semuanya menyatakan keprihatinan mendalam dan turut berduka cita atas meninggalnya enam pahlawan reformasi, mahasiswa Universitas Trisakti.
Sebagian mengirim rasa duka mengatasnamakan pribadi, mulai dari ibu-ibu yang mengaku punya anak mahasiswa sampai anggota DPR RI. Banyak pula yang mengatasnamakan organisasi kemasyarakatan, seperti Gema Madani yang dikomandani Emil Salim. Bahkan, tak jarang yang mengatasnamakan perusahaan. Karyawan Medco, misalnya, menyertakan puluhan tanda tangan karyawannya sebagai ungkapan duka.
Isi pernyataan hampir seragam. Pertama, mengucapkan duka cita sedalam-dalamnya kepada enam mahasiswa Universitas Trisakti yang gugur dalam perjuangan menuntut reformasi. Kedua, memberi semangat pada mahasiswa agar tidak putus asa memperjuangkan idealisme dan aspirasinya. Dan, ketiga mengutuk aparat yang semena-mena memperlakukan mahasiswa.
Bukan cuma Harian Indonesiadiscover.com yang kebanjiran pernyataan duka cita. Hampir setiap meja redaksi media cetak, radio, dan televisi, mendapatkan pernyataan belasungkawa dari rakyat Indonesia. Bahkan, hampir semua stasiun radio, tiap selesai memutarkan lagu selalu membacakan pernyataan belasungkawa masyarakat yang terus-menerus datang.
Beberapa radio membuka saluran telepon langsung siar (on air). Pro-2 FM, misalnya, sekalipun milik RRI, tapi dengan bebas memberi kesempatan pada masyarakat untuk mengutarakan pendapatnya tentang Tragedi Trisakti. “Mahasiswa itu modalnya buku dan otak, masak lawannya peluru dan otot,” kata seorang pendengar setianya.
Trijaya FM, yang seperti biasanya membacakan berita pagi untuk koran-koran pagi Jakarta, kemarin, dibacakan sebagian dari ratusan faksimili duka cita yang masuk. Bahkan, seorang penyiarnya tak kuasa menahan harunya sehingga terdengar sesenggukan.

Mahasiswa melihat karya poster pada pameran bertajuk 25 Tahun Tragedi Trisakti di Kampus A Universitas Trisakti, Jakarta, Jumat (12/5/2023). – (Indonesiadiscover.com/Putra M. Akbar)
Lain lagi dengan Delta FM. Kemarin pagi radio swasta yang banyak membawakan lagu nostalgia itu berulang-ulang menyanyikan lagu ‘Gugur Bunga’. Begitu juga Radio Kayumanis, mereka terus melantunkan lagu yang menggambarkan gugurnya pahlawan tersebut.
Tak ketinggalan stasiun televisi. On air SCTV di siang hari yang membuka line langsung dengan Dekan Fakultas Hukum Adi Andojo, banyak menerima ungkapan simpati dari pemirsa. Bedanya, di statiun televisi tak seterbuka di radio yang bisa dengan bebas mengungkapkan kekesalannya terhadap ulah aparat.
RCTI dalam Seputar Indonesia petang kala itu juga membacakan sebagaian dari ratusan pernyataan duka dari masyarakat. Mulai dari ibu rumah tangga sampai wanita profesional, mulai dari anak SD sampai mahasiswa, ikut menyatakan duka.
Tragedi Trisakti, setidaknya telah meletupkan kegeraman masyarakat terhadap kondisi nasional yang memprihatinkan. Ternyata begitu besar perhatian rakyat terhadap gerakan mahasiswa yang selama ini selalu dicurigai telah ditunggangi. Kawat duka masyarakat yang terekam di berbagai media tersebut secara langsung mencerminkan bahwa rakyat mendukung sepenuhnya perjuangan mahasiswa.
[Gugur Bunga]
“Hallo saya Hendra, warga Depok. Saya…(terdiam sejenak) sangat menyesalkan tragedi kemarin (diam cukup lama). Srrt… sejauh mana sih aparat keamanan bisa menjaga keamanan warganya. Kok tega-teganya mereka menembak mahasiswa tak berdosa? Apa mereka tidak punya hati nurani?”
Telepon warga yang lain bahkan terang-terangan meminta agar Kapolda Metro Jaya mengundurkan diri. Sementara artis Titiek Qadarsih mengirimkan puisi dukanya lewat faksimili. Demikian juga reaksi masyarakat yang disampaikan lewat telepon dan faksimili di radio-radio di Jakarta, sepanjang hari kemarin. Mereka menyatakan terkejut atas tragedi meninggalnya enam mahasiswa Trisakti Selasa malam.
“Dari pagi sampai sore kami sibuk ditelepon oleh masyarakat yang memberikan tanggapannya atas tragedi yang terjadi,” ujar Dani, kepala bagian siaran Radio Kayumanis. Radio ini, dan beberapa radio lain, juga mengudarakan lagu “Gugur Bunga” sebagai rasa belasungkawa kepada enam mahasiswa yang meninggal dan untuk mengingatkan kepada semua pihak agar lebih mendinginkan kepala di saat situasi seperti ini.
“Kalau dihitung sudah ratusan telepon yang kami terima. Sampai sore ini saja, masih banyak deringan telepon dari masyarakat yang terus-terusan menyampaikan tanggapannya,” katanya.
Radio Kayumanis juga melengkapinya dengan berita dari kantor berita Antara untuk menyiarkan kejadian yang terjadi pagi, siang sampai malam hari.

Salah satu keluarga korban tragedi Mei Tahun 1998, Ruyati berdiri didepan mural pelanggaran HAM ketika peresmian mural Prasasti Tragedi Trisaksti dan Mei 1998 di kawasan Jalan Pemuda, Jakarta Timur, Senin (12/5). – (Indonesiadiscover.com/Agung Supriyanto)
Sementara, Radio Trijaya FM bahkan benar-benar full menyiarkan tragedi ini. Meski, menurut Ichan, kepala bagian siaran Trijaya FM, mereka tidak mengubah format tertentu. Namun setiap jamnya mereka rutin menyiarkan pandangan langsung dari 10 reporternya yang bersiaga di lapangan.
“Mereka akan melaporkan setiap kejadian yang terjadi ataupun wawancara dengan pihak-pihak terkait melalui handphone. Jadi detail setiap peristiwa akan terekam oleh kami,” katanya.
Satu hal pasti, khusus untuk Trijaya, sejak pagi mereka merekam langsung setiap ucapan belasungkawa dari berbagai kalangan dan direncanakan akan diberikan khusus kepada Universitas Trisakti.
“Biasanya setiap Rabu itu ada acara The Jakarta First Channel. Karena ada peristiwa ini, acara ini terpaksa diubah dan digantikan oleh tanggapan dan opini masyarakat,” ujarnya.
Kabarnya sampai sore 13 Mei 1998 itu, Trijaya sudah menerima lebih dari 1.000 telepon dan faks yang terus-terusan masuk ke Trijaya FM.
“Selain itu ada beberapa alumni Trisakti yang merasa tergugah atas kejadian ini. Mereka menelpon ke sini dan mengatakan akan membantu sepenuhnya,” ujarnya.
Beragam opini dan tanggapan masyarakat menelepon radio untuk menyampaikan unek-uneknya. “Ada cacian, ada makian dan ada yang mendoakan macam-macam,” ujar Garin, salah seorang staf Pro 2 FM ketika dihubungi.
Garin sendiri belum bisa memperkirakan berapa tanggapan yang masuk melalui telepon dan faks.
“Yang pasti ini membuat kita semua sadar. Masyarakat rata-rata mengutuk peristiwa ini,” katanya.
Meski hampir semuanya memaki namun kalimat-kalimat yang diucapkan rata-rata sopan dan terkendali. “Tidak ada yang bahasanya ngawur. Kalaupun nanti ada pasti kami cepat-cepat putuskan,” katanya.
Apalagi dari sebagian telepon yang masuk itu disiarkan secara langsung. “Untungnya tidak ada kejadian yang aneh-aneh,” kata dia.
Beberapa radio mengaku sampai hari ini mereka akan terus menerima tanggapan dari masyarakat. “Tergantung, tapi tampaknya masyarakat memang lebih bebas menyuarakan aspirasinya melalui radio,” kata Dani.

Aksi Mahasiswa menduduki Gedung DPR/MPR di Jakarta (19/05/1998), untuk melengserkan Presiden Soeharto. Ini dilakukan setelah peristiwa penembakan terhadap Mahasiswa Universitas Trisakti pada 12 Mei 1998 yang membuat seluruh masyarakat marah dan berduka. Nonang MR/Indonesiadiscover.com(DOKREP)
Susana kantor
Aksi kerusuhan massa dan penjarahan yang berlangsung Kamis (13/5/1998) hingga beberapa hari ke depannya juga membuat awak Harian Indonesiadiscover.com kelabakan. Perusakan, penjarahan di mana-mana, tutupnya hampir semua pompa bensin di Jakarta, dan tak adanya angkutan umum membuat kami kebingungan melaksanakan tugas.
Banyak wartawan yang terjebak dalam aksi massa dan tak bisa kembali ke kantor karena tak ada angkutan. Sehari sebelum kerusuhan — yakni saat meninggalnya empat mahasiswa karena ditembak aparat, kami pun — baik jajaran redaksi, sirkulasi, iklan — sebenarnya sudah kesulitan ‘bergerak’.
Bahkan, dua wartawan yang ditugaskan untuk tetap memantau keadaan Trisakti sempat kehilangan kontak lebih dari enam jam dengan jajaran redaksi di kantor. Rupanya, mereka harus berlindung menghindari desingan peluru dan gas air mata.
Setelah terjadi aksi perusakan dan penjarahan massal, wartawan makin tak bisa “bergerak”. Susie Evidia, wartawan yang diterjunkan di banyak aksi mahasiswa dan kerusuhan — termasuk di Trisakti, misalnya — Jumat lalu kebingungan pulang ke kantor. Terpaksa ia minta jemput. “Mas, tolong jemput saya di Polres Pasar Minggu,” katanya memelas.
Hal yang sama juga dialami banyak wartawan kami. Terpaksa Syamsul, kepala Sekretaris Redaksi, pun bertindak mengerahkan ‘ojek-ojeknya’ untuk menjemput para wartawan. Menjemput menggunakan mobil memang riskan, saat di mana-mana ada aksi perusakan, jadi motorlah tombak terdepan.
Akibat lumpuhnya angkutan umum dan berantakannya kondisi jalan raya, puluhan karyawan Indonesiadiscover.com yang menjadi ‘doktor’ (mondok di kantor). Lantai 2, 3 dan 4, penuh dengan orang. Ada reporter, redaktur, staf, dan manajer. Kantor pun akhirnya ‘disulap’ menjadi apartemen. Kursi-kursi dijajarkan dijadikan alas tidur pengganti kasur.
“Aku tidur di mana?” “Kursi yang aku tiduri setiap hari diambil orang,” jelas Nuril Arifin, karyawan bagian Kantor Berita itu sambil memeluk bantal kesayangannya. Nuril di hari-hari biasa memang menjadi ‘penguasa lantai 4 di waktu malam’.

Gedung Indonesiadiscover.com di Jakarta Selatan. – (Indonesiadiscover.com/Putra M. Akbar)
Melimpahnya para ‘doktor’ itu membuat terjadi aksi ‘penjarahan’ Indomie di warung koperasi di lantai empat. Dalam sekejap satu boks Indomie tandas.
“Bayar dong, jangan main jarah,” kata Suyuti, operator Macintosh yang menjadi koordinator warung Indomie di lantai 4 gedung Indonesiadiscover.com.
“Mudah-mudahan kerusuhan ini cepat berakhir. Sudah dua hari saya tidur di kantor,” ujar Sapto, koordinator desk nasional, yang tinggal di Bojonggede itu. Sampai-sampai, anaknya, Noval, menelepon ke kantor, “Pak, pulang dong, Noval kangen.”
Tulisan ini disadur dari Harian Indonesiadiscover.com edisi Mei 1998.



