Pendeta HKBP Daniel Taruliasi Harahap Menyebut Korupsi sebagai Akar Masalah Papua
Pendeta HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) Daniel Taruliasi Harahap menyampaikan pernyataan tajam mengenai korupsi sebagai akar utama masalah yang terjadi di Papua dan Indonesia. Pernyataan ini disampaikan setelah ia menonton film dokumenter Pesta Babi bersama dosen dan mahasiswa di Sekolah Tinggi Filsafat Theologi (STFT) Jakarta.
Film tersebut menjadi bahan diskusi mendalam tentang isu-isu penting seperti ketidakadilan, konflik agraria, serta praktik korupsi yang dinilai telah merambat ke berbagai lapisan masyarakat. Daniel mengaku telah menonton film tersebut sebanyak tiga kali, sehingga memperkuat keyakinannya bahwa korupsi adalah penyebab utama dari penderitaan rakyat Papua.
“Saya sudah sampai pada kesimpulan: akar dari masalah Papua dan Indonesia adalah korupsi. Sekali lagi: korupsi,” ujarnya dengan tegas. Ia menegaskan bahwa korupsi tidak hanya terjadi di pemerintahan atau lembaga hukum, tetapi juga telah merambah ke institusi militer, pendidikan, hingga lembaga keagamaan.
Korupsi yang Merambat ke Berbagai Lembaga
Daniel menyoroti bahwa korupsi tidak hanya terjadi di tingkat pemerintah, tetapi juga di parlemen, lembaga peradilan, dan aparat penegak hukum. Bahkan, ia menemukan adanya kejahatan keuangan di lembaga keagamaan, masyarakat, dan pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa korupsi telah menjadi sistem yang sulit dihilangkan.
Menurutnya, korupsi menciptakan ketidakadilan yang berkepanjangan, termasuk dalam konflik perebutan tanah dan hutan yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat lokal. Ia juga menyebut bahwa jeritan masyarakat Papua harus didengar, terutama dalam situasi di mana mereka dianggap terpinggirkan oleh pihak-pihak tertentu.
Pengalaman Pribadi di Papua
Daniel juga berbagi pengalaman pribadinya saat tinggal di pedalaman Papua pada tahun 1986. Selama dua setengah bulan, ia tinggal di lembah Yali, tepatnya di Kosarek, wilayah yang berjarak sekitar setengah jam penerbangan dari Wamena. Meski belum pernah mengunjungi Papua Selatan atau Merauke, pengalaman tersebut membuatnya memiliki ikatan emosional dengan penderitaan masyarakat setempat.
Ia mengungkapkan bahwa ia turut berdoa agar jeritan dan air mata rakyat Papua didengar, terutama dalam konteks konflik lahan dan hutan yang menjadi sumber kehidupan warga lokal. Ia juga menyebut simbol salib merah yang kini didirikan oleh masyarakat Papua Selatan di ribuan titik sebagai bentuk perlawanan terhadap pihak-pihak yang dianggap merampas ruang hidup mereka.
Gereja Diingatkan untuk Tetap Jujur dan Sederhana
Dalam refleksinya, Daniel memberikan kritik terhadap gereja dan para pelayan agama. Ia mengingatkan bahwa gereja bisa dengan mudah dijinakkan oleh kekuasaan jika tergoda kemewahan dan kepentingan finansial. Ia menyerukan kepada para pelayan gereja untuk kembali hidup jujur dan sederhana, bukan mimpi hidup bergelimang kemewahan.
Menurut Daniel, ketika gereja kehilangan integritas moral, maka institusi keagamaan berpotensi diperalat untuk membenarkan ketidakadilan atas nama pembangunan, persatuan, maupun proyek energi. Ia menegaskan bahwa jika tidak waspada, gereja dan pelayannya akan mudah disuap, dijinakkan, dan diperalat membenarkan penindasan dan ketidakadilan di Papua dan Indonesia.
Film Pesta Babi dan Sorotan terhadap Papua
Film Pesta Babi mengangkat berbagai isu sosial di Papua Selatan, termasuk konflik lahan, hubungan antara masyarakat adat dengan negara, serta dampak proyek pembangunan terhadap ruang hidup warga lokal. Dokumenter ini kembali memperluas perdebatan publik mengenai situasi Papua, mulai dari isu lingkungan, hak masyarakat adat, hingga kritik terhadap praktik kekuasaan dan pembangunan nasional.
Pernyataan Daniel kini ikut mempertegas bahwa persoalan Papua bukan hanya soal keamanan dan politik, tetapi juga menyangkut krisis moral, ketimpangan, dan korupsi yang dinilai telah mengakar di Indonesia.
Simbol Salib Merah sebagai Bentuk Perlawanan
Saat ini, masyarakat Papua Selatan dilaporkan telah mendirikan tanda salib merah di 1.800 titik tanah adat mereka. Ribuan salib itu berdiri kokoh bukan sekadar sebagai simbol ritus keagamaan, melainkan sebagai monumen perlawanan rakyat jelata yang sedang dikepung dan digusur oleh penguasa perampas hutan kehidupan mereka.
“Kiranya Kristus mendengar jeritan dan air mata Rakyat dan Tanah Papua, dengan atau tanpa melibatkan gereja-gereja,” pungkas Daniel menutup refleksinya.



