Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Minggu, 17 Mei 2026
Trending
  • 182 Orang Tua Laporkan Kekerasan Anak di Jogja, LPSK Sosialisasi Pengajuan Restitusi
  • Panduan Surabaya: Tempat Healing, Kuliner, dan Spot Foto Terbaik
  • Jika Menangis Saat Nonton Film, Jiwa Anda Lebih Indah, Ini 7 Alasan Psikologi
  • Orang yang Berjalan dengan Tangan di Belakang Punggung: 7 Perilaku yang Mengungkap Psikologi Mereka
  • Daftar Nama Pejabat di Indonesia, Mulai Presiden Hingga Jaksa Agung
  • Harga Samsung Galaxy S25 Ultra, Layar Unggul Lebih Baik dari iPhone 16 dan Google Pixel 9, Apakah Layak Dibeli?
  • Cara Menggunakan Strategi Dollar Cost Averaging untuk Investasi
  • Dinas Parekraf Cabut Izin Karaoke B-Fashion dan The Seven Usai Temukan Narkoba
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Politik»Penggiat Budaya Kritik Polemik Kirab Mahkota Binokasih, Eka Santosa: Jangan Lupakan Sejarah Sunda
Politik

Penggiat Budaya Kritik Polemik Kirab Mahkota Binokasih, Eka Santosa: Jangan Lupakan Sejarah Sunda

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover17 Mei 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda: Antara Hiburan dan Kontroversi

Kirab budaya Milangkala Tatar Sunda yang digelar oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dinilai memiliki dua sisi. Di satu sisi, kegiatan ini memberikan hiburan bagi masyarakat dan membuka peluang ekonomi bagi komunitas budaya yang terlibat. Namun di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa simbol-simbol budaya yang digunakan dalam kirab bisa mengaburkan sejarah.

Eka Santosa, pegiat budaya sekaligus mantan Ketua DPRD Jawa Barat, menegaskan bahwa jabatan gubernur adalah posisi konstitusional yang berbeda dengan posisi Sultan Yogyakarta. Ia menyoroti pentingnya memahami konteks historis dari simbol-simbol yang digunakan dalam kirab, seperti Mahkota Binokasih. Menurut Eka, Mahkota Binokasih memiliki keterkaitan kuat dengan Sumedang, yang menyimpan sejarah kerajaan serta garis keturunan penerus peradaban Sunda.

Ia menyarankan agar benda-benda bersejarah tersebut tetap berada di museum untuk menjaga keamanannya. Meski tidak apriori terhadap ekspresi budaya, Eka mempertanyakan pelaksanaan kirab yang kini memunculkan kontroversi di ruang publik. Menurutnya, masyarakat berhak mempertanyakan siapa pihak penyelenggara kirab dan bagaimana agenda tersebut masuk dalam kebijakan pemerintah daerah.

Pentingnya Memahami Sejarah dalam Budaya

Eka menjelaskan bahwa jabatan gubernur merupakan posisi konstitusional yang diatur melalui undang-undang pemerintahan daerah dan mekanisme pemilihan kepala daerah. Dedi Mulyadi sebagai gubernur harus dihormati karena dipilih melalui mekanisme konstitusi. Namun, ia menekankan bahwa gubernur bukan raja.

Di Indonesia hanya ada satu kepala daerah yang memiliki legitimasi monarki sekaligus jabatan gubernur secara konstitusional, yakni Sultan Yogyakarta. Status tersebut memiliki landasan hukum kuat dalam Undang-Undang Dasar 1945. Eka menegaskan bahwa di luar konteks Yogyakarta, tidak ada dasar hukum yang memungkinkan gubernur merangkap simbol monarki.

Menurut Eka, seseorang boleh saja mendapat gelar budaya dari komunitas tertentu dalam ranah nonformal. Namun, ia membedakan antara jabatan publik dengan legitimasi personal atau budaya. Ia juga menyinggung wacana penetapan kerajaan Sunda yang ramai dibicarakan publik belakangan ini. Hingga kini, belum ada penetapan konstitusional terkait berdirinya kerajaan Sunda modern.

Perhatian pada Isu Kritis

Di sisi lain, Eka meminta pemerintah provinsi tidak melupakan persoalan yang lebih mendesak bagi masyarakat Jawa Barat. Ia menyoroti persoalan sampah di Bandung Raya, pencemaran sungai, hingga kerusakan kawasan hutan lindung yang dinilai membutuhkan perhatian serius. Menurutnya, nilai utama peradaban Sunda justru terletak pada keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.

Eka berharap parade budaya tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi menjadi momentum penguatan nilai-nilai budaya Sunda secara substansial. Bagus mengenalkan sejarah Sunda, tapi jangan sampai justru mengaburkan sejarah itu sendiri.

Masalah Lingkungan yang Perlu Diperhatikan

Masalah lingkungan seperti darurat sampah dan kerusakan hutan lindung menjadi fokus utama bagi masyarakat Jawa Barat. Eka menegaskan bahwa isu-isu ini membutuhkan perhatian serius dari pemerintah daerah. Ia menyarankan agar kirab budaya tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menyampaikan pesan-pesan penting tentang perlindungan lingkungan dan penghargaan terhadap nilai-nilai budaya.

Kritik yang disampaikan oleh Eka tidak bertujuan untuk menolak inovasi budaya, tetapi lebih pada upaya untuk menjaga keaslian dan makna dari simbol-simbol budaya yang digunakan. Ia menekankan bahwa penggunaan simbol-simbol sejarah harus dilakukan dengan penjelasan yang utuh agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat.


Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Orang yang Berjalan dengan Tangan di Belakang Punggung: 7 Perilaku yang Mengungkap Psikologi Mereka

17 Mei 2026

Warga Maros Bayar Rp30 Juta untuk Jadi Satpol Sulsel

17 Mei 2026

Penguatan Kompolnas dengan Revisi UU Kepolisian

17 Mei 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

182 Orang Tua Laporkan Kekerasan Anak di Jogja, LPSK Sosialisasi Pengajuan Restitusi

17 Mei 2026

Panduan Surabaya: Tempat Healing, Kuliner, dan Spot Foto Terbaik

17 Mei 2026

Jika Menangis Saat Nonton Film, Jiwa Anda Lebih Indah, Ini 7 Alasan Psikologi

17 Mei 2026

Orang yang Berjalan dengan Tangan di Belakang Punggung: 7 Perilaku yang Mengungkap Psikologi Mereka

17 Mei 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?