Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Senin, 11 Mei 2026
Trending
  • Nexus3: Indonesia di Ambang Bencana Merkuri
  • Gaji 1 Juta Pengikut TikTok: 5 Sumber Penghasilannya!
  • 50 Ucapan Selamat Naik Haji Penuh Doa untuk Caption Sosial Media
  • 7 Tahun Persija Tak Pernah Menang di Kandang vs Persib, Mauricio Souza: Tidak Masuk Akal
  • Strategi BYD dan AION Manfaatkan Insentif Mobil Listrik
  • Pertemuan Gibran dengan Wakil PM Laos
  • Populer Sulut: Pabrik Miras Palsu Dibongkar, BPJS Defisit Rp2 T, Kotamobagu Tanpa Knalpot Brong
  • Wonosobo Perkenalkan Kostum Ikon WNFC 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Otomotif»Strategi BYD dan AION Manfaatkan Insentif Mobil Listrik
Otomotif

Strategi BYD dan AION Manfaatkan Insentif Mobil Listrik

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover11 Mei 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



Indonesia kembali menunjukkan komitmennya untuk mendukung pengembangan industri kendaraan listrik. Rencana pemerintah menggulirkan insentif baru bagi kendaraan bermotor listrik (KBLBB) dianggap sebagai langkah strategis yang dapat menjadi katalis positif bagi sektor otomotif nasional, terlebih di tengah tantangan ekonomi global dan penurunan daya beli masyarakat.

Pemerintah saat ini sedang memfinalisasi skema insentif pembelian KBLBB, baik mobil maupun motor listrik. Insentif tersebut akan mulai diberlakukan pada Juni 2026. Dalam skema ini, pemerintah akan memberikan kuota awal sebanyak 100.000 unit kendaraan, dengan kemungkinan penambahan kuota jika permintaan pasar melampaui proyeksi awal.

Salah satu bentuk insentif yang akan diberikan adalah fasilitas pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) khusus untuk kendaraan listrik murni atau battery electric vehicle (BEV). Selain itu, kendaraan listrik yang menggunakan baterai berbasis nikel akan mendapatkan subsidi lebih besar dibandingkan baterai lithium ferro-phosphate (LFP).

Tantangan dan Peluang

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie Sugiarto, menyatakan bahwa kebijakan insentif ini bisa menjadi stimulus tambahan bagi industri otomotif yang tengah menghadapi tekanan pelemahan rupiah dan terbatasnya daya beli masyarakat. “Yang pasti kami sangat menghargai rencana pemerintah yang akan memberikan insentif untuk mobil listrik,” ujarnya.

Sebelumnya, pemerintah juga telah memberikan insentif melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 12/2025. Kebijakan tersebut mencakup fasilitas PPN DTP sebesar 10% dengan syarat tingkat komponen dalam negeri (TKDN) tertentu, serta pembebasan bea masuk kendaraan impor utuh (completely built up/CBU).

Hasilnya, penjualan mobil listrik murni meningkat pesat pada 2025. Secara wholesales, penjualan mencapai 103.931 unit, naik 140,64% dibandingkan realisasi 2024 sebanyak 43.188 unit. Dengan semakin banyaknya pilihan kendaraan listrik di segmen harga terjangkau, permintaan pasar masih berpotensi tumbuh pada tahun ini.

Beberapa model kendaraan listrik berharga kompetitif telah meramaikan pasar domestik, seperti BYD Atto 1 yang dimulai dari Rp199 juta, Changan Lumin mulai Rp183 juta, Geely EX2 mulai Rp255 juta, hingga Jaecoo J5 EV yang dipasarkan mulai Rp249,9 juta.

Namun, Gaikindo masih menunggu aturan teknis lanjutan terkait implementasi insentif kendaraan listrik yang sedang difinalisasi pemerintah. “Kami tunggu peraturannya dulu saja, baru bisa memberi tanggapan lebih lanjut,” jelas Jongkie.

Data Penjualan Mobil Listrik RI 2021–2025

TahunPenjualan Mobil Listrik (Unit)Total Wholesales (Unit)Pangsa (%)
2021687887.2020,07%
202210.3271.048.0400,98%
202317.0511.005.8021,69%
202443.188865.7234,98%
2025103.931803.68712,93%

Dorong Arus Investasi

Di sisi lain, sejumlah produsen kendaraan listrik yang sebelumnya memperoleh insentif impor utuh (CBU) mulai merealisasikan komitmen pembangunan fasilitas produksi di Indonesia. Salah satunya adalah BYD asal Tiongkok yang tengah membangun fasilitas manufaktur di Subang, Jawa Barat, dengan kapasitas produksi mencapai 150.000 unit per tahun dan ditargetkan segera beroperasi. Nilai investasi proyek tersebut diperkirakan mencapai Rp11,2 triliun.

Head of Marketing, PR & Government BYD Indonesia, Luther T. Panjaitan, berharap pemerintah tidak hanya fokus pada pemberian insentif fiskal, tetapi juga memperkuat kebijakan yang mampu menarik investasi dan membangun ekosistem kendaraan listrik nasional.

Menurut Luther, ruang dialog antara pemerintah dan pelaku industri perlu diperluas melalui pola kolaborasi yang mampu menciptakan keseimbangan kepentingan bagi seluruh pihak. “Kami masih berharap bahwa ruang diskusi atau kebijakannya itu tidak melulu hanya sekadar kebijakan fiskal, tetapi sifatnya adalah kolaborasi untuk meningkatkan investasi dan pengembangan ekosistem.”

Perluas Portofolio Produk

Sementara itu, produsen kendaraan listrik asal China lainnya, Aion Indonesia, juga menyambut positif rencana insentif kendaraan listrik dari pemerintah. Sejalan dengan hal tersebut, perseroan menyiapkan strategi ekspansi produk di pasar domestik.

CEO Aion Indonesia, Andry Chiu, mengatakan bahwa perseroan masih menunggu kepastian regulasi teknis terkait skema insentif kendaraan listrik tahun ini. Kendati demikian, kebijakan tersebut diyakini dapat mempercepat pertumbuhan pasar elektrifikasi kendaraan.

Merujuk pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 79 Tahun 2023, TKDN kendaraan listrik produksi lokal ditetapkan minimal 40% pada periode 2022–2026, meningkat menjadi 60% pada 2027–2029, dan mencapai 80% mulai 2030.

Aion saat ini memiliki fasilitas produksi di Cikampek, Jawa Barat, dengan kapasitas sekitar 50.000 unit kendaraan listrik per tahun dan TKDN mencapai 40%. Lini produk Aion yang dipasarkan di Indonesia mencakup Aion V, Aion Y, Aion UT hingga Aion Hyptec yang seluruhnya merupakan kendaraan listrik murni atau BEV.

Ke depan, Aion juga menyiapkan strategi memperluas portofolio kendaraan dengan menghadirkan model hybrid dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) mulai tahun ini. “Tahun ini kami akan ada memasukkan beberapa tipe kendaraan, dan juga tahun depan akan lebih banyak lagi. Nanti fokus kami tidak hanya mobil listrik, karena GAC Aion kan produsen mobil hybrid, PHEV, REEV, ICE ada semua,” pungkasnya.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

5 Alasan Mobil Perlu Diidling Setelah Perjalanan Jauh

11 Mei 2026

Setelah Resmikan Dealer ke-4, Target Bangun Ini di Tahun 2026

10 Mei 2026

Suzuki Access vs Burgman 125: Mana Lebih Lincah dan Irit?

10 Mei 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Nexus3: Indonesia di Ambang Bencana Merkuri

11 Mei 2026

Gaji 1 Juta Pengikut TikTok: 5 Sumber Penghasilannya!

11 Mei 2026

50 Ucapan Selamat Naik Haji Penuh Doa untuk Caption Sosial Media

11 Mei 2026

7 Tahun Persija Tak Pernah Menang di Kandang vs Persib, Mauricio Souza: Tidak Masuk Akal

11 Mei 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?