Komentar Jerome Polim Mengenai Penilaian yang Tidak Objektif dalam Lomba Cerdas Cermat
Influencer ternama, Jerome Polim, turut mengkritik insiden penilaian yang terjadi dalam Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat. Insiden ini menimbulkan kontroversi setelah peserta dari SMAN 1 Pontianak mendapat nilai minus 5 dari juri meski memberikan jawaban yang sama dengan peserta dari SMAN 1 Sambas.
Perbedaan Nilai yang Mencurigakan
Dalam video yang viral, Regu C dari SMAN 1 Pontianak memberikan jawaban yang identik dengan Regu B dari SMAN 1 Sambas. Namun, juri hanya memberikan poin penuh kepada Regu B, sementara Regu C mendapat pengurangan nilai tanpa penjelasan yang jelas. Hal ini memicu protes dari peserta dan menimbulkan pertanyaan tentang objektivitas penilaian.
Jerome Polim merasa geregetan melihat sikap juri dalam acara tersebut. Ia menyampaikan kekecewaannya melalui media sosial, menyebut bahwa mentalitas “juri pasti benar” tidak seharusnya dipertahankan. Menurutnya, juri adalah manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan, sehingga pernyataan tersebut dianggap tidak relevan.
Pentingnya Berpikir Kritis
Jerome Polim menilai bahwa sikap pendidik yang tidak mau mengakui kesalahan akan menghancurkan kemampuan berpikir kritis generasi muda. Ia menekankan bahwa peran utama seorang pendidik adalah mendorong siswa untuk berani mengakui kesalahan dan berdiskusi jika diperlukan.
Ia juga membandingkan pengalaman pribadinya saat masih sekolah. Jika ada guru yang salah menilai jawabannya, ia tidak segan mengajak diskusi dan memberikan bukti bahwa jawabannya benar. Bahkan, guru yang bersangkutan pada waktu itu bisa menerima kesalahan dan mengakui bahwa ia salah.
Dukungan untuk Peserta yang Berani Bersuara
Jerome Polim memuji sikap peserta lomba yang berani membuka suara terkait kesalahan penilaian juri. Ia juga meminta juri dan MC acara tersebut untuk meminta maaf atas kesalahan yang terjadi. Ia menegaskan bahwa semua orang sudah melihat dan tahu siapa yang salah.
Awal Mula Polemik
Final LCC Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat digelar di Pontianak pada Sabtu (9/5/2026). Kegiatan ini diikuti oleh sembilan sekolah menengah atas di Kalimantan Barat. Tiga sekolah yang lolos ke babak final adalah SMAN 1 Pontianak, SMAN 1 Sambas, dan SMAN 1 Sanggau.
Polemik muncul saat sesi rebutan jawaban dengan pertanyaan, “DPR dalam memilih anggota BPK, wajib memperhatikan pertimbangan dari lembaga mana?” Regu C dari SMAN 1 Pontianak menjadi peserta pertama yang menjawab dengan jawaban yang identik dengan Regu B dari SMAN 1 Sambas. Namun, juri memberikan pengurangan nilai kepada Regu C, sementara Regu B mendapatkan nilai penuh.
MPR Memohon Maaf
Wakil Ketua MPR RI, Abcandra Muhammad Akbar Supratman, menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut. Ia menegaskan bahwa MPR RI akan menindaklanjuti kejadian tersebut dan mengevaluasi kinerja dewan juri serta sistem perlombaan LCC Empat Pilar.
Akbar menyayangkan adanya polemik dalam penilaian lomba dan mengingatkan pentingnya juri bersikap objektif serta responsif terhadap keberatan peserta. Ia juga menyebut bahwa insiden ini akan menjadi catatan penting agar pelaksanaan LCC Empat Pilar ke depan lebih baik dan profesional.
Lebih lanjut, Akbar menyinggung adanya unsur kelalaian dari panitia maupun dewan juri, terutama terkait aspek teknis tata suara dan mekanisme banding dalam perlombaan. Ia bahkan mengaku sempat mendengar adanya peristiwa serupa yang terjadi pada pelaksanaan tahun lalu di provinsi lain.



