Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Thursday, 8 October 2026
    Trending
    • Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
    • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
    • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
    • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • Dua tahun Prabowo: Antara negara kuat dan pemerintahan efektif
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
    Indonesia Discover
    Login
    Indonesia Discover
    • Nasional
    • Internasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
    • Ragam
    • Olahraga
    • Login
    Home»Nasional»Politik»Perjanjian Dagang AS-Indonesia: Kekuatan Pangan Prabowo Di Tengah Ancaman
    Politik

    Perjanjian Dagang AS-Indonesia: Kekuatan Pangan Prabowo Di Tengah Ancaman

    admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover1 March 2026No Comments5 Mins Read
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Pilihan yang Rumit dalam Geopolitik Ekonomi Global

    Dalam dinamika geopolitik ekonomi global, setiap negara selalu dihadapkan pada pilihan yang tampak sederhana namun penuh tantangan: melawan, berkompromi, atau tunduk. Sejarah menunjukkan bahwa negara yang memilih jalur terakhir sering kali harus membayar harga yang sangat tinggi.

    Taktik keras Donald Trump sudah menjadi rahasia umum: menaikkan tarif secara sepihak, menekan lawan dagang, dan memaksa mitra untuk tunduk pada kepentingan ekonomi Amerika Serikat. Kini, Prabowo Subianto dan Indonesia tampaknya menjadi bab berikutnya dalam pola tekanan ini.

    ART 2026: Janji Megah Atau Ancaman Pangan?

    Pada 19 Februari 2026, di Washington D.C., Presiden Prabowo menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) 2026 dengan Presiden Trump. Kesepakatan ini membuka hampir seluruh pasar domestik bagi produk AS, termasuk sektor pertanian yang menjadi inti ketahanan pangan nasional.

    Indonesia menyetujui penghapusan tarif impor untuk lebih dari 99 persen barang AS, sementara AS menurunkan tarif impor produk Indonesia menjadi 19 persen dari sebelumnya 32 persen. Total nilai kerja sama dagang dan investasi tercatat sebesar US$38,4 miliar, termasuk akses pasar ekspor bagi 1.819 produk Indonesia.

    Meskipun kesepakatan ini terlihat megah di atas kertas, dampaknya terhadap ketahanan pangan domestik menimbulkan pertanyaan serius. Indonesia berkomitmen membeli lebih dari US$4,5 miliar produk pertanian AS, sebagian besar terserap oleh kedelai, jagung, dan gandum.

    Kedelai, bahan baku utama tahu, tempe, dan pakan ternak, akan diimpor senilai US$1,37 miliar dengan volume sekitar 1 juta ton. Harga kedelai AS yang lebih murah secara otomatis menekan produksi lokal, menghadirkan ancaman nyata bagi eksistensi petani kecil dan menengah yang selama ini mengandalkan hasil panen sebagai mata pencaharian.

    Dari 28,64 persen tenaga kerja Indonesia yang bergerak di sektor pertanian (±40,69 juta orang menurut Badan Pusat Statistik), jagung menjadi tulang punggung di provinsi sentra seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, dan Sulawesi Selatan. Jagung bukan sekadar komoditas, melainkan fondasi ekonomi bagi jutaan rumah tangga yang hidup dari lahan mereka.

    Jagung, tulang punggung pakan ternak dan unggas, akan diimpor sekitar 1,6 juta ton senilai US$855 juta. Harga jagung AS yang lebih murah menekan harga lokal dan membebani petani di sentra produksi. Tanpa proteksi harga atau skema penyangga yang kuat, para petani menghadapi risiko tersingkir secara bertahap.

    Selain itu, dengan asumsi luas tanam kedelai mencapai 200.000 hektare yang tersebar di provinsi utama seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Barat, sektor kedelai menyerap sekitar 14 juta hari kerja dengan nilai upah mencapai Rp910 miliar. Meskipun padat karya, para petani tetap meraih keuntungan melalui efisiensi input, yang secara nyata menjaga likuiditas ekonomi lokal serta kesejahteraan rumah tangga di pedesaan.

    Data ini menegaskan bahwa sektor pertanian bukan hanya soal pangan, tapi juga soal ekonomi dan stabilitas sosial di wilayah pedesaan.

    Gandum, meski belum diproduksi secara signifikan di dalam negeri, menjadi simbol ketergantungan Indonesia pada impor. Sekitar 5 juta ton gandum senilai US$1,25 miliar akan masuk pasar domestik tanpa kuota atau tarif bertahap. Dominasi satu negara pemasok tetap berisiko bagi kedaulatan pangan jangka panjang, terutama bila terjadi gejolak harga global atau gangguan pasokan.

    Jalannya Negara Lain Menghadapi Tekanan AS

    Di sisi lain, respons negara lain terhadap tekanan AS berbeda-beda. Cina memilih melawan, tetap membeli komoditas AS dalam jumlah besar, tetapi memberlakukan kuota, tarif, dan subsidi untuk melindungi petani domestik. Vietnam mengambil jalur kompromi terukur, membuka akses bagi komoditas tertentu tanpa sepenuhnya membuka pasar. Brazil mengandalkan kekuatan produksinya sendiri sebagai eksportir besar kedelai dan jagung dunia. Jepang dan Korea membuka akses pasar terbatas, namun tetap mempertahankan proteksi untuk sektor pertanian yang sensitif.

    Indonesia tampaknya mengambil jalur berbeda. Pasar pertanian domestik dibuka hampir sepenuhnya, tanpa instrumen perlindungan yang memadai. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah langkah ini merupakan kompromi strategis atau bentuk ketundukan yang dibungkus diplomasi ekonomi?

    Janji Swasembada, Realitas Pasar Murah

    Swasembada pangan adalah janji politik yang kuat. Janji ini berbicara tentang kedaulatan, tentang kemampuan berdiri di atas kaki sendiri, dan tentang keberlanjutan ekonomi nasional. Namun komitmen impor besar-besaran dengan tarif nol persen justru mengirim sinyal berbeda.

    Tanpa penguatan produksi domestik, subsidi yang memadai, dan perlindungan harga, janji swasembada pangan sulit diwujudkan. Perdagangan internasional memang tak terhindarkan, tetapi keseimbangan adalah kunci: impor harus menjadi pelengkap, bukan pengganti produksi nasional.

    ART 2026 memang bisa menjadi peluang jika diimbangi dengan kebijakan domestik yang kuat. Subsidi input, kredit murah bagi petani, penerapan teknologi pertanian modern, dan perlindungan harga menjadi instrumen krusial agar sektor pertanian tetap kompetitif. Tanpa itu, Indonesia berisiko menjadi pasar murah bagi produk-produk AS, sementara petani lokal kehilangan pangsa pasar mereka sendiri.

    Dampak sosial dan ekonomi bagi jutaan rumah tangga yang menggantungkan hidup pada pertanian tidak bisa diabaikan. Jika jagung, kedelai, dan gandum impor menekan harga lokal, bukan hanya pendapatan petani yang tergerus, tetapi fondasi ketahanan pangan nasional pun akan melemah. Ini bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga persoalan kedaulatan dan stabilitas sosial.

    Pada akhirnya, pilihan sudah diambil. Indonesia kini menghadapi pertanyaan yang kritis: apakah sedang membangun kedaulatan pangan, atau justru memperdalam ketergantungan? Jika petani kalah di negerinya sendiri, sejarah akan mencatatnya bukan sebagai kemenangan diplomasi, tetapi sebagai momentum ketika Indonesia memilih menjadi pasar, bukan pemain.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    admin_indonesiadiscover
    • Website

    Berita Terkait

    Pengamanan Ketat Demo AMPB Pati di DPR, 18.504 Personel Polisi Dikerahkan

    31 August 2026

    Hidup di Dalam Kita! Filosofi Mendalam 3 Jersey Baru Persib Bandung di Super League 2026/2027

    31 August 2026

    Demo Warga Pati di DPR, Dua Tuntutan dan Pengaturan Lalu Lintas

    31 August 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

    27 September 2026

    PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

    16 September 2026

    6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

    16 September 2026

    Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

    16 September 2026
    TAGS
    akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
    © 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?