Nilai tukar rupiah mengalami penurunan sebesar 0,22% pada perdagangan Senin (29/12), berada di level 16.782 per dolar AS. Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memprediksi bahwa rupiah akan terus melemah hari ini karena pengaruh kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia (BI).
Lukman menyampaikan bahwa rupiah masih memiliki potensi untuk melemah terhadap dolar AS, yang dipengaruhi oleh prospek kebijakan pelonggaran dari pemerintah dan BI. Ia juga menilai bahwa pergerakan rupiah akan tetap fluktuatif atau bergejolak hingga akhir tahun ini. Hal ini disebabkan oleh aktivitas perdagangan yang cenderung sepi hingga akhir 2025.
“Rupiah diperkirakan akan berada di kisaran 16.700 hingga 16.800 per dolar AS,” ujar Lukman.
Ada beberapa faktor yang turut memengaruhi pergerakan rupiah, salah satunya adalah adanya Prajogo Pangestu yang menjadi latar belakang lonjakan saham Emiten Hapsoro (SINI) hingga 233%. Selain itu, saham-saham seperti DSSA, PTRO, dan CUAN juga menjadi penopang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun 2025.
Berdasarkan data dari Bloomberg pagi ini, rupiah berada di level 16.772 per dolar AS, melemah sebanyak 27 poin dibandingkan penutupan pekan lalu. Kurs rupiah semakin melemah hingga mencapai level 17.782 per dolar AS pada pukul 10.10 WIB.
Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, juga memberikan proyeksi serupa. “Mata uang rupiah mengalami fluktuasi, namun ditutup dengan penurunan di kisaran Rp 16.760 hingga Rp 16.790 per dolar AS,” kata Ibrahim.
Meski begitu, Ibrahim menilai bahwa koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter pemerintah Indonesia semakin kuat. Hal ini memperkuat ketahanan ekonomi nasional meskipun masih ada risiko global yang menghantui.
“Dengan pondasi makroekonomi yang lebih seimbang, Indonesia memasuki 2026 dengan ruang yang lebih besar untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan,” ujar Ibrahim.



