Kasus Pembunuhan Ibu oleh Anak di Medan: Fakta dan Motif yang Terungkap
Kasus tragis pembunuhan seorang ibu oleh anaknya sendiri di Kota Medan, Sumatera Utara, kini menjadi perhatian publik. Dugaan bahwa kejadian ini melibatkan seorang anak berusia 12 tahun berinisial A, yang diduga membunuh ibunya, F (42), terungkap melalui penyelidikan yang dilakukan oleh Polrestabes Medan.
Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu, 10 Desember 2025, dan kini sedang ditangani oleh pihak berwajib. Kepala Polrestabes Medan, Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak, bersama psikolog forensik, mengungkapkan beberapa fakta penting dari hasil penyelidikan dan pendalaman psikologis terhadap terduga pelaku.
Motif yang Dipicu oleh Kekerasan dalam Rumah dan Emosi Terpendam
Menurut Kombes Calvijn, korban sering memarahi bahkan mengancam suami dan kedua anaknya, termasuk terduga pelaku. Situasi ini diduga menimbulkan tekanan emosional yang menumpuk pada anak. Selain itu, penghapusan game online milik terduga pelaku disebut sebagai pemicu tambahan.
Puncak emosi terjadi ketika pada 22 November 2025, terduga pelaku menyaksikan ibunya memukul kakaknya menggunakan tangan, sapu, dan ikat pinggang. Peristiwa tersebut dinilai menjadi titik balik yang memperkuat kemarahan anak hingga berujung pada tindakan fatal.
Dugaan Pengaruh Anime dan Game Online
Polisi juga menyoroti adanya unsur obsesi dalam cara terduga pelaku melakukan perbuatannya. Berdasarkan pemeriksaan, anak tersebut diketahui sering menonton anime dan bermain game online bertema pembunuhan. Salah satu anime yang ditontonnya menampilkan adegan tindak kekerasan menggunakan pisau, sementara game online berjudul Mystery Murder disebut turut memengaruhi pola pikir dan tindakan anak.
Meski demikian, polisi menegaskan bahwa tindakan tersebut dilakukan dalam kondisi sadar, berdasarkan hasil penyidikan dan pendampingan psikologis yang dilakukan secara paralel. Dalam pemeriksaan, terduga pelaku menyatakan penyesalan mendalam atas perbuatannya. Rasa bersalah muncul setelah ia melihat kondisi ibunya dan saat ambulans datang ke rumah.
Pisau Dapur Jadi Alat Kejadian
Polisi mengungkapkan bahwa terdapat dua pisau dapur yang digunakan dalam peristiwa tersebut. Pisau-pisau itu diambil dari dapur dan merupakan peralatan rumah tangga yang biasa digunakan korban untuk memasak. Hasil pemeriksaan forensik menemukan DNA terduga pelaku dan korban pada gagang pisau. Sementara pada bilah pisau, ditemukan DNA korban dan kakak terduga pelaku, yang terluka saat berusaha merebut pisau dari adiknya untuk melerai kejadian.
Saat kejadian berlangsung, kakak terduga pelaku sempat mencoba menghentikan aksi adiknya dengan merampas pisau. Upaya tersebut menyebabkan kakak mengalami luka di tangan. Setelah itu, pisau terjatuh ke lantai di area kamar, dan situasi baru dapat dikendalikan setelah kejadian berlangsung.
Rekaman CCTV Perkuat Temuan Polisi
Rekaman CCTV di sekitar rumah menunjukkan bahwa sejak 8 Desember 2025, tidak ada orang lain yang keluar masuk rumah selain anggota keluarga inti. Korban tercatat terakhir masuk rumah pada 8 Desember dan tidak terlihat keluar hingga peristiwa terjadi pada 10 Desember dini hari. Aktivitas yang terekam hanya anak-anak yang berangkat sekolah serta ayah mereka yang pergi bekerja.
Polisi juga menemukan bahwa keluarga tersebut cenderung tertutup dan membatasi komunikasi dengan lingkungan sekitar. Anak-anak jarang berinteraksi dengan pihak luar, meskipun hubungan antar saudara dinilai cukup dekat. Di sekolah, terduga pelaku dikenal sebagai siswa yang cerdas dan berprestasi, bahkan kerap menjuarai berbagai perlombaan akademik.
Dan berdasarkan hasil laboratorium forensik, DNA yang ditemukan di kamar hanya milik korban dan kedua anaknya.



