Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Friday, 30 October 2026
Trending
  • Pesona 7 Destinasi Musim Dingin di Jepang untuk Liburan Impian
  • 10 soal HOTS IPAS kelas 5 SD materi bab 4 air sumber kehidupan, Kurikulum Merdeka soal terbaru 2026
  • Skandal Korupsi DJKA Sumsel: KPK Terbitkan Sprindik Baru
  • 30 Soal PPG Daljab Madrasah 2026: Latihan Model TaRL Terkini
  • Spesifikasi Panigale V2 Edisi Spesial Marc Marquez: Sang Buas dari Ducati!
  • Apa itu social commerce? Ini caranya berjualan lewat media sosial
  • Prediksi skor Al-Nahda vs Al-Rayyan SC, head to head statistik di AFC Champions League Two 2026-2027
  • Desil warga Banyumas bakal dicek ulang agar BPJS PBI tepat sasaran
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Profil Reza Pahlavi, Putra Raja Terakhir Iran yang Dukung Agresi Israel
Nasional

Profil Reza Pahlavi, Putra Raja Terakhir Iran yang Dukung Agresi Israel

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover5 July 2025No Comments5 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link


KETIKA Israel menyerang Iran dengan agenda untuk mengganti rezim, ada seorang yang menantikan hasilnya dengan harap-harap cemas. Dia adalah
Reza Pahlavi
.


Pahlavi, putra raja terakhir Iran yang diasingkan, baru-baru ini menghadapi kehilangan kredibilitas yang signifikan setelah secara terbuka mendukung tindakan
militer Israel
terhadap Iran. Pada 24 Juni, beberapa jam sebelum gencatan senjata antara Israel dan Iran diumumkan, Pahlavi mengadakan konferensi pers yang disiarkan di televisi di Paris, seperti dilaporkan



Al Jazeera



.


Dengan mengenakan pakaian resmi, ia mendesak Amerika Serikat untuk tidak melanjutkan pembicaraan diplomatik dengan
Iran
mengenai program nuklirnya, dengan alasan bahwa Republik Islam berada di ambang kehancuran—momen yang ia samakan dengan runtuhnya Tembok Berlin.

Siapa Reza Pahlavi?


Dilansir



NDTV



, Reza Pahlavi, lahir pada 31 Oktober 1960 di Teheran, adalah putra sulung dari Mohammad Reza Shah Pahlavi,
Shah Iran
yang terakhir, dan Farah Pahlavi. Dibesarkan dalam lingkungan yang sangat eksklusif, ia bersekolah di sekolah swasta di dalam istana kerajaan, yang diperuntukkan bagi keluarga kekaisaran dan orang-orang dekatnya.


Sejak usia muda, ia dilatih sebagai pilot, menyelesaikan penerbangan solo pertamanya pada usia 11 tahun. Pada usia 17 tahun, ia meninggalkan Iran untuk melanjutkan pelatihan militer dan pilotnya di Amerika Serikat. Pendidikan tingginya meliputi studi di Williams College, Universitas Amerika di Kairo, dan akhirnya gelar ilmu politik dari University of Southern California pada tahun 1985.


Setelah Revolusi Islam 1979, yang menggulingkan ayahnya dan menghapuskan monarki, Reza Pahlavi mengasingkan diri, terutama tinggal di Amerika Serikat. Meskipun tidak memiliki peran politik resmi di Iran, ia telah menjadi tokoh simbolis bagi banyak orang di diaspora Iran dan mengadvokasi Iran yang sekuler dan demokratis.


Ia kerap tampil di media, menyerukan perubahan rezim dan mendesak rakyat Iran serta pasukan militer untuk bangkit melawan Republik Islam saat ini, yang ia gambarkan sebagai negara yang sedang runtuh. Pahlavi membayangkan masa depan di mana rakyat Iran merebut kembali negara mereka dan membuka lembaran baru dalam sejarahnya.


Ia menikah dengan Yasmine Etemad-Amini, dan mereka memiliki tiga orang putri. Selama bertahun-tahun, Pahlavi telah menulis beberapa buku yang membahas masa lalu dan masa depan Iran, termasuk



Gozashteh va Ayandeh



(2000),



Winds of Change: The Future of Democracy in Iran



(2002), dan



IRAN: The Deciding Hour



(2009). Ia secara aktif berpartisipasi dalam diskusi hak asasi manusia internasional, mempromosikan mobilisasi akar rumput dan tekanan internasional untuk mendukung aspirasi demokrasi Iran.


Meskipun ia menikmati pengakuan di antara beberapa kalangan oposisi, pengaruh politik Pahlavi di Iran masih terbatas. Upayanya telah dikritik oleh kelompok oposisi Iran lainnya, yang mempertanyakan kredensial demokrasinya dan menyoroti warisan kontroversial keluarganya. Aktivitas politiknya sebagian besar terdiri dari pernyataan publik, keterlibatan media sosial, dan wawancara, tanpa basis organisasi yang signifikan di dalam Iran.

Harapan yang Tak Tercapai


Ia menyerukan kepada warga Iran untuk memanfaatkan kesempatan yang diciptakan oleh konflik tersebut untuk melakukan protes dan mendorong pembelotan dari militer dan pasukan keamanan Iran.


Namun, protes massa yang ia antisipasi gagal terwujud. Sebaliknya, banyak warga Iran, termasuk kritikus pemerintah, berkumpul di sekitar bendera nasional sebagai tanggapan atas apa yang mereka lihat sebagai serangan asing. Klaim Pahlavi bahwa ia siap untuk menggantikan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan memimpin Iran menuju perdamaian dan demokrasi disambut dengan skeptisisme, karena pandangannya tidak selaras dengan mayoritas warga Iran.


Kemauannya yang terbuka untuk bekerja sama dengan Israel guna menggulingkan Republik Islam tersebut membuat banyak rekan senegaranya terasing. Pakar Iran Trita Parsi mencatat bahwa kegagalan Pahlavi untuk mengutuk pemboman besar-besaran Israel, yang menewaskan lebih dari 600 orang termasuk warga sipil, sangat merusak dukungannya yang sudah terbatas. Kantor Pahlavi menolak mengomentari kritik tersebut.


Dukungan untuk Pahlavi sebagian besar datang dari diaspora Iran dan sering kali berakar pada pertentangan terhadap rezim saat ini dan nostalgia terhadap monarki pra-1979, daripada dukungan politik yang tulus. Beberapa pendukung memandangnya sebagai simbol Iran yang sekuler dan pro-Barat sebelum Republik Islam.

Kontroversi Dinasti Pahlavi


Namun, para analis menekankan bahwa daya tariknya sebagian disebabkan oleh kurangnya alternatif politik yang layak di dalam Iran, mengingat penindasan pemerintah terhadap perbedaan pendapat. Dinasti Pahlavi sendiri memiliki sejarah yang kontroversial. Reza Khan, kakek Pahlavi, mendirikan rezim otoriter pada 1920an yang menekan otoritas agama dan kaum minoritas, warisan yang dilanjutkan oleh ayahnya Mohammad Reza Pahlavi.


Pemerintahan Pahlavi ditandai oleh represi politik, ketimpangan ekonomi, dan keterputusan dari rakyat, yang berpuncak pada revolusi 1979. Reza Pahlavi sebagian besar hidup dalam pengasingan sejak saat itu, awalnya menganjurkan pemulihan monarki tetapi kemudian mendukung demokrasi sekuler, meskipun ia bersikeras bahwa ia hanya akan mencari kekuasaan jika diminta oleh orang Iran.

Keberpihakan pada Kepentingan Israel


Upaya untuk membangun koalisi oposisi yang luas telah gagal, sebagian karena desakan Pahlavi pada kepemimpinan dan perilaku tidak demokratis dari beberapa pendukungnya, yang membela rezim Shah. Kunjungannya ke Israel pada 2023, termasuk sesi foto dengan Perdana Menteri Netanyahu dan kunjungan ke Tembok Barat, semakin merusak posisinya di antara orang Iran, yang banyak di antaranya adalah Muslim Syiah dan memandang Israel sebagai musuh. Perjalanan ini menyoroti keberpihakannya dengan kepentingan Israel, yang oleh banyak orang dianggap sebagai pengkhianatan.


Kepada

Al Jazeera

, para ahli seperti Barbara Slavin dan Trita Parsi berpendapat bahwa retorika Pahlavi selama konflik baru-baru ini bersifat kontraproduktif dan tidak sesuai dengan sentimen publik Iran. Kegagalannya untuk mengutuk serangan Israel terhadap warga sipil telah membuat banyak orang terasing, termasuk mereka yang menentang pemerintah Iran.


Parsi berpendapat Israel menggunakan Pahlavi untuk melegitimasi agresinya terhadap Iran, sementara seruan Pahlavi agar warga Iran bangkit selama serangan Israel dianggap sebagai permintaan agar mereka melakukan “pekerjaan kotor”-nya, yang selanjutnya mengikis popularitasnya.

Berita hubungan Internasional Jurnalistik Politik politik dan pemerintahan
Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Pesona 7 Destinasi Musim Dingin di Jepang untuk Liburan Impian

30 October 2026

Apa itu social commerce? Ini caranya berjualan lewat media sosial

30 October 2026

Dua tahun Prabowo-Gibran, Kemenpora percepat transformasi dan ukir prestasi olahraga

26 October 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Pesona 7 Destinasi Musim Dingin di Jepang untuk Liburan Impian

30 October 2026

10 soal HOTS IPAS kelas 5 SD materi bab 4 air sumber kehidupan, Kurikulum Merdeka soal terbaru 2026

30 October 2026

Skandal Korupsi DJKA Sumsel: KPK Terbitkan Sprindik Baru

30 October 2026

30 Soal PPG Daljab Madrasah 2026: Latihan Model TaRL Terkini

30 October 2026
TAGS
akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?