Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Selasa, 14 April 2026
Trending
  • Yamaha TMAX 560: Spesifikasi, Harga, dan Fitur Lengkap
  • Ramalan Zodiak Besok: Aries, Taurus, Gemini, dan Cancer Sabtu 11 April 2026
  • Laga Hidup Mati Madura United vs Persik: Kekuatan Rakhmat Basuki untuk Hindari Degradasi
  • Allegri Pecahkan Kode 4-3-3, Ini Formasi AC Milan Lawan Udinese
  • BNN Minta Vape Dilarang, Penjual Banjarmasin Sebut Wacana Terburu-buru
  • Boni Hargens: TNI Jaga Stabilitas Ekonomi Akibat Perang
  • Fintech, Gaming, dan Omnichannel Jadi Andalan Baru Teknologi GOTO, BUKA Cs
  • Profil Ma Dong Seok, Aktor Korea yang Ucapkan Terima Kasih ke Rano Karno Usai Syuting Film Extraction
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Teknologi»Fintech, Gaming, dan Omnichannel Jadi Andalan Baru Teknologi GOTO, BUKA Cs
Teknologi

Fintech, Gaming, dan Omnichannel Jadi Andalan Baru Teknologi GOTO, BUKA Cs

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover14 April 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Perubahan Strategi Teknologi di Indonesia: Fokus pada Profitabilitas

Perusahaan teknologi di Indonesia semakin memperkuat lini bisnis baru sebagai mesin pertumbuhan, dengan fokus utama pada profitabilitas. GOTO, BUKA, dan BELI menjadi contoh perusahaan yang mengubah strategi untuk menjaga kinerja mereka di tengah tantangan pasar.

GOTO: Fokus pada Fintech dan On-Demand Services

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) terus memperkuat lini bisnis financial technology (fintech) sebagai pendorong utama pertumbuhan ke depan. Dalam laporan keuangannya, GOTO mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp18,32 triliun, naik 15,27% secara tahunan dari tahun 2024 sebesar Rp15,89 triliun. Kinerja tersebut turut mendorong penyusutan rugi bersih menjadi Rp1,18 triliun, turun 77% secara tahunan dari Rp5,15 triliun.

Hans Patuwo, Direktur Utama Grup GoTo, menyatakan bahwa GOTO mencatatkan kinerja yang kuat di kuartal IV/2025 dan selama tahun 2025, dengan GTV inti meningkat 49% secara tahunan dan EBITDA yang disesuaikan mencapai Rp2 triliun, melampaui pedoman yang telah ditetapkan perseroan.

“Seiring berlanjutnya momentum ini, kami menetapkan pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk 2026 di kisaran Rp3,2–Rp3,4 triliun,” ujar Hans belum lama ini.

Dia melanjutkan bahwa pertumbuhan laba diperkirakan akan terus berlanjut di seluruh lini bisnis Financial Technology dan On-Demand Services sepanjang 2026.

Untuk unit usaha On-Demand Services, GOTO memperkirakan pertumbuhan pendapatan yang lebih kuat pada paruh kedua tahun ini seiring peningkatan kemampuan GOTO dalam melayani segmen mass market dengan lebih baik.

“Untuk mewujudkannya, kami akan tetap fokus memberikan solusi nyata sesuai kebutuhan konsumen, baik di segmen affluent maupun mass market, sembari terus berinvestasi pada kapabilitas utama yang memungkinkan kami menghadirkan solusi tersebut,” ucapnya.

Direktur Keuangan Grup GoTo Simon Ho menuturkan bahwa kinerja perseroan mencerminkan keberhasilan yang terus berlanjut dalam upaya mencetak pertumbuhan pendapatan (top-line) dan meningkatkan profitabilitas (bottom-line).

“Kami kembali mencetak rekor EBITDA Grup yang disesuaikan, ditopang oleh peningkatan pendapatan bersih, disiplin biaya, dan operating leverage yang positif,” ujarnya.

Di sisi lain, GOTO juga melihat potensi besar dari pengembangan GoPay sebagai bagian dari strategi memperluas ekosistem fintech. Lini ini dinilai mulai menunjukkan leverage operasional seiring peningkatan jumlah pengguna dan transaksi.

BUKA: Fokus pada Bisnis Gaming

PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) mengandalkan bisnis gaming sebagai sumber pertumbuhan baru setelah melakukan pivot dari model marketplace yang kompetitif. Sepanjang 2025, segmen gaming yang mencakup platform seperti Itemku dan Lapakgaming menjadi kontributor terbesar, dengan pendapatan mencapai Rp1,5 triliun pada kuartal IV/2025.

Direktur Bukalapak Victor Putra Lesmana dalam keterangan resminya mengatakan bahwa BUKA kini memprioritaskan kesehatan bisnis jangka panjang.

“Tahun 2025 adalah momen penting bagi kami untuk memperkuat fondasi perusahaan dengan berfokus pada strategi yang dapat memberikan nilai jangka panjang kepada stakeholders kami,” kata Victor.

Dengan dukungan cadangan kas dan investasi likuid sebesar Rp17,8 triliun, BUKA dinilai memiliki fleksibilitas untuk mengembangkan lini bisnis baru sekaligus menangkap peluang pasar.

BELI: Memperkuat Strategi Omnichannel

Adapun PT Global Digital Niaga Tbk. (BELI) atau Blibli memilih memperkuat strategi omnichannel dengan mengintegrasikan berbagai platform dalam satu ekosistem. Blibli mencatatkan pendapatan sebesar Rp22,36 triliun sepanjang tahun 2025, naik 33,77% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh integrasi ekosistem yang mencakup Blibli, tiket.com, Ranch Market, dan Dekoruma.

Kusumo Martanto, CEO & Co-Founder Blibli, mengatakan langkah tersebut menjadi fondasi utama dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat.

“Kami tetap fokus pada hal yang paling penting yakni membangun ekosistem omnichannel yang terintegrasi dan mampu bertahan untuk menciptakan nilai bagi pelanggan, mitra pemegang merek, serta pemegang saham,” kata Kusumo.

Menurutnya, integrasi ekosistem terus berkembang melalui implementasi keanggotaan terpadu dan program loyalitas yang menghubungkan seluruh platform.

“Kami meningkatkan pendapatan secara signifikan sekaligus meningkatkan kinerja profitabilitas kami. Ini kombinasi yang mencerminkan kualitas eksekusi kami, bukan sekadar pertumbuhan skala itu sendiri,” tuturnya.

Tantangan dan Prospek Masa Depan

Meskipun lini bisnis baru mulai menunjukkan kontribusi, analis menilai strategi ini masih membutuhkan waktu untuk benar-benar memperkuat fundamental. Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi memandang perusahaan teknologi saat ini masih berada dalam fase optimalisasi.

“Perusahaan masih dalam fase optimalisasi, bukan ekspansi struktural,” ujar Wafi, Kamis (9/4/2026).

Menurutnya, investor masih menunggu pembuktian keberlanjutan pertumbuhan dari lini bisnis baru tersebut, terutama dalam menghasilkan arus kas operasional yang positif.

“Untuk jangka panjang, masih perlu pembuktian arus kas operasional positif dan pertumbuhan GTV yang konsisten,” tuturnya.

Dengan demikian, meski fintech, gaming, dan omnichannel mulai menjadi andalan baru, efektivitas strategi tersebut dalam mendorong profitabilitas berkelanjutan masih akan diuji dalam beberapa tahun ke depan.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Telkomsel Jaga Konektivitas Ramadan-Idulfitri 2026, Jaringan Andal Tanpa Gangguan

14 April 2026

Tecno Spark 40 NFC: Baterai Tahan Lama & Kamera 50MP untuk Penggunaan Harian

14 April 2026

Harga HP Samsung Terbaru: S26, S25 FE, A57, A37, Z Fold 7

13 April 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Yamaha TMAX 560: Spesifikasi, Harga, dan Fitur Lengkap

14 April 2026

Ramalan Zodiak Besok: Aries, Taurus, Gemini, dan Cancer Sabtu 11 April 2026

14 April 2026

Laga Hidup Mati Madura United vs Persik: Kekuatan Rakhmat Basuki untuk Hindari Degradasi

14 April 2026

Allegri Pecahkan Kode 4-3-3, Ini Formasi AC Milan Lawan Udinese

14 April 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?