Close Menu
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Saturday, 3 October 2026
    Trending
    • Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
    • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
    • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
    • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
    • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
    • Dua tahun Prabowo: Antara negara kuat dan pemerintahan efektif
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
    Indonesia Discover
    Login
    Indonesia Discover
    • Nasional
    • Internasional
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
    • Ragam
    • Olahraga
    • Login
    Home»Nasional»Politik»Paskah di Tengah Kekacauan Dunia
    Politik

    Paskah di Tengah Kekacauan Dunia

    admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover3 April 2026No Comments4 Mins Read
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Refleksi Paskah dalam Konteks Geopolitik dan Kemanusiaan

    Paskah adalah perayaan yang tidak hanya berakar pada iman, tetapi juga pada realitas sejarah yang penuh dengan konflik, kekerasan, dan ketidakadilan. Dalam beberapa hari ke depan, umat beriman di seluruh dunia memasuki Tri Hari Suci—sebuah masa yang tidak sekadar liturgis, tetapi juga eksistensial. Di dalamnya, mereka diajak untuk memasuki kembali misteri terdalam dari iman Kristen: sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus.

    Namun, bagaimana peristiwa Paskah dapat direfleksikan di tengah dunia yang sedang retak oleh konflik geopolitik, perang, dan krisis kemanusiaan? Paskah bukanlah perayaan yang lahir dari ruang hampa sejarah. Ia justru berakar dalam situasi konkret kekuasaan, kekerasan, dan ketidakadilan. Penyaliban Yesus terjadi dalam konteks kolonialisme Romawi, kolaborasi elite religius, serta ketakutan politik terhadap figur yang dianggap mengancam stabilitas. Dengan demikian, sejak awal, Paskah adalah peristiwa teologis yang sekaligus politis.

    Konflik Geopolitik dan Kerentanan Manusia

    Dalam terang ini, refleksi Paskah tahun ini tidak dapat dilepaskan dari realitas konflik geopolitik global. Perang yang berkepanjangan, eksploitasi ekonomi, migrasi paksa, serta krisis kemanusiaan yang menempatkan manusia dalam kondisi rentan. Di berbagai belahan dunia, manusia kembali mengalami apa yang oleh filsuf Giorgio Agamben (1998) disebut sebagai bare life—kehidupan yang tereduksi hanya menjadi keberlangsungan biologis, tanpa perlindungan hukum dan martabat.

    Di Indonesia, meskipun tidak berada dalam konflik bersenjata skala global, dinamika serupa dapat ditemukan dalam bentuk yang lebih samar namun nyata: ketimpangan sosial yang terus melebar, polarisasi politik pasca kontestasi elektoral, serta kerentanan kelompok minoritas dalam ruang publik. Di sini, “geopolitik” hadir dalam skala domestik—dalam relasi kuasa yang menentukan siapa yang didengar dan siapa yang disenyapkan.

    Dengan demikian, refleksi Paskah tidak hanya berbicara tentang “yang jauh”, tetapi juga tentang “yang dekat”: realitas kebangsaan kita sendiri.

    Banalitas Ketidakadilan dan Kesadaran Etis

    Dalam situasi ini, refleksi Paskah juga dapat dibaca sebagai kritik terhadap kecenderungan banalitas ketidakadilan—ketika masyarakat perlahan terbiasa melihat ketimpangan sebagai sesuatu yang “normal”. Mengingatkan pada Hannah Arendt (1963), kejahatan tidak selalu hadir dalam bentuk ekstrem, tetapi juga dalam ketidakpekaan sehari-hari terhadap penderitaan sesama.

    Paskah, dengan demikian, mengganggu kenyamanan tersebut: ia memaksa kesadaran untuk kembali peka, untuk tidak berdamai dengan ketidakadilan yang dibiarkan berlangsung diam-diam dalam kehidupan sosial. Namun justru di sinilah Paskah menemukan relevansinya. Salib bukan sekadar simbol penderitaan individual, melainkan tanda keterlibatan Allah dalam sejarah penderitaan manusia.

    Dalam perspektif teolog Jürgen Moltmann (1972), Allah dalam Kristus bukanlah Allah yang jauh dan tak tersentuh, melainkan Allah yang “menderita bersama” (the suffering God). Salib menjadi solidaritas radikal Allah dengan korban—bukan dengan penguasa, melainkan dengan mereka yang tersingkir.

    Dari Salib Menuju Kebangkitan

    Di tengah konflik geopolitik, refleksi ini mengandung kritik tajam. Paskah menyingkapkan bahwa kekuasaan yang dibangun di atas kekerasan pada akhirnya rapuh. Kemenangan dalam Paskah tidak hadir melalui dominasi militer atau supremasi politik, tetapi melalui transformasi yang melampaui logika kekerasan itu sendiri. Kebangkitan bukan sekadar “kemenangan” dalam arti duniawi, melainkan pembalikan total atas logika kuasa: dari mematikan menjadi menghidupkan.

    Filsuf Emmanuel Levinas (1961) membantu memperdalam dimensi etis dari refleksi ini. Baginya, wajah yang lain—terutama yang menderita—memanggil tanggung jawab tanpa syarat. Dalam konteks geopolitik, wajah korban perang, pengungsi, dan mereka yang terpinggirkan bukanlah statistik, melainkan seruan etis yang tak dapat diabaikan. Paskah, dengan demikian, bukan hanya peristiwa iman, tetapi juga panggilan etis untuk menanggapi penderitaan konkret.

    Dalam pemikiran Johann Baptist Metz (1977), iman Kristen memiliki dimensi memoria passionis—ingatan akan penderitaan. Ingatan ini bukan nostalgia, melainkan kekuatan kritis yang menolak normalisasi kekerasan. Dalam dunia yang mudah melupakan korban demi kepentingan strategis, Paskah menjadi tindakan mengingat: mengingat bahwa di balik setiap konflik geopolitik terdapat tubuh-tubuh yang terluka dan kehidupan yang direnggut.

    Namun refleksi Paskah tidak berhenti pada salib. Kebangkitan membuka horizon harapan. Dalam situasi global yang tampak gelap, Paskah menegaskan bahwa sejarah tidak berakhir pada kematian. Harapan ini bukan optimisme naif, melainkan keberanian untuk percaya bahwa transformasi tetap mungkin—bahkan di tengah reruntuhan.

    Peran Umat Beriman dalam Dunia yang Terluka

    Dalam konteks ini, peran umat beriman menjadi krusial. Paskah tidak hanya untuk dirayakan, tetapi juga untuk dihidupi. Artinya, menghadirkan logika kebangkitan dalam dunia yang masih dikuasai logika salib: membangun rekonsiliasi di tengah konflik, memperjuangkan keadilan bagi korban, serta menolak kekerasan sebagai jalan penyelesaian.

    Pekan Suci, dengan demikian, bukan sekadar perjalanan liturgis menuju altar, melainkan perjalanan etis menuju dunia. Di tengah geopolitik yang penuh ketegangan, Paskah mengundang refleksi mendalam: apakah kita berdiri di sisi salib sebagai penonton, atau sebagai mereka yang berani terlibat dalam penderitaan dunia?

    Pada akhirnya, Paskah adalah undangan untuk melihat dunia dengan cara baru. Bukan dari perspektif kekuasaan, tetapi dari perspektif korban. Bukan dari logika dominasi, tetapi dari logika kasih yang rela berkorban. Dan mungkin, justru di situlah harapan bagi dunia yang terluka ini dapat mulai tumbuh kembali.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    admin_indonesiadiscover
    • Website

    Berita Terkait

    Pengamanan Ketat Demo AMPB Pati di DPR, 18.504 Personel Polisi Dikerahkan

    31 August 2026

    Hidup di Dalam Kita! Filosofi Mendalam 3 Jersey Baru Persib Bandung di Super League 2026/2027

    31 August 2026

    Demo Warga Pati di DPR, Dua Tuntutan dan Pengaturan Lalu Lintas

    31 August 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

    27 September 2026

    PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

    16 September 2026

    6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

    16 September 2026

    Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

    16 September 2026
    TAGS
    akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
    © 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?