Warga Bawuran Mengeluhkan Asap Pembakaran Sampah di TPA Piyungan
Warga Kalurahan Bawuran, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul, mengeluhkan asap pembakaran sampah yang terjadi di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan. Masalah ini semakin memprihatinkan setelah kondisi asap semakin parah, khususnya saat musim hujan. Beberapa warga bahkan memilih untuk kembali ke rumah orangtua karena khawatir akan dampak buruknya terhadap balita mereka.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY, Kusno Wibowo, menyatakan bahwa keluhan warga telah ditindaklanjuti oleh jajaran lingkungan hidup Kabupaten Bantul. Ia menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan koordinasi lebih lanjut untuk memastikan kondisi lapangan terkini dan mencari solusi yang tepat.
“Pernah ditindaklanjuti teman-teman lingkungan hidup Bantul. Coba besok kita komunikasikan lagi. Sebaiknya ditanyakan ke Kepala Dinas Lingkungan Hidup Bantul untuk konkretnya,” kata Kusno saat dikonfirmasi.
Menanggapi dugaan sumber asap, Kusno menilai penentuan jarak dan asal pembakaran tidak dapat disimpulkan secara sederhana. Menurutnya, aktivitas pembakaran sampah di kawasan tersebut tidak hanya dilakukan oleh pemerintah daerah.
“Kalau bilang jarak susah mau bilang berapa, soalnya yang bakar sampah juga warga sekitar,” ujarnya.
Aktivitas Pembakaran di TPA
Lurah Bawuran, Supardiono, mengatakan bahwa pihaknya menerima laporan warga mengenai aktivitas pembakaran sampah yang berlangsung selama 24 jam dan menyebabkan asap menyebar hingga ke permukiman. Ia menjelaskan bahwa di dalam TPA Piyungan itu ada pembakaran sampah dengan beberapa cerobong. Itu milik Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DIY dan beroperasi 24 jam.
“Iya memang di lokasi TPA Piyungan sudah tutup untuk menimbun sampah. Tetapi sekarang diganti untuk bakar. Banyak alat di sana, sekitar tiga atau empat cerobong pembakaran sampah di sana,” ujarnya.
Supardiono mengakui bahwa di sekitar TPA Piyungan juga terdapat warga yang melakukan pembakaran sampah secara mandiri. Namun, ia menilai aktivitas pembakaran di kawasan TPA menjadi faktor utama yang memperparah sebaran asap, terutama saat kondisi cuaca hujan dan dingin.
“Yang TPA Piyungan itu, yang milik DLH DIY itu beroperasi 24 jam. Sementara kemarin pas hujan masih tetap beroperasi, sehingga asap itu terperangkap sama hujan. Asapnya enggak bisa naik. Karena cuaca dingin itu kan akhirnya menyebar di sekitar permukiman warga,” katanya.
Ia memperkirakan sekitar 300 kepala keluarga terdampak langsung oleh asap pembakaran yang berlangsung tanpa henti. Sebagai tindak lanjut, pemerintah kalurahan bersama carik, jogoboyo, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas melakukan survei lapangan. Selain itu, pihaknya berencana menyurati DLHK DIY untuk menyampaikan keberatan warga atas aktivitas pembakaran sampah yang berlangsung selama 24 jam.
Cek Lapangan
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bantul, Bambang Purwadi, mengatakan bahwa pembakaran sampah di sekitar TPA Piyungan sebelumnya telah dilakukan pengecekan lapangan. Menurut dia, langkah tersebut semula dimaksudkan sebagai solusi untuk mengatasi persoalan sampah perkotaan.
“Untuk pembakaran sampah di TPA Piyungan sudah pernah kita cek lapangan. Sebenarnya termasuk sebagai langkah solusi untuk mengatasi sampah kota saat ini. Namun, mengingat perkembangan situasi di lapangan, kami akan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi DIY agar pembakaran sampah tersebut dapat dihentikan sementara,” kata Bambang.
Ia menambahkan bahwa DLH Bantul akan memastikan penyebab munculnya asap, apakah berasal dari tata kelola pembakaran atau dari alat pengolah sampah yang tidak bekerja secara optimal.
“Kami juga akan cek untuk memastikan penyebab asap tersebut apakah karena tata kelola atau alat pengolah sampah tidak bekerja maksimal atau ada penyebab lain sehingga perlu dilakukan upaya treatment lain untuk mengatasi masalah tersebut,” ujarnya.
Saat ditanya mengenai kemungkinan asap tidak hanya berasal dari fasilitas milik pemerintah daerah, Bambang menyatakan hal itu masih dalam tahap verifikasi.
“Ya itu yang akan kita cek untuk memastikan perkembangan situasi di lapangan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa setelah informasi tersebut mencuat di media sosial, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Bantul dan instansi terkait untuk penanganan teknis di lapangan.



