Kritik terhadap Pemerintah dan Ancaman yang Mengancam
Di tengah situasi yang memicu kekhawatiran, sejumlah tokoh seperti influencer, aktivis, hingga akademisi mengalami berbagai bentuk ancaman. Mereka menunjukkan sikap kritis terhadap pemerintah, baik secara langsung maupun melalui media. Berikut adalah beberapa kasus yang muncul dalam waktu dekat ini:
Kasus DJ Donny
DJ Donny atau Ramond Dony Adam menjadi salah satu korban ancaman yang tidak biasa. Ia menerima kiriman bangkai ayam dan rumahnya dilempari bom molotov. Sebelum kejadian tersebut, ia sempat menyampaikan kritik terhadap cara komunikasi publik pemerintah terkait penanganan bencana di Sumatera.
Dalam sebuah podcast yang diunggah 17 Desember 2025, DJ Donny mengkritik keras tindakan pemerintah yang dinilai tidak transparan dan tidak peka terhadap kebutuhan masyarakat. Ia menyebut bahwa para influencer yang turun langsung ke lokasi bencana, seperti Ferry Irwandi, mendapatkan lebih banyak perhatian dari publik karena memberikan informasi yang jelas dan terbuka.
Kritik Virdian Aurellio Hartono
Virdian Aurellio Hartono juga mengalami serangan teror, yaitu pemecahan kaca mobil pada pertengahan Desember 2025. Dalam wawancara di Kompas TV pada 5 Desember 2025, ia menyampaikan bahwa Gen-Z semakin tidak percaya dengan upaya pemerintah dalam mengantisipasi bencana, terutama yang disebabkan oleh deforestasi dan bisnis mineral.
Ia menyoroti bagaimana pemerintah sering kali hanya mengikuti tren influencer dengan membuka donasi kebencanaan. Padahal, warga negara sudah memenuhi kewajiban pajak untuk operasional belanja negara, termasuk penanganan bencana.
Sherly Annavita
Sherly Annavita, seorang influencer, juga mengalami ancaman. Rumahnya dilempari telur busuk dan kendaraannya dicoret-coret. Dalam wawancara di Kompas TV pada 11 Desember 2025, ia mengkritik pemerintah yang dinilai menolak bantuan dari pihak asing dalam penanganan banjir di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.
Sherly merasa aneh dengan sikap legislatif yang dinilai sengaja membenturkan sikap masyarakat sipil yang saling membantu dengan upaya pemerintah. Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah memiliki standar ganda dalam menerima bantuan asing.
Aktivis Lingkungan Iqbal Damanik
Selain influencer, aktivis lingkungan seperti Iqbal Damanik juga menjadi korban ancaman. Pada 30 Desember 2025, rumahnya kedatangan paket misterius berisi bangkai ayam dan surat ancaman. Surat tersebut berisi pesan yang mengingatkan agar menjaga ucapan jika ingin menjaga keluarga.
Iqbal dikenal sebagai sosok yang kritis terhadap kerusakan ekologi dan deforestasi di Indonesia. Ia sering mengkritik pemerintah terkait pemberian konsesi tambang kepada organisasi masyarakat (Ormas). Perdebatan antara Iqbal dan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Ulil Abshar Abdala sempat menjadi sorotan publik dan memunculkan istilah populer “wahabi lingkungan”.
Zainal Arifin Mochtar
Sedangkan Zainal Arifin Mochtar, seorang guru besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, mengalami ancaman telepon dengan ancaman penangkapan. Ia menerima ancaman ini dua kali dalam sehari pada 2 Januari 2026.
Uceng, panggilan akrabnya, dikenal sebagai sosok kritis terhadap pemerintah, terutama dalam hal pemajuan demokrasi. Beberapa karya kritiknya termasuk film dokumenter bersama ahli hukum tata negara lainnya, Bivitri Susanti dan Feri Amsari dengan judul Dirty Vote.
Kesimpulan
Kasus-kasus yang dialami oleh influencer, aktivis, dan akademisi menunjukkan adanya ketegangan antara pihak-pihak yang kritis terhadap pemerintah dan sistem yang ada. Mereka mencoba menyampaikan pendapat mereka, tetapi justru menghadapi ancaman yang tidak bisa diabaikan. Hal ini menunjukkan pentingnya dialog yang sehat antara pemerintah dan masyarakat.



