Zakaria, Pria yang Tega Membunuh Istrinya Lagi
Zakaria alias Jaka bisa dibilang tidak pernah belajar dari kesalahan masa lalu. Baru dua tahun bebas dari penjara akibat membunuh istri pertamanya, kini ia kembali melakukan tindakan yang sama. Kali ini, korban adalah Syafitri Yana, istrinya yang ketujuh.
Jaka, seorang pria asal Lingga, Riau, berusia 43 tahun, tega membunuh istrinya yang ke-7. Sebelumnya, ia pernah dipenjara selama 7 tahun karena membunuh istri sebelumnya. Hal ini diungkapkan oleh Kapolres Lingga, AKBP Pahala Martua Nababan, saat mengungkap kasus tersebut di Lobby Ditreskrimum Polda Kepri pada Senin (11/5/2026) sore.
Menurut Kapolres, Syafitri Yana merupakan istri ketujuh dari tersangka Zakaria alias Jaka. Korban masih berusia 20 tahun dan merupakan seorang gadis, sedangkan pelaku seorang duda. Pernikahan siri antara keduanya telah berlangsung selama 2 tahun sejak tahun 2024 lalu.
Jaka dikenal sebagai sosok yang kerap gonta-ganti istri di berbagai pulau. Meskipun polisi belum mengetahui secara pasti jumlah istri pelaku, pengakuan Jaka menyebutkan bahwa Yana adalah istri siri yang ketujuh. Istri sebelum kejadian juga memiliki nasib yang sama, yaitu dibunuh oleh Jaka.
Jaka sebenarnya baru bebas dari penjara sekitar dua tahun lalu. Ia dijerat kasus serupa, yakni pembunuhan istrinya dan divonis 7 tahun penjara. Setelah bebas, Jaka bekerja sebagai nelayan.
Yana ditemukan dalam kondisi terkubur di belakang rumah kontrakan di wilayah Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, pada Selasa (28/4/2026). Belakangan diketahui bahwa Yana dibunuh oleh suaminya sendiri, Jaka. Kasus ini terungkap setelah polisi berhasil mengamankan Jaka di wilayah Jawa Timur, 11 hari setelah menghilangnya pelaku.
Kepada polisi, Jaka mengaku ingin pergi ke Ponorogo untuk mencari orang “pintar” agar bisa berguru. Selama masa pelariannya, ia merasa dihantui bayangan istrinya, sehingga memutuskan untuk mencari ilmu hitam. Namun, niatnya gagal karena ia segera ditangkap oleh polisi.
Jaka mengaku telah menghabisi nyawa istrinya pada Minggu (26/4/2026) sekitar pukul 19.00 WIB.
Mengapa Orang Membunuh Pasangannya Sendiri?
Hampir setiap hari, kita mendengar kasus suami yang membunuh istrinya sendiri atau sebaliknya. Fenomena ini membuat banyak orang yang belum menikah harus berpikir ulang tentang pernikahan. Bahkan, muncul skeptisme terhadap rumah tangga yang harmonis.
Dilansir dari Kompas.com, Jumat, 5 Mei 2023, seorang istri di Bekasi tewas dibunuh suaminya sendiri, yaitu RDS (25), karena permasalahan sepele setelah mereka adu mulut. Percekcokan ini terjadi saat korban mengetahui suaminya tidak bangun pagi.
Di dunia audio drama, episode “7 Menit Itu Misteri [Pt.2]” dengan tautan akses dik.si/TNS6E4, juga mengisahkan perseteruan dua pasangan yang mengakibatkan hilangnya nyawa.
Istilah Pembunuhan Pasangan
Fenomena ini memiliki istilah khusus. Kasus laki-laki yang membunuh pasangan perempuannya disebut uxoricide, berasal dari bahasa Latin uxor (istri) dan -cide (membunuh). Sementara itu, pembunuhan pasangan perempuan oleh laki-laki disebut mariticide, berasal dari maritus (suami).
Di Indonesia, fenomena ini lebih sering disebut femisida, yaitu pembunuhan perempuan oleh laki-laki karena kebencian terhadap perempuan. Kebencian ini didorong oleh berbagai faktor seperti dendam atau anggapan bahwa perempuan adalah kepemilikan.
Berdasarkan pemantauan Komnas Perempuan, tercatat kurang lebih 307 pembunuhan istri oleh suami sendiri sepanjang Juni 2021 hingga Juni 2022.
Faktor Penyebab Pembunuhan oleh Pasangan
Seseorang yang tega membunuh pasangannya biasanya disebabkan oleh berbagai faktor. Menurut penelitian ABC News, ada dua jenis pembunuhan domestik: terencana dan spontan.
Pembunuhan spontan umumnya terjadi karena emosi yang tidak terkendali, sehingga bertindak impulsif. Faktor penyebabnya bisa hal-hal kecil seperti adu mulut. Sementara itu, pembunuhan terencana sering kali dilatarbelakangi oleh kecemburuan atau hasrat untuk menguasai harta pasangan.
Faktor lain yang melatarbelakangi tindakan ini adalah patriarki, yang membuat laki-laki percaya bahwa mereka bisa mengendalikan keluarga. Ketidaksiapan pengetahuan dasar berumah tangga juga bisa menjadi pemicu kekerasan. Misalnya, masalah ekonomi yang tidak dikelola dengan baik bisa memicu konflik.
Selain itu, ketidaktahuan tentang latar belakang dan sifat pasangan bisa memperburuk situasi. Observasi perilaku pasangan saat marah sangat penting untuk mengantisipasi tindakan berbahaya.
Jangan sampai kita terjebak dalam hubungan yang tidak sehat, karena dampaknya bisa sangat besar, termasuk terhadap tumbuh kembang anak. Anak yang menyaksikan hubungan tak harmonis orangtuanya bisa mengalami trauma.


