Kisah Pilu Mayor Erik Supratman, Mantan Ajudan Dedi Mulyadi yang Kini Tinggal di Panti Lansia
Mayor (Purn) Erik Supratman, seorang pensiunan TNI berusia 68 tahun, kini tinggal di Panti Wreda Griya Lansia Garut. Ia terbaring lemah dan mengalami gangguan kesehatan yang membuatnya harus bergantung pada fasilitas panti lansia. Namun, kondisi fisiknya bukanlah hal utama yang menyedihkan. Masalah utamanya adalah nasib yang dialaminya setelah ditinggalkan oleh keluarganya.
Erik pernah menjadi ajudan Dedi Mulyadi saat menjabat sebagai Bupati Purwakarta selama dua periode. Ia mengungkapkan bahwa setelah terserang stroke, ia tidak lagi bisa menjalankan tugas sebagai ajudan. Setelah pensiun, uang pensiun yang seharusnya menjadi haknya justru diduga diambil oleh sang istri, sehingga memaksa dirinya untuk tinggal di panti lansia.
Kisah hidup Erik mulai viral di media sosial setelah dibagikan oleh akun Instagram @imas_aan_ubudiah. Dalam unggahan tersebut, terungkap bahwa Erik ditinggalkan oleh istri dan anggota keluarga lainnya. Meskipun memiliki satu-satunya adik laki-laki, namun karena adiknya masih belum menikah dan masih bertugas, maka Erik terpaksa tinggal di panti lansia.
Dari cerita yang dibagikan, banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik. Banyak lansia di griya lansia Garut yang memiliki kondisi lebih parah dari Erik, baik laki-laki maupun perempuan. Banyak dari mereka yang memiliki masa lalu dengan istri lebih dari empat orang, tetapi akhirnya merana di hari tuanya. Cerita ini menjadi renungan bagi kita semua yang masih diberi kesempatan sehat dan keluarga yang tulus mencintai.
Banyak warganet yang turut memberikan dukungan dan doa untuk Erik. Beberapa bahkan mengungkapkan kekecewaan terhadap perlakuan yang dialaminya. Salah satu bagian paling menyentuh adalah ketika Erik mengungkapkan bahwa dirinya ditelantarkan. Ia menceritakan bahwa saat pulang bawa mobil, ia tidak bisa jalan dan dibawa ke dokter, tetapi justru dibuang di jalan.

Selain itu, Erik juga mengungkapkan bahwa uang pensiun yang seharusnya menjadi haknya setiap bulan justru dikuasai oleh pihak lain. Hal ini membuatnya semakin sulit untuk hidup mandiri. Dalam percakapan telepon dengan Dedi Mulyadi, Erik kesulitan mengingat banyak hal, bahkan sampai lupa nama sang istri. Ia tampak sangat sedih dan pahit.
Tidak hanya itu, identitas Erik dinilai tidak konsisten. Ia tidak memiliki KTP, sehingga data tentangnya disebut tidak jelas. Saat diminta keterangan, ia menyebutkan nama yang berbeda-beda. Awalnya diperkenalkan sebagai Mayor Erik Supratman, namun dalam kesempatan lain ia mengaku terakhir berpangkat Kapten.
Ketidakselarasan informasi juga muncul saat ia ditanya mengenai lokasi dinas, kesatuan, serta riwayat penugasannya. Ia mengaku pernah berdinas di sejumlah daerah, mulai dari Bandung hingga Lampung, namun keterangannya tidak disertai penjelasan yang pasti.
Kisah pilu Mayor Erik Supratman menjadi perhatian publik, termasuk dari Gubernur Jawa Barat. Ini menunjukkan betapa pentingnya perhatian terhadap para lansia yang sudah berjasa bagi bangsa dan negara. Semoga keadaan Erik dapat segera diperbaiki dan mendapatkan dukungan yang layak.



