Kunjungan Kim Ju Ae ke Mausoleum Kumsusan dan Isu Suksesi Kekuasaan Korea Utara
Kunjungan putri pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, yaitu Kim Ju Ae, bersama istrinya, Ri Sol Ju, ke Mausoleum Kumsusan di Pyongyang menjadi perhatian besar. Kejadian ini tidak hanya menarik perhatian publik dalam negeri, tetapi juga menimbulkan spekulasi mengenai posisi politik Kim Ju Ae di tengah isu suksesi kepemimpinan negara tersebut.
Mausoleum Kumsusan adalah kompleks makam kenegaraan yang memiliki makna penting bagi dinasti Kim. Dikenal juga dengan nama Kumsusan Palace of the Sun, tempat ini berfungsi sebagai makam dan monumen penghormatan bagi para pemimpin Korea Utara. Di sini, jenazah Kim Il-sung (pendiri Korea Utara) dan Kim Jong-il (pemimpin kedua) disimpan. Awalnya, bangunan ini merupakan istana kepresidenan, namun setelah kematian Kim Il-sung pada tahun 1994, bangunan tersebut diubah menjadi mausoleum.
Di dalam kompleks ini terdapat ruang penyimpanan jenazah, aula penghormatan, museum, serta simbol-simbol ideologi negara. Selain itu, pengunjung wajib mematuhi aturan ketat, seperti berpakaian rapi dan menunjukkan sikap hormat. Karena dianggap sebagai tempat paling suci secara politik di Korea Utara, akses ke Mausoleum Kumsusan sangat dibatasi.
Kunjungan Kim Ju Ae ke tempat ini dipublikasikan oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) pada Jumat (1/1/2026). Dalam gambar yang dipublikasikan, ia tampak mendampingi ayah dan ibunya, Kim Jong Un dan Ri Sol Ju. Mereka memberikan penghormatan kepada pendiri sekaligus pemimpin terdahulu Korea Utara, yaitu Kim Il-sung dan Kim Jong-il. Keberadaannya di aula utama Istana Matahari Kumsusan dianggap sebagai pesan politik kuat.
Mausoleum Kumsusan selama ini menjadi simbol legitimasi kekuasaan dinasti Kim. Kunjungan yang bertepatan dengan awal tahun baru sering digunakan untuk menegaskan kesinambungan kepemimpinan. BBC melaporkan bahwa pola simbolik semacam ini lazim digunakan dalam tradisi politik Pyongyang.
Dalam tiga tahun terakhir, Kim Ju Ae semakin sering muncul di media pemerintah Korea Utara. Ia pertama kali diperkenalkan ke publik pada 2022, saat menemani Kim Jong Un menyaksikan peluncuran rudal balistik antarbenua. Sejak itu, kehadirannya terus meningkat dalam berbagai acara kenegaraan penting, termasuk perayaan Tahun Baru hingga inspeksi militer.
Media pemerintah mulai menyematkan gelar-gelar istimewa kepada Ju Ae. Ia disebut sebagai “anak kesayangan” dan “tokoh besar pembimbing”. Istilah lain yang digunakan adalah hyangdo, yang secara tradisional hanya digunakan untuk pemimpin tertinggi dan penerus yang telah ditunjuk. Penggunaan istilah tersebut menandakan posisi politik Ju Ae yang semakin menonjol.
Menurut pengamat Korea Utara, penggunaan istilah tersebut menunjukkan bahwa Kim Ju Ae sedang dipersiapkan sebagai pewaris kepemimpinan. Meski Korea Utara tidak pernah secara terbuka mengumumkan pengganti pemimpin tertingginya, transisi kekuasaan biasanya ditandai melalui peningkatan visibilitas publik dan simbolisme politik.
Sebelum kemunculannya pada 2022, keberadaan Ju Ae hanya diketahui secara terbatas. Mantan pebasket NBA Dennis Rodman sempat mengungkapkan keberadaan anak Kim Jong Un saat berkunjung ke Korea Utara pada 2013. Namun, tidak ada detail lebih lanjut yang diungkapkan saat itu.
Selain isu suksesi, media Korea Utara juga menyoroti pernyataan Kim Jong Un terkait kebijakan pertahanan negara. Dalam laporan terpisah, KCNA menyebut Kim Jong Un berkomitmen meningkatkan produksi rudal dan peluru artileri. Ia menggambarkan langkah tersebut sebagai “pencegah perang”.
Kebijakan ini diambil di tengah meningkatnya kesiapan militer Amerika Serikat dan Korea Selatan. BBC melaporkan bahwa penguatan militer tersebut menjadi bagian dari strategi Pyongyang untuk menegaskan posisi tawar Korea Utara di tengah ketegangan kawasan.
Di saat bersamaan, kemunculan Kim Ju Ae di ruang publik dinilai sebagai sinyal persiapan transisi kepemimpinan jangka panjang. Transisi tersebut tetap berada dalam kerangka dinasti Kim.



