Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 16 September 2026
Trending
  • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
  • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
  • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
  • Nilai pasaran tembus Rp 163 miliar! Persija Jakarta belum puas dan masih buru pemain baru
  • ShopeeVIP+ ‘Sekali langganan, dapat semua’, bisa dapat akses Netflix!
  • Dua tahun Prabowo: Antara negara kuat dan pemerintahan efektif
  • Prediksi skor Al Faisaly vs Al Ittihad di Liga Arab Saudi: Kans The Tigers taklukkan tuan rumah
  • Masih lanjut! 14 promo 9.9 kuliner favorit yang masih berlaku, ada PHD hingga HokBen
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Daerah»6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
Daerah

6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover16 September 2026Tidak ada komentar12 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Indonesiadiscover.comMedia sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak-anak dan remaja.   Mereka menggunakannya untuk berkomunikasi dengan teman, mencari hiburan, mengikuti tren, menonton video, bermain, bahkan membangun identitas diri. Bagi orang dewasa, aktivitas tersebut mungkin terlihat sederhana: membuka aplikasi, melihat unggahan teman, memberikan komentar, kemudian menutupnya.

Namun, bagi anak yang mulai memasuki masa remaja, media sosial dapat memiliki dampak psikologis yang jauh lebih kompleks.

Masa awal remaja merupakan periode ketika seseorang sedang mengalami banyak perubahan sekaligus. Tubuh berubah, emosi menjadi lebih kompleks, hubungan dengan teman menjadi semakin penting, dan anak mulai bertanya-tanya tentang siapa dirinya serta bagaimana dirinya dilihat oleh orang lain.

Pada usia inilah kebutuhan untuk diterima oleh kelompok sebaya menjadi semakin kuat. Sebuah komentar, jumlah “like”, foto yang tidak mendapatkan respons, atau melihat teman berkumpul tanpa dirinya dapat terasa jauh lebih besar daripada yang mungkin dibayangkan orang dewasa.

Bukan berarti media sosial selalu buruk. Media sosial juga dapat memberikan manfaat: memperluas pertemanan, membantu anak mengekspresikan diri, menemukan komunitas, memperoleh informasi, dan menjaga hubungan dengan orang lain.

Masalah muncul ketika media sosial menjadi tempat utama anak mencari pengakuan, membandingkan dirinya dengan orang lain, atau menentukan nilai dirinya.

Lalu, mengapa media sosial bisa membuat sebagian anak yang mulai remaja merasa tertekan, tidak percaya diri, bahkan menderita secara emosional?

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (9/9), terdapat enam alasan yang dapat dijelaskan melalui psikologi.

1. Anak Terjebak dalam Perbandingan Sosial yang Tidak Ada Habisnya

Salah satu alasan terbesar media sosial dapat mengganggu kesejahteraan psikologis anak adalah perbandingan sosial.

Dalam psikologi, manusia memang memiliki kecenderungan untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Kita ingin mengetahui apakah kita cukup pintar, cukup menarik, cukup populer, cukup berhasil, atau cukup diterima.

Bagi anak yang mulai remaja, kecenderungan tersebut dapat menjadi sangat kuat karena mereka sedang membangun gambaran tentang dirinya sendiri.

Media sosial membuat proses tersebut berlangsung hampir tanpa batas.

Di dunia nyata, seorang anak mungkin hanya melihat beberapa teman di sekolah. Ia mengetahui siapa yang populer, siapa yang pandai, siapa yang memiliki banyak teman, atau siapa yang dianggap menarik.

Di media sosial, jumlah orang yang dapat dibandingkan dengannya menjadi jauh lebih besar.

Ia bisa melihat teman yang tampak lebih cantik atau tampan.

Ia bisa melihat seseorang yang memiliki pakaian lebih bagus.

Ia melihat teman yang pergi berlibur.

Ia melihat orang lain mendapatkan banyak hadiah.

Ia melihat teman-temannya berkumpul.

Ia melihat seseorang yang tampaknya selalu bahagia.

Masalahnya, anak sering membandingkan kehidupan nyata dirinya dengan versi terbaik kehidupan orang lain.

Foto yang muncul di media sosial biasanya bukan gambaran kehidupan secara keseluruhan. Orang memilih foto terbaik, mengambil gambar berkali-kali, menggunakan pencahayaan tertentu, memilih sudut tertentu, mengedit gambar, lalu mengunggah hasil akhirnya.

Anak yang melihatnya mungkin tidak menyadari proses tersebut.

Akibatnya muncul pikiran:

“Kenapa hidupku tidak seperti dia?”

“Kenapa aku tidak secantik itu?”

“Kenapa teman-temanku lebih populer?”

“Kenapa hidup orang lain terlihat menyenangkan, sedangkan hidupku biasa saja?”

Perbandingan semacam ini dapat mengikis rasa percaya diri.

Yang lebih berbahaya adalah ketika anak mulai menggunakan pencapaian orang lain sebagai ukuran nilai dirinya sendiri.

Ia tidak lagi berpikir, “Dia punya sesuatu yang berbeda.”

Ia mulai berpikir, “Kalau aku tidak seperti dia, berarti aku kurang.”

Di sinilah media sosial dapat berubah dari sarana hiburan menjadi sumber tekanan psikologis.

Mengapa hal ini lebih berat bagi anak yang mulai remaja?

Karena identitas diri mereka belum sepenuhnya terbentuk.

Orang dewasa biasanya sudah memiliki gambaran yang relatif stabil mengenai siapa dirinya. Seorang dewasa mungkin berpikir, “Saya memang tidak terlalu peduli dengan popularitas.”

Namun anak yang baru memasuki masa remaja masih belajar memahami:

Siapa saya? Apakah saya disukai? Apa yang membuat saya berharga? Bagaimana orang lain melihat saya?

Ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut terus dijawab melalui media sosial, penilaian terhadap diri sendiri menjadi sangat bergantung pada apa yang terlihat di layar.

2. Jumlah “Like”, Komentar, dan Pengikut Bisa Menjadi Ukuran Harga Diri

Bagi orang dewasa, satu unggahan yang hanya mendapatkan sedikit “like” mungkin bukan masalah besar.

Tetapi bagi seorang anak yang sedang membangun identitas sosialnya, respons tersebut bisa terasa sangat personal.

Media sosial menciptakan sesuatu yang menarik secara psikologis: angka yang tampak seperti ukuran penerimaan sosial.

Ada jumlah pengikut.

Ada jumlah “like”.

Ada jumlah komentar.

Ada jumlah tayangan.

Ada jumlah orang yang membagikan konten.

Anak kemudian dapat mulai menyimpulkan:

Banyak respons = saya disukai.

Sedikit respons = saya tidak penting.

Padahal hubungan tersebut tidak sesederhana itu.

Jumlah “like” bukan ukuran objektif mengenai nilai seseorang. Namun otak anak yang sedang berkembang dapat memberikan makna emosional yang besar terhadap angka tersebut.

Bayangkan seorang anak mengunggah foto yang menurutnya sangat bagus.

Ia kemudian menunggu.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Setengah jam.

Ia memeriksa kembali.

Tidak banyak respons.

Kemudian muncul pertanyaan:

“Kenapa tidak ada yang menyukai fotoku?”

Dari pertanyaan sederhana tersebut, pikiran dapat berkembang menjadi:

“Apakah aku tidak menarik?”

“Apakah teman-temanku tidak menyukaiku?”

“Kenapa unggahan orang lain mendapatkan ratusan like?”

Inilah yang membuat media sosial dapat menciptakan ketergantungan terhadap validasi eksternal.

Anak perlahan belajar mencari perasaan “aku berharga” dari luar dirinya.

Hari ini mendapatkan banyak “like”, ia merasa senang.

Besok mendapatkan sedikit “like”, ia merasa kecewa.

Kemudian ia mengunggah sesuatu lagi untuk mendapatkan respons.

Jika responsnya bagus, suasana hatinya naik.

Jika tidak, suasana hatinya turun.

Siklus tersebut dapat membuat kesejahteraan emosional bergantung pada sesuatu yang sebenarnya berada di luar kendalinya.

Masalahnya bukan “like”

Yang perlu diperhatikan bukan semata-mata jumlah “like”.

Yang lebih penting adalah makna psikologis yang diberikan anak terhadap angka tersebut.

Jika anak berpikir:

“Postinganku sedikit yang menyukai, mungkin kontennya memang kurang menarik.”

itu masih relatif sehat.

Namun jika ia berpikir:

“Postinganku sedikit yang menyukai, berarti aku tidak berharga.”

maka masalahnya sudah menyentuh harga diri.

Anak perlu belajar bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh respons internet.

3. Takut Ketinggalan Membuat Anak Sulit Merasa Tenang

Ada fenomena psikologis yang sering disebut FOMO, singkatan dari Fear of Missing Out, yaitu rasa takut tertinggal atau kehilangan pengalaman yang sedang dialami orang lain.

Media sosial sangat mudah memicu perasaan ini.

Seorang anak membuka ponselnya dan melihat teman-temannya sedang bermain bersama.

Ia melihat beberapa teman pergi ke suatu tempat.

Ia melihat percakapan kelompok yang tidak melibatkannya.

Ia melihat pesta ulang tahun.

Ia melihat teman-temannya melakukan aktivitas yang menyenangkan.

Kemudian muncul pikiran:

“Kenapa aku tidak diajak?”

Perasaan tersebut bisa sangat menyakitkan bagi anak yang mulai remaja.

Pada fase perkembangan ini, kebutuhan untuk menjadi bagian dari kelompok memang sangat penting. Anak mulai memperluas dunia sosialnya dan hubungan dengan teman sebaya menjadi semakin berpengaruh terhadap emosi dan identitasnya.

Karena itu, melihat orang lain bersenang-senang tanpa dirinya dapat terasa seperti penolakan sosial.

Padahal belum tentu demikian.

Mungkin teman-temannya hanya berkumpul secara spontan.

Mungkin anak lain memang tidak mengetahui bahwa ia ingin ikut.

Mungkin unggahan tersebut hanya menunjukkan satu momen.

Tetapi media sosial hanya menampilkan potongan informasi.

Anak tidak melihat keseluruhan cerita.

Ia hanya melihat:

“Mereka bersama. Aku tidak ada di sana.”

Kemudian pikirannya mengisi bagian yang tidak diketahui dengan asumsi.

“Mereka tidak suka aku.”

“Aku tidak punya teman.”

“Aku tidak dianggap.”

Perasaan tersebut dapat membuat anak terus-menerus memeriksa ponsel.

Ia ingin memastikan apakah ada sesuatu yang sedang terjadi tanpa dirinya.

Akibatnya muncul pola yang melelahkan:

merasa takut tertinggal → membuka media sosial → menemukan sesuatu yang membuat cemas → semakin sering memeriksa media sosial → menemukan lebih banyak hal untuk dibandingkan → semakin cemas.

Media sosial akhirnya tidak lagi digunakan untuk bersenang-senang.

Anak menggunakannya untuk memantau posisi sosialnya.

4. Penampilan Fisik Menjadi Sumber Tekanan yang Sangat Besar

Masa awal remaja juga merupakan periode ketika anak mulai semakin sadar terhadap tubuh dan penampilannya.

Perubahan fisik yang terjadi selama pubertas dapat membuat anak merasa asing terhadap tubuhnya sendiri.

Tinggi badan berubah.

Berat badan berubah.

Wajah berubah.

Kulit dapat mengalami masalah.

Bentuk tubuh berubah.

Pada saat yang sama, media sosial menyajikan ribuan gambar orang yang dianggap “ideal”.

Di sinilah masalah dapat muncul.

Anak melihat wajah yang sempurna.

Kulit yang tampak bersih.

Tubuh yang dianggap ideal.

Rambut yang terlihat sempurna.

Pakaian yang terlihat keren.

Ia kemudian membandingkan dirinya dengan gambar tersebut.

Padahal gambar yang muncul di media sosial bisa dipengaruhi oleh pencahayaan, pose, kamera, filter, riasan, penyuntingan, dan berbagai faktor lain.

Anak mungkin mengetahui bahwa filter ada.

Namun mengetahui secara intelektual bahwa gambar dapat diedit tidak selalu berarti ia kebal terhadap dampak emosionalnya.

Sebuah foto yang terlihat sempurna tetap dapat menjadi standar pembanding.

Akibatnya, anak mulai terlalu memikirkan penampilan.

Ia mungkin tidak mau difoto.

Ia menghapus foto berkali-kali.

Ia takut wajahnya terlihat buruk.

Ia terus memperhatikan berat badan atau bentuk tubuh.

Ia merasa tidak menarik dibandingkan teman-temannya.

Pada tingkat yang lebih berat, ketidakpuasan terhadap tubuh dapat berhubungan dengan masalah psikologis dan perilaku yang lebih serius.

Karena itu, orang tua tidak seharusnya hanya mengatakan:

“Jangan lihat media sosial.”

Pesan yang lebih penting adalah mengajarkan anak cara memahami gambar yang mereka lihat.

Anak perlu mengetahui bahwa media sosial bukan cermin yang menunjukkan kenyataan secara utuh.

Apa yang terlihat di layar adalah hasil pilihan seseorang tentang apa yang ingin ditampilkan.

5. Cyberbullying Membuat Rumah Tidak Lagi Terasa Seperti Tempat Pelarian

Bullying di sekolah memang sudah menjadi masalah sejak lama.

Namun media sosial menciptakan perbedaan penting.

Dulu, seorang anak yang mengalami ejekan di sekolah setidaknya dapat pulang ke rumah dan mendapatkan jarak dari lingkungan tersebut.

Sekarang, komentar, pesan, unggahan, atau ejekan dapat mengikuti anak sampai ke rumah melalui ponsel.

Inilah salah satu alasan mengapa cyberbullying dapat menjadi sangat berat secara psikologis.

Ejekan tidak hanya terjadi di depan beberapa teman.

Sebuah komentar dapat dilihat banyak orang.

Sebuah foto dapat disebarkan.

Sebuah video dapat menjadi bahan ejekan.

Pesan dapat masuk kapan saja.

Dan jejak digital dapat terasa sulit dikendalikan.

Bagi anak yang masih belajar mengelola emosi, pengalaman tersebut bisa terasa sangat besar.

Ia mungkin merasa malu.

Takut.

Marah.

Tidak berdaya.

Bahkan merasa tidak memiliki tempat yang aman.

Salah satu masalah cyberbullying adalah anak sering merasa bahwa seluruh dunia sedang melihat dirinya.

Satu komentar negatif dapat terasa seperti seluruh orang membencinya.

Padahal secara objektif, mungkin hanya beberapa orang yang terlibat.

Namun pengalaman sosial bagi anak dapat terasa sangat nyata.

Lebih jauh lagi, korban cyberbullying sering kali tidak langsung bercerita kepada orang tua.

Mereka mungkin takut ponselnya disita.

Takut dianggap lemah.

Takut masalahnya semakin besar.

Atau merasa orang dewasa tidak akan memahami apa yang terjadi.

Karena itu, perubahan perilaku anak perlu diperhatikan.

Anak yang biasanya aktif tiba-tiba menjadi pendiam.

Ia tampak cemas setiap kali mendapatkan notifikasi.

Tidak ingin pergi ke sekolah.

Menghindari teman.

Tidur terganggu.

Atau menjadi sangat protektif terhadap ponselnya.

Semua itu tidak otomatis berarti anak mengalami cyberbullying, tetapi perubahan yang signifikan layak diperhatikan dan dibicarakan dengan tenang.

6. Media Sosial Dapat Mengganggu Tidur dan Membuat Otak Tidak Pernah Benar-Benar Beristirahat

Alasan terakhir sering dianggap sepele, padahal sangat penting: tidur.

Anak yang mulai remaja membutuhkan tidur yang cukup untuk mendukung perkembangan fisik, kognitif, dan emosional.

Namun media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian.

Satu video berlanjut ke video berikutnya.

Satu unggahan membawa anak ke unggahan lain.

Satu pesan menghasilkan percakapan baru.

Notifikasi dapat muncul kapan saja.

Akhirnya, waktu tidur mundur.

Anak berkata:

“Lima menit lagi.”

Lima menit berubah menjadi tiga puluh menit.

Kemudian satu jam.

Selain durasi penggunaan, ada masalah lain: aktivasi psikologis.

Anak mungkin sudah berada di tempat tidur, tetapi pikirannya masih aktif.

Ia memikirkan komentar seseorang.

Menunggu balasan.

Memikirkan unggahan teman.

Cemas mengenai bagaimana orang lain menilai fotonya.

Atau merasa harus segera merespons pesan.

Akibatnya tubuh berada di tempat tidur, tetapi pikiran belum benar-benar memasuki kondisi istirahat.

Kurang tidur kemudian dapat membuat anak lebih mudah mengalami perubahan suasana hati, sulit berkonsentrasi, mudah tersinggung, dan lebih sulit mengelola emosi.

Di sinilah sebuah siklus dapat terbentuk.

Media sosial mengurangi waktu tidur.

Kurang tidur membuat emosi lebih sulit dikendalikan.

Emosi yang tidak stabil membuat anak lebih mudah merasa tersinggung atau cemas.

Anak kemudian mencari pelarian di media sosial.

Dan siklus tersebut berulang.

Jadi, ketika orang tua melihat anak terus menggunakan ponsel hingga larut malam, persoalannya bukan hanya tentang “anak tidak disiplin”.

Ada mekanisme psikologis dan kebiasaan digital yang perlu dipahami.

Mengapa Anak-Anak Lebih Rentan daripada Orang Dewasa?

Pertanyaan penting berikutnya adalah: jika media sosial memang memiliki risiko, mengapa dampaknya bisa terasa begitu kuat pada anak yang baru memasuki masa remaja?

Salah satu jawabannya adalah perkembangan otak dan psikologis mereka masih berlangsung.

Anak sedang belajar mengatur emosi, mengendalikan impuls, memahami hubungan sosial, dan membangun identitas.

Mereka belum memiliki pengalaman hidup sebanyak orang dewasa.

Seorang dewasa mungkin melihat seseorang yang populer di media sosial dan berpikir:

“Itu hanya media sosial.”

Anak mungkin belum memiliki jarak psikologis seperti itu.

Ia bisa berpikir:

“Itulah kehidupan yang seharusnya aku punya.”

Hal lain yang penting adalah meningkatnya arti hubungan dengan teman sebaya.

Pada masa remaja, penerimaan sosial menjadi semakin penting.

Karena itu, penolakan atau perasaan tidak diterima dapat terasa sangat menyakitkan.

Media sosial kemudian memperbesar pengalaman tersebut dengan membuat status sosial terlihat secara terus-menerus.

Bukan Berarti Media Sosial Harus Dihapus dari Kehidupan Anak

Membicarakan dampak negatif media sosial tidak berarti bahwa satu-satunya solusi adalah melarang anak menggunakan internet.

Pendekatan tersebut sering kali tidak cukup.

Anak tetap akan hidup di dunia digital.

Yang lebih penting adalah membangun literasi digital dan ketahanan psikologis.

Anak perlu belajar bahwa:

jumlah “like” bukan ukuran harga dirinya;

kehidupan orang lain di media sosial tidak menunjukkan keseluruhan kenyataan;

foto yang terlihat sempurna belum tentu menggambarkan kehidupan sebenarnya;

tidak semua komentar harus dipercaya;

tidak semua orang di internet adalah teman;

tidak membalas pesan dengan cepat bukan berarti seseorang membenci kita;

tidak diundang ke suatu acara tidak otomatis berarti kita tidak disukai;

dan meminta bantuan ketika mengalami masalah bukanlah tanda kelemahan.

Orang tua juga perlu berhati-hati agar tidak menjadikan ponsel sebagai musuh.

Jika setiap pembicaraan tentang media sosial berubah menjadi pertengkaran, anak mungkin justru semakin tertutup.

Sebaliknya, orang tua dapat bertanya:

“Apa yang biasanya kamu lihat di media sosial?”

“Ada nggak sesuatu yang pernah bikin kamu merasa tidak enak setelah melihat media sosial?”

“Menurut kamu, kenapa orang suka membandingkan dirinya dengan orang lain di internet?”

Pertanyaan seperti ini membuka ruang bagi anak untuk berpikir, bukan sekadar merasa dihakimi.

Yang Perlu Diperhatikan Orang Tua

Tidak semua anak yang menggunakan media sosial akan mengalami masalah psikologis.

Begitu pula, tidak semua kesedihan anak disebabkan oleh media sosial.

Namun orang tua perlu memperhatikan perubahan yang menetap atau semakin berat.

Misalnya anak:

semakin menarik diri dari keluarga dan teman;

kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai;

menjadi sangat terobsesi terhadap penampilan;

terus-menerus memeriksa ponsel;

mengalami gangguan tidur;

terlihat sangat cemas terhadap penerimaan teman;

menjadi sangat sensitif terhadap komentar;

mengalami penurunan fungsi sekolah;

atau menunjukkan perubahan suasana hati yang signifikan.

Satu tanda saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa anak mengalami gangguan psikologis.

Tetapi jika beberapa perubahan muncul sekaligus dan mengganggu kehidupan sehari-hari, orang tua sebaiknya tidak mengabaikannya.

Jika diperlukan, orang tua dapat berkonsultasi dengan psikolog anak atau profesional kesehatan mental yang kompeten.

Kesimpulan: Masalahnya Bukan Hanya pada Media Sosial, tetapi pada Cara Anak Menggunakannya

Media sosial bukanlah satu-satunya penyebab anak menjadi tidak bahagia.

Kondisi keluarga, hubungan dengan teman, tekanan sekolah, kepribadian, pengalaman bullying, kondisi lingkungan, dan berbagai faktor lainnya juga dapat memengaruhi kesehatan psikologis anak.

Namun media sosial dapat memperkuat sejumlah tekanan yang memang sudah ada dalam masa perkembangan remaja.

Ada perbandingan sosial.

Ada kebutuhan akan validasi.

Ada ketakutan tertinggal.

Ada tekanan terhadap penampilan.

Ada cyberbullying.

Dan ada gangguan terhadap tidur serta kemampuan beristirahat secara mental.

Bagi anak yang mulai remaja, semua itu dapat terasa sangat nyata.

Karena itu, tujuan kita seharusnya bukan membuat anak takut terhadap media sosial.

Tujuannya adalah membuat mereka cukup kuat untuk menggunakannya tanpa menjadikan media sosial sebagai penentu harga diri.

Anak perlu memahami satu hal yang sangat sederhana tetapi penting:

Nilai dirinya jauh lebih besar daripada jumlah pengikut, jumlah “like”, komentar, foto yang bagus, atau seberapa sering orang lain mengundangnya.

Media sosial hanyalah salah satu bagian dari kehidupan.

Ia bukan ukuran kehidupan itu sendiri.

Dan bagi seorang anak yang sedang belajar mengenal dirinya, perbedaan tersebut sangat penting.***

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!

16 September 2026

PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

16 September 2026

Dua tahun Prabowo: Antara negara kuat dan pemerintahan efektif

16 September 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

16 September 2026

5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!

16 September 2026

6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi

16 September 2026

Nilai pasaran tembus Rp 163 miliar! Persija Jakarta belum puas dan masih buru pemain baru

16 September 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?