Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Monday, 12 October 2026
Trending
  • 7 langkah untuk mengetahui apakah hubunganmu harus berakhir menurut psikologi
  • Soroti putusan banding kasus Andrie Yunus, Koalisi sipil minta MK segera putus uji materi UU TNI
  • 7 alasan seseorang ingin mengubah pasangan ke arah yang lebih baik menurut psikologi
  • Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!
  • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
  • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
  • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
  • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Politik»Siswa SD di NTT Bunuh Diri Karena Tak Bisa Beli Buku, Ini 3 Solusi Darurat untuk Pemerintah
Politik

Siswa SD di NTT Bunuh Diri Karena Tak Bisa Beli Buku, Ini 3 Solusi Darurat untuk Pemerintah

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover7 February 2026No Comments3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Tragedi Siswa SD di NTT: Pendidikan Indonesia dalam Kondisi Darurat

Seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku dan pena. Kejadian ini menjadi alarm bahwa hak dasar anak Indonesia sedang dalam kondisi gawat darurat. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menilai kejadian ini sebagai bukti nyata lumpuhnya perlindungan negara terhadap pendidikan.

Meski anggaran pendidikan diklaim terus meningkat, kenyataan di lapangan justru berbanding terbalik. Dalam situasi seperti ini, JPPI menyarankan tiga perbaikan mendesak yang harus segera dilakukan pemerintah untuk memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama dalam pendidikan:

1. Berhenti Menggunakan Narasi “Gagal Jajan” dan Akui Mahalnya Pendidikan

Pemerintah harus berhenti memperhalus realitas kemiskinan dengan narasi yang tidak relevan. Kasus di NTT ini secara langsung membantah dan membungkam narasi tersebut. Anak-anak putus sekolah bukan karena mereka tidak bisa jajan cilok di kantin. Mereka menyerah karena biaya pendidikan yang mencekik.

Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, menegaskan bahwa meskipun ada slogan “Wajib Belajar 13 Tahun”, pungutan dan biaya operasional di lapangan masih sangat membebani masyarakat miskin. Pemerintah perlu mengakui bahwa biaya pendidikan tidak hanya terbatas pada uang sekolah, tetapi juga alat tulis dan kebutuhan lainnya yang sering kali tidak terjangkau bagi keluarga kurang mampu.

2. Kembalikan Khittah Anggaran Pendidikan 20%

Terjadi pergeseran prioritas yang mengkhawatirkan. Anggaran pendidikan kini terindikasi mengalami “kanibalisasi” untuk mendanai program populis lain. Menurut data, anggaran pendidikan di APBN 2026 kini tinggal 14%, dari yang semestinya 20%.

Pemerintah harus mengembalikan fungsi utama anggaran 20% untuk membiayai kebutuhan esensial siswa, guru, dan sarana prasarana. Apa gunanya perut kenyang jika anak-anak harus menanggung rasa malu dan depresi karena tidak mampu membeli alat tulis?

3. Jalankan Amanah Konstitusi Tanpa “Cuci Tangan”

Ubaid meminta negara tidak boleh lagi melempar tanggung jawab biaya operasional sekolah kepada orang tua murid. Sesuai Pasal 31 UUD 1945 dan Putusan Mahkamah Konstitusi (MK), pendidikan dasar wajib dibiayai negara tanpa pungutan.

Faktanya, banyak sekolah yang masih menjadi beban ekonomi, hingga berubah menjadi “penjara mental” bagi siswa dari keluarga tidak mampu. JPPI mendesak adanya audit total terhadap dana BOS dan PIP agar bantuan tersebut benar-benar sampai dan mencakup kebutuhan dasar seperti alat tulis.

Kesimpulan

“Jangan biarkan pena yang seharusnya digunakan untuk menulis masa depan, justru menjadi alasan seorang anak kehilangan nyawanya. Negara harus hadir, atau sejarah akan mencatat periode ini sebagai masa di mana pendidikan hanya milik mereka yang mampu membeli pena,” imbuh Ubaid.

Kejadian tragis ini menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah hak dasar setiap anak, dan pemerintah harus bertanggung jawab untuk memastikan semua anak memiliki akses yang layak dan merata. Dengan tindakan nyata dan komitmen yang kuat, Indonesia dapat menjadikan pendidikan sebagai alat untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi seluruh rakyatnya.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Pengamanan Ketat Demo AMPB Pati di DPR, 18.504 Personel Polisi Dikerahkan

31 August 2026

Hidup di Dalam Kita! Filosofi Mendalam 3 Jersey Baru Persib Bandung di Super League 2026/2027

31 August 2026

Demo Warga Pati di DPR, Dua Tuntutan dan Pengaturan Lalu Lintas

31 August 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

7 langkah untuk mengetahui apakah hubunganmu harus berakhir menurut psikologi

12 October 2026

Soroti putusan banding kasus Andrie Yunus, Koalisi sipil minta MK segera putus uji materi UU TNI

12 October 2026

7 alasan seseorang ingin mengubah pasangan ke arah yang lebih baik menurut psikologi

12 October 2026

Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

27 September 2026
TAGS
akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?