Perubahan Perilaku Konsumen dan Dampaknya pada UMKM
Perkembangan teknologi di era digital telah mengubah cara masyarakat berbelanja. Tidak hanya konsumen, para pelaku usaha juga harus menyesuaikan diri agar tetap bisa bersaing. Salah satu contohnya adalah pergeseran dari transaksi tunai ke sistem pembayaran digital yang lebih cepat dan praktis. Fenomena ini terasa nyata di kalangan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk pelaku usaha rumahan hingga pedagang pasar.
Salah satu pelaku UMKM yang berhasil beradaptasi adalah Saryati, pemilik usaha bawang goreng ‘SW Brambang Goreng Jawa’ asal Solo, Jawa Tengah. Di usianya yang genap 50 tahun pada Juni mendatang, Saryati memilih untuk tidak tertinggal dalam perkembangan zaman. Ia mulai menyediakan layanan pembayaran menggunakan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) agar pembeli dapat bertransaksi dengan lebih mudah.
“Sekarang orang maunya praktis. Kalau pakai QRIS kan simpel, tinggal scan, langsung bayar. Saya juga tidak perlu repot nyiapin uang kembalian,” ujar Saryati saat ditemui.
Menyesuaikan Perubahan Gaya Belanja
Menurut Saryati, keputusan menggunakan QRIS bukan sekadar mengikuti tren, melainkan bentuk penyesuaian terhadap kebiasaan konsumen saat ini yang semakin akrab dengan transaksi nontunai atau cashless. Apalagi, sebagian besar pelanggannya berasal dari kalangan pekerja muda hingga pengunjung bazar yang lebih sering membawa ponsel dibanding uang tunai.
Ia mengaku mulai mengenal QRIS melalui pendampingan UMKM. Awalnya ia sempat menggunakan beberapa kode pembayaran dari bank berbeda, namun kemudian memilih menyatukannya dalam satu layanan QRIS BRI karena rekening usahanya menggunakan BRI.
“Dulu sempat ada beberapa QR, tapi akhirnya disatukan supaya lebih gampang. Jadi pembeli juga tidak bingung,” katanya.
Manfaat Penggunaan QRIS
Penggunaan QRIS sangat membantu ketika dirinya mengikuti bazar atau pameran UMKM di berbagai daerah. Dalam kondisi ramai pengunjung, transaksi digital dinilai jauh lebih cepat dibanding pembayaran tunai. Ia mencontohkan, ketika pembeli datang bersamaan, proses pembayaran tunai sering kali memakan waktu karena harus menghitung uang dan menyiapkan kembalian. Sementara dengan QRIS, transaksi bisa selesai hanya dalam hitungan detik.
Selain mempermudah pembeli, Saryati merasa sistem digital juga membantu pencatatan keuangan usahanya menjadi lebih rapi. “Kalau pakai QRIS kan langsung tercatat. Jadi lebih gampang ngecek penjualan harian,” ucapnya.
Pengalaman Pedagang di Pasar Gede Solo
Manfaat serupa juga dirasakan banyak pedagang di Pasar Gede Solo. Di antara hiruk pikuk jual beli di pasar yang bergaya vintage itu, sudah ada sentuhan teknologi yang tersaji dalam QR barcode di setiap kios. Di pasar yang hampir berdiri seabad lalu itu, kini selain gemericik uang logam, terdengar pula suara notifikasi dari ponsel pedagang dan pembeli yang bertransaksi secara online.
Rahmawati (37) warga asli Solo yang membayar sayuran belanjaan di Kios Ibu Dewi dengan cara yang kekinian, scan QRIS. Usai memilih barang belanjaan, Rahmawati memindai QRIS BRI yang terpajang di kios nomor 16 milik Ibu Dewi.
“Sekarang pasar tradisional rasanya nggak kalah sama swalayan modern. Malah mending sini, sayur bagus harganya murah,” ujar perempuan berkacamata itu.
Tak hanya soal dagangan, Rahmawati juga mengaku sistem pembayaran di Pasar Gede mulai mengikuti zaman. Sehingga dia lebih memilih menggunakan pembayaran nontunai karena praktis dan cepat.

Penyebaran QRIS di Solo Raya
Sejak 2023, Pemerintah Kota Surakarta telah bekerja sama dengan Bank BRI untuk memperkenalkan pembayaran digital. Program ini pertama kali dilaksanakan di pasar tradisional, yang dimulai di Pasar Gede Surakarta. Hingga kini, QRIS sudah menjadi pilihan transaksi di berbagai kedai hingga gelaran Car Free Day (CFD).
Sepanjang 2026, nominal transaksi QRIS di Solo Raya mencapai Rp5,3 triliun atau tumbuh 114,3 persen (yoy), dengan volume 54,54 juta transaksi atau tumbuh 141,6 persen (yoy). Jumlah merchant QRIS bertambah 53.281 merchant, sehingga total merchant QRIS di Solo Raya mencapai 1.109.871 merchant atau tumbuh 18,1 persen (yoy).
Perluasan Layanan Digital BRI
Melalui produk QRIS, BRI juga mencatat lonjakan transaksi yang signifikan seiring dengan akselerasi transformasi digital bertajuk BRIvolution Reignite. Jumlah merchant yang terhubung dengan ekosistem BRI kini mencapai 323,7 ribu, menandakan semakin luasnya jangkauan layanan digital BRI di berbagai sektor usaha.
Pertumbuhan ini turut mendorong peningkatan volume transaksi merchant yang mencapai Rp67,9 triliun, tumbuh 26,5 persen year-on-year (yoy). Salah satu pencapaian paling menonjol adalah transaksi melalui QRIS yang melonjak hingga Rp30,5 triliun, atau tumbuh 76 persen yoy. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin terbiasa menggunakan metode pembayaran digital yang cepat, aman, dan efisien.



