Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Minggu, 1 Maret 2026
Trending
  • Angie Kalengkian, Cewek Cantik Manado yang Punya Banyak Teman dari Hobi Cosplay
  • 5 cara cek kepadatan tol Trans-Jawa real time untuk mudik Lebaran 2026, perjalanan lebih tenang
  • Man United Jadi Favorit Masuk 3 Besar Liga Inggris, Nasib Carrick Terbuka
  • Mercedes-AMG GT XX Listrik 1.341 HP Siap Menggebrak Dunia Supercar
  • Ibu Tiri Sukabumi Bantah Tuduhan aniaya Anak, Sebut Korban Sakit: Viral di Media Sosial
  • Perjanjian Dagang AS-Indonesia: Kekuatan Pangan Prabowo Di Tengah Ancaman
  • 5 Populer Regional: Nasib Bripda Masias Dihentikan – Viral Ketua RT Lewati Jalan Basah
  • Pinjaman Rp 2 Triliun Dedi Mulyadi untuk Infrastruktur Jawa Barat 2030
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Politik»Perjanjian Dagang AS-Indonesia: Kekuatan Pangan Prabowo Di Tengah Ancaman
Politik

Perjanjian Dagang AS-Indonesia: Kekuatan Pangan Prabowo Di Tengah Ancaman

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover1 Maret 2026Tidak ada komentar5 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Pilihan yang Rumit dalam Geopolitik Ekonomi Global

Dalam dinamika geopolitik ekonomi global, setiap negara selalu dihadapkan pada pilihan yang tampak sederhana namun penuh tantangan: melawan, berkompromi, atau tunduk. Sejarah menunjukkan bahwa negara yang memilih jalur terakhir sering kali harus membayar harga yang sangat tinggi.

Taktik keras Donald Trump sudah menjadi rahasia umum: menaikkan tarif secara sepihak, menekan lawan dagang, dan memaksa mitra untuk tunduk pada kepentingan ekonomi Amerika Serikat. Kini, Prabowo Subianto dan Indonesia tampaknya menjadi bab berikutnya dalam pola tekanan ini.

ART 2026: Janji Megah Atau Ancaman Pangan?

Pada 19 Februari 2026, di Washington D.C., Presiden Prabowo menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) 2026 dengan Presiden Trump. Kesepakatan ini membuka hampir seluruh pasar domestik bagi produk AS, termasuk sektor pertanian yang menjadi inti ketahanan pangan nasional.

Indonesia menyetujui penghapusan tarif impor untuk lebih dari 99 persen barang AS, sementara AS menurunkan tarif impor produk Indonesia menjadi 19 persen dari sebelumnya 32 persen. Total nilai kerja sama dagang dan investasi tercatat sebesar US$38,4 miliar, termasuk akses pasar ekspor bagi 1.819 produk Indonesia.

Meskipun kesepakatan ini terlihat megah di atas kertas, dampaknya terhadap ketahanan pangan domestik menimbulkan pertanyaan serius. Indonesia berkomitmen membeli lebih dari US$4,5 miliar produk pertanian AS, sebagian besar terserap oleh kedelai, jagung, dan gandum.

Kedelai, bahan baku utama tahu, tempe, dan pakan ternak, akan diimpor senilai US$1,37 miliar dengan volume sekitar 1 juta ton. Harga kedelai AS yang lebih murah secara otomatis menekan produksi lokal, menghadirkan ancaman nyata bagi eksistensi petani kecil dan menengah yang selama ini mengandalkan hasil panen sebagai mata pencaharian.

Dari 28,64 persen tenaga kerja Indonesia yang bergerak di sektor pertanian (±40,69 juta orang menurut Badan Pusat Statistik), jagung menjadi tulang punggung di provinsi sentra seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, dan Sulawesi Selatan. Jagung bukan sekadar komoditas, melainkan fondasi ekonomi bagi jutaan rumah tangga yang hidup dari lahan mereka.

Jagung, tulang punggung pakan ternak dan unggas, akan diimpor sekitar 1,6 juta ton senilai US$855 juta. Harga jagung AS yang lebih murah menekan harga lokal dan membebani petani di sentra produksi. Tanpa proteksi harga atau skema penyangga yang kuat, para petani menghadapi risiko tersingkir secara bertahap.

Selain itu, dengan asumsi luas tanam kedelai mencapai 200.000 hektare yang tersebar di provinsi utama seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Barat, sektor kedelai menyerap sekitar 14 juta hari kerja dengan nilai upah mencapai Rp910 miliar. Meskipun padat karya, para petani tetap meraih keuntungan melalui efisiensi input, yang secara nyata menjaga likuiditas ekonomi lokal serta kesejahteraan rumah tangga di pedesaan.

Data ini menegaskan bahwa sektor pertanian bukan hanya soal pangan, tapi juga soal ekonomi dan stabilitas sosial di wilayah pedesaan.

Gandum, meski belum diproduksi secara signifikan di dalam negeri, menjadi simbol ketergantungan Indonesia pada impor. Sekitar 5 juta ton gandum senilai US$1,25 miliar akan masuk pasar domestik tanpa kuota atau tarif bertahap. Dominasi satu negara pemasok tetap berisiko bagi kedaulatan pangan jangka panjang, terutama bila terjadi gejolak harga global atau gangguan pasokan.

Jalannya Negara Lain Menghadapi Tekanan AS

Di sisi lain, respons negara lain terhadap tekanan AS berbeda-beda. Cina memilih melawan, tetap membeli komoditas AS dalam jumlah besar, tetapi memberlakukan kuota, tarif, dan subsidi untuk melindungi petani domestik. Vietnam mengambil jalur kompromi terukur, membuka akses bagi komoditas tertentu tanpa sepenuhnya membuka pasar. Brazil mengandalkan kekuatan produksinya sendiri sebagai eksportir besar kedelai dan jagung dunia. Jepang dan Korea membuka akses pasar terbatas, namun tetap mempertahankan proteksi untuk sektor pertanian yang sensitif.

Indonesia tampaknya mengambil jalur berbeda. Pasar pertanian domestik dibuka hampir sepenuhnya, tanpa instrumen perlindungan yang memadai. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah langkah ini merupakan kompromi strategis atau bentuk ketundukan yang dibungkus diplomasi ekonomi?

Janji Swasembada, Realitas Pasar Murah

Swasembada pangan adalah janji politik yang kuat. Janji ini berbicara tentang kedaulatan, tentang kemampuan berdiri di atas kaki sendiri, dan tentang keberlanjutan ekonomi nasional. Namun komitmen impor besar-besaran dengan tarif nol persen justru mengirim sinyal berbeda.

Tanpa penguatan produksi domestik, subsidi yang memadai, dan perlindungan harga, janji swasembada pangan sulit diwujudkan. Perdagangan internasional memang tak terhindarkan, tetapi keseimbangan adalah kunci: impor harus menjadi pelengkap, bukan pengganti produksi nasional.

ART 2026 memang bisa menjadi peluang jika diimbangi dengan kebijakan domestik yang kuat. Subsidi input, kredit murah bagi petani, penerapan teknologi pertanian modern, dan perlindungan harga menjadi instrumen krusial agar sektor pertanian tetap kompetitif. Tanpa itu, Indonesia berisiko menjadi pasar murah bagi produk-produk AS, sementara petani lokal kehilangan pangsa pasar mereka sendiri.

Dampak sosial dan ekonomi bagi jutaan rumah tangga yang menggantungkan hidup pada pertanian tidak bisa diabaikan. Jika jagung, kedelai, dan gandum impor menekan harga lokal, bukan hanya pendapatan petani yang tergerus, tetapi fondasi ketahanan pangan nasional pun akan melemah. Ini bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga persoalan kedaulatan dan stabilitas sosial.

Pada akhirnya, pilihan sudah diambil. Indonesia kini menghadapi pertanyaan yang kritis: apakah sedang membangun kedaulatan pangan, atau justru memperdalam ketergantungan? Jika petani kalah di negerinya sendiri, sejarah akan mencatatnya bukan sebagai kemenangan diplomasi, tetapi sebagai momentum ketika Indonesia memilih menjadi pasar, bukan pemain.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Wamen Stella Kritik Dwi Sasetyaningtyas Soal Anak Tidak Jadi WNI

1 Maret 2026

Sufisme Hijau dan Protes Flores Menentang Geotermal

1 Maret 2026

Poin Gugatan MK Terkait Penggunaan Dana Pendidikan

28 Februari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Angie Kalengkian, Cewek Cantik Manado yang Punya Banyak Teman dari Hobi Cosplay

1 Maret 2026

5 cara cek kepadatan tol Trans-Jawa real time untuk mudik Lebaran 2026, perjalanan lebih tenang

1 Maret 2026

Man United Jadi Favorit Masuk 3 Besar Liga Inggris, Nasib Carrick Terbuka

1 Maret 2026

Mercedes-AMG GT XX Listrik 1.341 HP Siap Menggebrak Dunia Supercar

1 Maret 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?