Persiapan Pra-Uji Coba Sistem MLFF Terus Dimatangkan
Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) terus mempersiapkan tahap pra-uji coba sistem Multi Lane Free Flow (MLFF) atau pembayaran tol tanpa berhenti. Persiapan dilakukan melalui koordinasi intensif dengan PT Roatex Indonesia Toll System (RITS) selaku badan usaha pelaksana guna memastikan seluruh aspek teknis siap sebelum pengujian dimulai.
Kepala BPJT Ni Komang Rasminiati mengatakan bahwa saat ini fokusnya adalah penyusunan berbagai skenario teknis yang akan digunakan dalam pelaksanaan uji coba. “Kita sedang persiapan untuk menyiapkan ke arah sana secara teknis skenario-skenario yang akan diujicobakan,” ujarnya.
Meski persiapan terus berjalan, BPJT belum menetapkan target waktu pelaksanaan pra-uji coba. “Kalau persiapannya sudah cukup matang, baru kita bisa menentukan targetnya kapan bisa dilakukan pra-uji coba,” katanya. Hal serupa juga berlaku untuk lokasi pengujian. Menurut Komang, ruas tol yang akan menjadi lokasi uji coba akan dipilih setelah seluruh skenario teknis selesai disusun dan dievaluasi.
Roatex Tunggu Keputusan Pemerintah
Direktur PT Roatex Indonesia Toll System (RITS) Renaldi Utomo mengatakan pihaknya turut terlibat dalam penyusunan berbagai skenario operasional untuk memastikan pengujian dapat berjalan sesuai rencana. Menurutnya, koordinasi antara pemerintah dan investor berlangsung baik serta menunjukkan komitmen untuk melanjutkan proyek MLFF.
Sebagai mitra pemerintah, RITS masih menunggu keputusan mengenai lokasi dan waktu pelaksanaan uji coba. Bali, yang sejak awal diproyeksikan sebagai wilayah percontohan, masih menjadi salah satu opsi, meski kemungkinan pelaksanaan di ruas tol lain juga terbuka.
Renaldi menjelaskan kontrak kerja sama yang ditandatangani sejak Surat Perintah Kerja diterbitkan pada 15 Maret 2022 tetap mengacu pada implementasi penuh MLFF. Namun, selama masa transisi, sistem gerbang tol dengan palang (barrier gate) masih dapat digunakan.
“Kami memang sudah sepakat bahwa dalam proses transisi ini masih mempergunakan barrier. Jadi ada konsep transisi dan ada konsep akhir sesuai desain MLFF. Keputusan akhirnya tentu berada di pemerintah dan kami mendukung,” ujarnya.
Apa Itu MLFF?
Multi Lane Free Flow merupakan sistem transaksi tol tanpa berhenti yang memanfaatkan teknologi digital, seperti Global Navigation Satellite System (GNSS) dan aplikasi khusus pada perangkat pengguna. Berbeda dengan sistem e-toll saat ini yang masih mengharuskan kendaraan melambat atau berhenti di gerbang, MLFF memungkinkan kendaraan melintas dengan kecepatan normal, sementara transaksi dilakukan secara otomatis.
Penerapan sistem ini diharapkan mampu mengurangi antrean di gerbang tol, mempercepat waktu perjalanan, menghemat konsumsi bahan bakar, sekaligus menekan emisi kendaraan akibat kemacetan di titik transaksi.
Implementasi Bertahap Dinilai Paling Efektif
Pengamat transportasi dari Politeknik Transportasi Jalan Anton Budiharjo menilai implementasi MLFF menjadi kebutuhan yang semakin mendesak seiring meningkatnya volume lalu lintas di jalan tol. Menurutnya, selain mempercepat arus kendaraan, sistem transaksi digital juga akan memudahkan pemerintah dalam pengawasan, pencatatan transaksi, hingga penyusunan kebijakan transportasi di masa depan.
“Volume lalu lintas terus meningkat. Dengan pembayaran berbasis elektronik, seluruh transaksi akan tercatat secara digital sehingga pengawasan menjadi lebih mudah. Jika ke depan ada kebijakan baru seperti pajak jalan tol, perhitungannya juga akan lebih sederhana karena seluruh data sudah terekam secara elektronik,” ujar Anton.
Ia menyarankan implementasi dilakukan secara bertahap dengan memulai dari wilayah yang memiliki kesiapan infrastruktur terbaik, seperti Jakarta. Uji coba pun sebaiknya diawali pada satu gerbang tol sebelum diperluas secara bertahap.
“Mulai dari satu gerbang dulu. Kalau masyarakat sudah merasakan kemudahannya, baru diperluas menjadi dua, tiga, hingga seluruh gerbang. Dalam jangka sekitar lima tahun, seluruh gerbang tol bisa menerapkan sistem Multi Lane Free Flow,” katanya.
Tantangan Menuju Implementasi Nasional
Selain kesiapan teknologi, keberhasilan MLFF juga bergantung pada integrasi sistem dengan operator jalan tol, kesiapan regulasi, serta edukasi kepada pengguna. Masa transisi yang masih memungkinkan penggunaan gerbang berpalang menjadi langkah untuk memastikan perpindahan menuju sistem nirsentuh berlangsung bertahap tanpa mengganggu operasional jalan tol.
Jika seluruh tahapan pengujian berjalan sesuai rencana, MLFF akan menjadi salah satu transformasi terbesar dalam sistem pembayaran jalan tol di Indonesia, sekaligus menyelaraskan pengelolaan tol nasional dengan praktik yang telah diterapkan di sejumlah negara maju.



