Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Senin, 11 Mei 2026
Trending
  • Tentara Anak Sudan Viral di Media Sosial Picu Kekhawatiran
  • Nexus3: Indonesia di Ambang Bencana Merkuri
  • Gaji 1 Juta Pengikut TikTok: 5 Sumber Penghasilannya!
  • 50 Ucapan Selamat Naik Haji Penuh Doa untuk Caption Sosial Media
  • 7 Tahun Persija Tak Pernah Menang di Kandang vs Persib, Mauricio Souza: Tidak Masuk Akal
  • Strategi BYD dan AION Manfaatkan Insentif Mobil Listrik
  • Pertemuan Gibran dengan Wakil PM Laos
  • Populer Sulut: Pabrik Miras Palsu Dibongkar, BPJS Defisit Rp2 T, Kotamobagu Tanpa Knalpot Brong
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Teknologi»Nexus3: Indonesia di Ambang Bencana Merkuri
Teknologi

Nexus3: Indonesia di Ambang Bencana Merkuri

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover11 Mei 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Peringatan 70 Tahun Tragedi Minamata



Tahun 2026 menjadi momen penting dalam sejarah kesehatan global, yaitu peringatan 70 tahun sejak tragedi Minamata di Jepang terungkap. Tragedi ini bermula dari aktivitas industri Chisso Corporation yang selama bertahun-tahun membuang limbah merkuri ke Teluk Minamata. Akibatnya, laut tercemar, rantai makanan terganggu, dan banyak penduduk mengalami penyakit neurologis serius yang menyebar lintas generasi.

Masyarakat di Minamata terpapar merkuri melalui konsumsi ikan yang terkontaminasi. Paparan jangka panjang menyebabkan gangguan saraf seperti ataksia, mati rasa, kelemahan otot, serta gangguan penglihatan, pendengaran, dan bicara. Dalam kasus yang lebih parah, korban bisa mengalami kelumpuhan, koma, hingga kematian. Bahkan, paparan merkuri juga berdampak pada janin, menyebabkan cacat bawaan dan gangguan tumbuh kembang pada anak.

Yuyun Ismawati dari Nexus3 Foundation menyampaikan bahwa para penyintas keracunan merkuri Minamata yang telah memasuki usia 70-an masih menghadapi perjuangan panjang untuk mendapatkan pengakuan, pemulihan, dan keadilan. Pada 23 April lalu, Pengadilan Tinggi Fukuoka menolak gugatan tujuh korban yang meminta pengakuan sebagai penderita penyakit Minamata berdasarkan Japan’s Pollution-Related Health Damage Compensation Act. Putusan ini menunjukkan bahwa keadilan bagi korban masih sulit dicapai meski sudah puluhan tahun berlalu.

“Belajar dari kasus di Minamata, minggu ini kami memperkenalkan Pekan Pencegahan Keracunan Merkuri agar publik mengenali gejala-gejalanya dan dapat menghindari serta mencegah keracunan merkuri,” ujar Yuyun kepada Tempo, Rabu, 6 Mei 2026.

Menurut dia, tugas negara setelah meratifikasi Konvensi Minamata tentang merkuri adalah menghapuskan sumber pajanan merkuri. “Masyarakat yang terdampak dapat mencari bantuan layanan kesehatan, karena gejala-gejala dan jenis penyakit keracunan merkuri dapat ditangani di Puskesmas dan fasilitas-fasilitas pelayanan kesehatan,” ujarnya.

Indonesia telah meratifikasi Konvensi Minamata melalui Undang-Undang No. 11 Tahun 2017 dan Peraturan Presiden No. 21 Tahun 2019. Namun, implementasinya masih menghadapi tantangan serius, mulai dari lemahnya pengawasan, kurangnya transparansi data, hingga lemahnya penegakan hukum lintas sektor.

Studi global menunjukkan bahwa penggunaan merkuri dan pencemarannya tidak hanya terjadi di pertambangan emas skala kecil (PESK), tetapi juga ditemukan di berbagai sektor. Mulai dari proses industri dan metalurgi, pembakaran batubara di PLTU, pengelolaan limbah dan insinerasi, pestisida dan fungisida, hingga produk sehari-hari seperti baterai, lampu, kosmetik pemutih kulit, serta alat kesehatan berbasis merkuri, termasuk tambal gigi.

Sementara Dyah Paramita dari Center for Regulation, Policy and Governance (CRPG) menyebutkan bahwa penggunaan merkuri di berbagai sektor menciptakan pajanan dan pencemaran yang masuk ke rantai makanan bersifat bioakumulasi dan biomagnifikasi, sering kali tidak terlihat, namun berdampak serius pada kesehatan masyarakat.

“Indonesia perlu memperkuat implementasi Konvensi Minamata. Tantangan terbesar bukan hanya pada regulasi, tetapi juga pada kesenjangan antara komitmen pemerintah dan kenyataan di lapangan,” ujarnya.

Menurut dia, lemahnya koordinasi antarsektor serta belum adanya sistem transparansi data yang kuat membuat pengendalian merkuri berjalan parsial. Dalam banyak kasus, paparan tidak terdokumentasi dengan baik, sehingga menyulitkan baik intervensi kesehatan maupun kebijakan.

Berbagai alternatif untuk mengurangi penggunaan dan emisi merkuri sebenarnya sudah tersedia, namun implementasinya masih terbatas dan Indonesia juga menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan merkuri sebagai limbah berbahaya.

Hingga saat ini Indonesia belum memiliki fasilitas penyimpanan merkuri jangka panjang yang aman dan sesuai standar internasional. Merkuri yang berhasil dikumpulkan atau disita harus dikirim ke negara lain untuk distabilisasi atau penyimpanan akhir. “Hal ini menimbulkan ketergantungan pada negara lain, meningkatkan risiko tata kelola, biaya, serta potensi kebocoran dalam rantai pengelolaan limbah berbahaya,” ujarnya.

Syarif Hidayat, ahli pengelolaan limbah B3, mengatakan untuk mencegah terulangnya kembali tragedi Minamata seperti yang terjadi 70 tahun lalu, Rencana Aksi Nasional terkait dengan Pengurangan dan Penghapusan Merkuri (RAN-PPM) harus segera diimplementasikan secara konsisten dan terkoordinasi.

“Di samping itu juga masih diperlukan regulasi teknis terkait dengan pengelolaan lanjutan terhadap ekses merkuri yang dikumpulkan dari sektor fasilitas pelayanan kesehatan (alat kesehatan bermerkuri) dan sektor penegakan hukum (barang bukti/sitaan bermerkuri),” kata Syarif.

“Hal ini diperlukan untuk memastikan bahwa ekses merkuri yang telah ditarik tidak kembali dipergunakan dan/atau terlepas ke lingkungan, sehingga menimbulkan terulangnya tragedi Minamata,” tambahnya.

Di banyak wilayah terdampak, paparan merkuri tidak hanya terjadi di lokasi kerja, tetapi juga melalui air, tanah, dan makanan sehari-hari. Masyarakat yang tinggal di sekitar sumber paparan merasakan dampaknya secara langsung, tapi tidak mudah mendapatkan bantuan, informasi, maupun penanganan.

Pajanan terhadap merkuri terhadap kelompok rentan, terutama pada perempuan hamil, anak-anak, lansia dan penderita gangguan imunitas, sangat berbahaya. Minimnya skrining gejala-gejala keracunan merkuri, pelayanan kesehatan, pemantauan, dan pencegahannya membuat banyak kasus tidak terdeteksi dan tidak tertangani dengan baik.

“Saya tinggal di lingkungan yang terdampak aktivitas tambang yang menggunakan merkuri, dan setiap hari saya merasa khawatir saat mengasuh anak karena potensi paparan yang tidak terlihat. Kekhawatiran itu semakin besar, terutama saat saya menjalani kehamilan anak kedua, karena takut dampaknya terhadap kesehatan janin dan masa depan anak-anak saya”, ujar Jumanim, salah satu warga yang terdampak paparan merkuri dari kegiatan penambang emas skala kecil (PESK).

“Kami hanya ingin lingkungan yang aman agar bisa hidup dan membesarkan anak tanpa rasa takut dan cemas karena dampak merkuri terhadap kesehatan warga begitu jelas terjadi di sekitar saya terutama pada anak-anak dan berbagai penyakit yang timbul,” kata dia menambahkan.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Deepfake dan fitnah digital, siapa yang bertanggung jawab?

11 Mei 2026

Spesifikasi Honor X9C: Performa Unggul, Harga Terjangkau

10 Mei 2026

Drone KIZILELMA Bawa Keunggulan Militer Indonesia di ASEAN

10 Mei 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Tentara Anak Sudan Viral di Media Sosial Picu Kekhawatiran

11 Mei 2026

Nexus3: Indonesia di Ambang Bencana Merkuri

11 Mei 2026

Gaji 1 Juta Pengikut TikTok: 5 Sumber Penghasilannya!

11 Mei 2026

50 Ucapan Selamat Naik Haji Penuh Doa untuk Caption Sosial Media

11 Mei 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?