Kesejahteraan Pengemudi dan Dampaknya pada Bisnis Platform Digital
Memburuknya kesejahteraan para pengemudi di industri transportasi digital justru dapat menjadi risiko bisnis yang lebih besar. Konflik berkepanjangan, demonstrasi massal, penurunan kualitas layanan, hingga sentimen publik negatif dapat mengganggu stabilitas perusahaan. Dalam jangka panjang, situasi semacam itu juga tidak disukai investor karena menciptakan ketidakpastian usaha.
Wacana penurunan potongan aplikator menjadi 8 persen pasca diterapkannya Perpres Nomor 27/2026 tentang Perlindungan Pekerja Transportasi Online pada awal Mei lalu kerap dipandang sebagai ancaman bagi keberlangsungan bisnis platform digital. Kekhawatiran itu muncul dari anggapan bahwa perusahaan teknologi hanya dapat bertahan jika memperoleh komisi besar dari pengemudi. Namun, persoalannya tidak sesederhana itu.
Model bisnis platform digital pada dasarnya tetap dapat berjalan meski potongan diturunkan, selama perusahaan bersedia mengubah strategi pertumbuhan yang selama ini terlalu bergantung pada pembakaran modal dan subsidi besar-besaran. Selama lebih dari satu dekade, industri transportasi digital tumbuh dengan logika growth at all costs. Perusahaan berlomba membakar uang melalui promo, diskon, cashback, dan subsidi tarif demi merebut pasar dan menaikkan valuasi. Dalam fase tersebut, keuntungan bukan prioritas utama. Yang dikejar adalah dominasi pasar dan pertumbuhan pengguna secepat mungkin.
Akibatnya, struktur biaya perusahaan digital membengkak bukan hanya karena operasional, tetapi juga karena biaya promosi dan akuisisi pengguna yang sangat agresif. Dalam berbagai periode, biaya pemasaran bahkan menjadi salah satu pos pengeluaran terbesar perusahaan teknologi. Diskon makanan, voucher perjalanan, gratis ongkir, hingga subsidi tarif pengantaran selama bertahun-tahun pada dasarnya dibiayai melalui modal investor.
Data keuangan perusahaan platform juga menunjukkan bahwa selama ini ruang efisiensi sebenarnya masih sangat besar. Pada periode 2018–2021, beban penjualan dan pemasaran GoTo bahkan berkali-kali lebih besar dibanding pendapatannya. Tahun 2019 misalnya, pendapatan perusahaan hanya sekitar Rp2,3 triliun, tetapi biaya penjualan dan pemasaran mencapai lebih dari Rp14 triliun. Pada 2021 pun, ketika pendapatan naik mendekati Rp4,6 triliun, biaya pemasaran masih berada di kisaran Rp9 triliun.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa strategi bakar uang melalui promo, subsidi, dan akuisisi pengguna menjadi sumber utama pembengkakan biaya perusahaan digital selama bertahun-tahun. Karena itu, penyesuaian model bisnis seharusnya lebih diarahkan pada efisiensi biaya promosi dan ekspansi agresif, bukan semata menekan pendapatan mitra pengemudi.
Fenomena “bakar uang” itu terlihat jelas dalam perjalanan GoTo. Pada 2022, perusahaan masih mencatat rugi besar Rp40,4 triliun dengan tekanan biaya pemasaran dan subsidi yang tinggi sebesar Rp14 triliun. Namun dalam dua tahun terakhir, perusahaan mulai menunjukkan perbaikan kinerja setelah melakukan efisiensi biaya secara agresif. GoTo bahkan berhasil membukukan adjusted EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) positif setelah sebelumnya terus mencatatkan tekanan kerugian operasional. Ini menunjukkan bahwa efisiensi biaya tetap memungkinkan perusahaan bertahan tanpa harus terus mengandalkan subsidi besar-besaran.
Karena itu, ketika pemerintah mencoba memperbesar porsi pendapatan pengemudi menjadi 92 persen dan menyisakan 8 persen bagi aplikator, langkah tersebut patut diapresiasi sebagai upaya memperkuat posisi ekonomi mitra. Kebijakan ini menunjukkan bahwa negara mulai melihat pengemudi bukan sekadar “mitra fleksibel”, melainkan bagian penting dari ekosistem digital yang layak memperoleh pembagian pendapatan lebih adil.
Tentu, dari sisi aplikator, penurunan potongan akan mempersempit ruang pendapatan jangka pendek. Industri platform saat ini memang sedang memasuki fase mengejar profitabilitas setelah bertahun-tahun hidup dari suntikan modal investor. Namun kondisi itu seharusnya menjadi momentum untuk mendorong transformasi menuju model bisnis yang lebih sehat, efisien, dan realistis. Platform tidak bisa terus-menerus bertahan dengan logika subsidi tanpa batas.

Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) menilai pekerjaan pengemudi ojek daring (ojol) di Indonesia semakin jauh dari standar kerja layak. – (IDEAS)
Apakah Investor Akan Angkat Kaki?
Lalu, apakah investor akan lari jika potongan aplikator dipangkas? Belum tentu. Investor pada dasarnya mencari dua hal utama yaitu potensi keuntungan dan kepastian regulasi. Selama pasar Indonesia tetap besar dan permintaan layanan digital tinggi, peluang bisnis masih terbuka lebar. Bahkan di banyak negara, regulasi terhadap platform digital jauh lebih ketat dibanding Indonesia, tetapi investasi teknologi tetap berjalan karena kepastian hukumnya jelas.
Sebaliknya, memburuknya kesejahteraan mitra justru dapat menjadi risiko bisnis yang lebih besar. Konflik berkepanjangan, demonstrasi massal, penurunan kualitas layanan, hingga sentimen publik negatif dapat mengganggu stabilitas perusahaan. Dalam jangka panjang, situasi semacam itu juga tidak disukai investor karena menciptakan ketidakpastian usaha.
Namun demikian, ada satu hal penting yang harus diawasi pemerintah. Penurunan potongan resmi jangan sampai digantikan oleh berbagai pungutan tidak langsung di luar skema utama. Risiko itu dapat muncul dalam bentuk biaya sewa aplikasi, biaya prioritas order, biaya jam sibuk, atau pola pay to work di mana pengemudi harus membayar tambahan tertentu agar tetap memperoleh order. Jika praktik-praktik seperti ini dibiarkan, maka tujuan utama kebijakan meningkatkan kesejahteraan pengemudi justru kehilangan makna.
Pada akhirnya, perdebatan soal potongan aplikator bukan semata soal angka 8 persen atau 20 persen. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana membangun ekosistem ekonomi digital yang lebih berkeadilan sosial. Platform digital tetap perlu tumbuh dan menghasilkan keuntungan, tetapi pertumbuhan itu tidak boleh terus dibangun di atas kerentanan pihak yang paling lemah dalam ekosistem ekonomi platform yaitu para pengemudi.



