Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 26 Agustus 2026
Trending
  • Hongqi memulai perjalanan di Indonesia, menghadirkan nama yang terbentuk dari sejarah
  • Dokter Hewan: Merawat Kucing untuk Kesehatan Keluarga
  • Profil dan Biodata Asta RAN, Musisi yang Aktif Sejak SMA
  • Kementerian PKP Butuh Rp106 Triliun, Dana Terbesar untuk Bedah Rumah
  • 7 fakta misteri rumah kosong di Flex X Cop 2, temukan 5 mayat!
  • Kalender Liturgi Katolik Hari Ini: Jumat, 21 Agustus 2026, Pesta Wajib St Pius X
  • Hasil D Academy 8 Top 31 Grup 5, Wakil Cirebon dan Garut Lolos
  • Jangan terkena panas, kunjungi 10 destinasi dingin di Indonesia ini
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Pengepul Sawit Kesulitan BBM, Codet Minta Sopir Truk Balik Arah
Nasional

Pengepul Sawit Kesulitan BBM, Codet Minta Sopir Truk Balik Arah

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover26 April 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Berdampak Luas pada Pelaku Usaha dan Masyarakat

Pada hari Sabtu (18/4/2026), telepon ponsel Susanto (35) tiba-tiba berdering. Panggilan tersebut datang dari sopir yang membawa truk milik Codet, sapaan akrabnya, ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Sang sopir mengabarkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Dexlite.

Codet merasa terkejut karena kenaikan tersebut terjadi secara mendadak tanpa informasi yang memadai. Ia mengira kenaikan tidak akan terlalu besar, namun ternyata harga melonjak hampir dua kali lipat. Akibatnya, ia meminta sang sopir untuk kembali karena masih ada sisa BBM.

Menurut Codet, lonjakan harga tersebut mengacaukan perhitungan operasional yang telah disusun sebelumnya. Perasaan pertama yang muncul adalah kaget dan marah. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya, sehingga semua hitungan operasional harus diubah.

Sebelum kenaikan, harga Dexlite berada di kisaran Rp14.000 hingga Rp15.000 per liter. Dengan dana sekitar Rp350.000, ia bisa mendapatkan 25 liter BBM untuk sekali pengisian. Biasanya, sekali isi 25 liter cukup Rp350 ribu. Dalam sehari, ia bisa habis 25 sampai 40 liter BBM, tergantung jarak tempuh. Jika jauh, biaya bisa mencapai Rp600 ribu.

Kini, harga Dexlite di Pertashop setempat mencapai sekitar Rp24.150 per liter. Dampaknya, biaya operasional harian melonjak signifikan. Sekarang, 25 liter sudah sekitar Rp600 ribu. Jika sehari habis 40 liter, biaya bisa tembus Rp900 ribu lebih, bahkan hampir Rp1 juta kalau antar sampai Bangka Barat. Modal BBM saja sudah dua kali lipat, jelas membuat stres.

Codet menilai kenaikan kali ini merupakan yang tertinggi selama ia menjalankan usaha angkutan sawit. Seumur hidupnya menggunakan truk, ini kenaikan paling besar, sampai 100 persen. Dampaknya luar biasa, terutama untuk usaha transportasi.

Kesulitan Mendapatkan BBM Subsidi

Di sisi lain, penggunaan BBM subsidi juga tidak mudah. Codet mengaku kesulitan memperoleh solar bersubsidi karena antrean panjang dan keterbatasan stok. Ia menyebut bahwa antrean dimulai dari subuh, dan jam 9 pagi sudah habis. Sementara pekerjaannya tidak bisa menunggu.

Ia juga menyoroti bahwa dampak kenaikan BBM nonsubsidi tidak hanya dirasakan oleh kalangan tertentu, tetapi juga pelaku usaha kecil. Katanya, meskipun ditujukan untuk kendaraan tertentu, mereka yang bekerja juga terkena dampak. Pendapatan tidak besar, tapi biaya operasional naik drastis. Ini sangat menekan.

Kenaikan biaya tersebut, lanjutnya, berpotensi memicu efek berantai dalam rantai pasok sawit. Tekanan dari perusahaan dapat berujung pada penurunan harga beli di tingkat pengepul, yang kemudian berdampak ke petani. Jika biaya kami naik, perusahaan bisa menekan harga ke kami. Kami juga terpaksa menekan harga ke petani. Akhirnya, petani yang paling dirugikan.

Kondisi Sulit yang Datang Bertubi-tubi

Codet menggambarkan kondisi saat ini sebagai situasi sulit yang datang bertubi-tubi. Sudah jatuh tertimpa tangga. Kerjaan ini kelihatannya enak, tapi risikonya besar. Sekarang benar-benar terasa tercekik.

Ia berharap pemerintah dapat meninjau kembali kebijakan harga BBM agar lebih mempertimbangkan kondisi pelaku usaha kecil di lapangan. Harapan mereka adalah harga bisa dinormalkan. Jika naik sedikit masih bisa dimaklumi, tapi jangan setinggi ini. Sesuaikan dengan kondisi mereka.

Dampak pada Konsumen

Dampak kenaikan BBM juga dirasakan oleh konsumen. Di SPBU Desa Padang, Manggar, Kabupaten Belitung Timur, Sabtu siang, Susilawati (30) terpaksa tetap mengisi Dexlite meski harganya melonjak. Terlalu tinggi buat masyarakat biasa. Tadi isi Rp500 ribu, biasanya jarumnya naik banyak, sekarang cuma sedikit.

Ia mengaku sempat ragu, namun kondisi tangki yang hampir kosong membuatnya tidak punya pilihan. Bahkan, ia melihat beberapa pengendara memilih pergi setelah mengetahui harga baru. Ada yang langsung balik karena mahal. Tapi ia tetap isi, kalau tidak, tidak bisa jalan.

Kenaikan tersebut membuat rencana bepergian bersama keluarga harus ditunda. Sepertinya harus hemat, tidak bisa jalan-jalan dulu.

Penyesuaian Harga BBM Nonsubsidi

Sementara itu, PT Pertamina (Persero) menyatakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan sebagai bagian dari kebijakan pemerintah. Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi, menjelaskan bahwa kebijakan ini mengacu pada Keputusan Menteri ESDM terkait formula harga dasar BBM.

Penyesuaian ini mempertimbangkan fluktuasi harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. Untuk wilayah Bangka Belitung, harga terbaru BBM mencakup Pertamax Turbo Rp19.850 per liter, Dexlite Rp24.150 per liter, dan Pertamina Dex Rp24.450 per liter. Sementara Pertamax, Pertalite, dan Bio Solar tidak mengalami perubahan harga.

Pertamina memastikan stok BBM di wilayah Sumbagsel tetap aman dan distribusi berjalan lancar.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Bukan ODGJ, Mahasiswa Ini Pukuli Pengendara di Lenteng Agung

25 Agustus 2026

Jangan terkena panas, kunjungi 10 destinasi dingin di Indonesia ini

25 Agustus 2026

7 fakta misteri rumah kosong di Flex X Cop 2, temukan 5 mayat!

25 Agustus 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Hongqi memulai perjalanan di Indonesia, menghadirkan nama yang terbentuk dari sejarah

25 Agustus 2026

Dokter Hewan: Merawat Kucing untuk Kesehatan Keluarga

25 Agustus 2026

Profil dan Biodata Asta RAN, Musisi yang Aktif Sejak SMA

25 Agustus 2026

Kementerian PKP Butuh Rp106 Triliun, Dana Terbesar untuk Bedah Rumah

25 Agustus 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?