Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 19 Agustus 2026
Trending
  • Mentan Amran Gandeng KNPI Untuk Kawal Ketahanan Pangan
  • Dua SBU Tercatat Dicabut Sebelum Pemilihan, Surat Rektor UIN SATU Tulungagung Klaim Masih Berlaku hingga 2026
  • 10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman
  • 5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl
  • Kunjungan ke Pabrik Yamaha, Komunitas XMAX Bali Jelajahi Standar Produksi Global
  • Video Call dengan Bayi: Termasuk Screen Time? Ini Jawabannya
  • Penawaran Umum RANS Ditutup Besok, Jutaan Investor Antre Daftar di Bursa
  • Terdakwa Korupsi Rp 300 M Soroti Bukti Kerugian dan Validitas Audit
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Politik»Israel Serang Lebanon, Iran Tunda Pembicaraan dengan AS, Trump Bersikeras
Politik

Israel Serang Lebanon, Iran Tunda Pembicaraan dengan AS, Trump Bersikeras

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover4 Juni 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Iran Menghentikan Komunikasi dengan AS sebagai Bentuk Protes

Iran mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara jalur komunikasi tidak langsung dengan Amerika Serikat (AS) sebagai bentuk protes terhadap serangan Israel di Lebanon dan Jalur Gaza. Keputusan ini dianggap sebagai respons terhadap pelanggaran gencatan senjata yang menurut Teheran telah merusak upaya perdamaian di kawasan Timur Tengah.

Menurut laporan dari kantor berita Tasnim, tim perunding Iran menyatakan bahwa gencatan senjata tidak bisa dipisahkan antara satu wilayah konflik dengan wilayah lainnya. Dengan demikian, pelanggaran di Lebanon dianggap sebagai pelanggaran terhadap seluruh proses penghentian konflik. Para pejabat Iran menegaskan bahwa syarat utama untuk melanjutkan komunikasi dengan Washington adalah penghentian segera operasi militer Israel di Lebanon dan Gaza, serta penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah Lebanon yang masih diduduki.

Siapkan Opsi Balasan

Tasnim juga melaporkan bahwa Iran bersama kelompok-kelompok dalam “Front Perlawanan” telah memasukkan sejumlah opsi balasan ke dalam agenda mereka. Beberapa opsi tersebut mencakup kemungkinan penutupan Selat Hormuz dan pengaktifan front-front lain di kawasan seperti Selat Bab al-Mandab. Hal ini dilakukan sebagai respons terhadap tindakan Israel dan para pendukungnya.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa setiap pelanggaran gencatan senjata di satu wilayah konflik harus dianggap sebagai pelanggaran di seluruh front, termasuk Lebanon. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Ismail Baghaei menambahkan bahwa gencatan senjata di Lebanon merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya penghentian permusuhan secara menyeluruh di Timur Tengah. Ia juga menuduh AS dan Israel telah melanggar komitmen gencatan senjata tersebut.

Trump Membantah: Pembicaraan Tetap Berlangsung

Meskipun media pemerintah Iran melaporkan bahwa pembicaraan dengan AS telah ditangguhkan, Presiden AS Donald Trump membantah bahwa jalur diplomasi benar-benar terhenti. Trump menyatakan bahwa komunikasi dengan Iran masih terus berlangsung dan bahkan berjalan dengan cepat.

Dalam wawancara dengan ABC News, Trump menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz dan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran dapat dicapai dalam waktu sekitar satu minggu ke depan. Meski demikian, ia mengakui masih ada beberapa poin yang harus diselesaikan sebelum kesepakatan final dapat disetujui.

Trump juga mengungkapkan bahwa dirinya telah turun tangan untuk mencegah terjadinya serangan besar-besaran Israel terhadap Beirut, Lebanon. Menurutnya, sempat terjadi hambatan dalam proses diplomasi akibat perkembangan di Lebanon selatan, namun masalah tersebut berhasil diatasi melalui komunikasi intensif dengan berbagai pihak.

Latar Belakang Perang AS-Israel Vs Iran

Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meletus pada 28 Februari 2026 setelah Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas strategis milik Iran. Aksi militer tersebut terjadi setelah perundingan mengenai program nuklir Iran di Jenewa berakhir tanpa kesepakatan.

Amerika Serikat dan Israel menuduh Teheran berupaya mengembangkan senjata nuklir, tuduhan yang berulang kali dibantah Iran. Pemerintah Iran menegaskan bahwa program nuklirnya semata-mata ditujukan untuk kebutuhan energi serta penelitian sipil dan tidak memiliki tujuan militer.

Ketegangan meningkat drastis ketika Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas pada fase awal perang. Sejumlah laporan kemudian menyebut kepemimpinan tertinggi Iran diteruskan oleh putranya, Mojtaba Khamenei, di tengah situasi negara yang masih dilanda konflik.

Upaya Diplomasi dan Tantangan yang Masih Ada

Setelah hampir 40 hari diwarnai serangan dan ketegangan militer, konflik mulai mereda dengan tercapainya kesepakatan gencatan senjata sementara pada 8 April 2026. Kesepakatan tersebut berhasil diwujudkan melalui mediasi yang difasilitasi Pakistan.

Meski pertempuran telah berhenti, jalan menuju perdamaian jangka panjang masih dipenuhi tantangan. Salah satu isu paling krusial yang masih menjadi perdebatan adalah program pengayaan uranium Iran serta pengaturan keamanan dan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.

Dalam upaya menjaga momentum diplomasi, Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi melakukan kunjungan ke Teheran untuk melanjutkan peran negaranya sebagai mediator. Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menilai situasi masih sangat rentan. Ia memperingatkan bahwa opsi militer tetap tersedia apabila proses negosiasi gagal menghasilkan kemajuan yang signifikan.

Selain Pakistan, Oman dan Qatar juga aktif menjembatani komunikasi antara Washington dan Teheran. Sejumlah pejabat Amerika Serikat bahkan menyatakan optimisme bahwa peluang tercapainya kesepakatan damai semakin terbuka.

Kesimpulan

Hingga kini, kedua pihak masih berupaya mempertahankan kepentingan strategis masing-masing sembari mencari jalan keluar yang dapat diterima bersama. Pada saat yang sama, mereka juga berusaha menghindari kesan bahwa salah satu pihak keluar dari konflik dalam posisi yang lebih dirugikan.




Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Gubernur Khofifah Dianugerahi Penghargaan atas Penurunan Stunting Jatim 14,7 Persen

11 Juli 2026

Sigit Rakha Utomo, Siswa SMP 1 Sengkang, Wakili Sulsel di AMKM Nasional

11 Juli 2026

Alumni UI Minta Ahmad Khozinudin Mundur Jika Tak Selaras dengan Roy Suryo-Tifa

11 Juli 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Mentan Amran Gandeng KNPI Untuk Kawal Ketahanan Pangan

2 Agustus 2026

Dua SBU Tercatat Dicabut Sebelum Pemilihan, Surat Rektor UIN SATU Tulungagung Klaim Masih Berlaku hingga 2026

14 Juli 2026

10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman

11 Juli 2026

5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl

11 Juli 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?