Perubahan Strategi Teknologi di Indonesia: Fokus pada Profitabilitas
Perusahaan teknologi di Indonesia semakin memperkuat lini bisnis baru sebagai mesin pertumbuhan, dengan fokus utama pada profitabilitas. GOTO, BUKA, dan BELI menjadi contoh perusahaan yang mengubah strategi untuk menjaga kinerja mereka di tengah tantangan pasar.
GOTO: Fokus pada Fintech dan On-Demand Services
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) terus memperkuat lini bisnis financial technology (fintech) sebagai pendorong utama pertumbuhan ke depan. Dalam laporan keuangannya, GOTO mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp18,32 triliun, naik 15,27% secara tahunan dari tahun 2024 sebesar Rp15,89 triliun. Kinerja tersebut turut mendorong penyusutan rugi bersih menjadi Rp1,18 triliun, turun 77% secara tahunan dari Rp5,15 triliun.
Hans Patuwo, Direktur Utama Grup GoTo, menyatakan bahwa GOTO mencatatkan kinerja yang kuat di kuartal IV/2025 dan selama tahun 2025, dengan GTV inti meningkat 49% secara tahunan dan EBITDA yang disesuaikan mencapai Rp2 triliun, melampaui pedoman yang telah ditetapkan perseroan.
“Seiring berlanjutnya momentum ini, kami menetapkan pedoman EBITDA yang disesuaikan untuk 2026 di kisaran Rp3,2–Rp3,4 triliun,” ujar Hans belum lama ini.
Dia melanjutkan bahwa pertumbuhan laba diperkirakan akan terus berlanjut di seluruh lini bisnis Financial Technology dan On-Demand Services sepanjang 2026.
Untuk unit usaha On-Demand Services, GOTO memperkirakan pertumbuhan pendapatan yang lebih kuat pada paruh kedua tahun ini seiring peningkatan kemampuan GOTO dalam melayani segmen mass market dengan lebih baik.
“Untuk mewujudkannya, kami akan tetap fokus memberikan solusi nyata sesuai kebutuhan konsumen, baik di segmen affluent maupun mass market, sembari terus berinvestasi pada kapabilitas utama yang memungkinkan kami menghadirkan solusi tersebut,” ucapnya.
Direktur Keuangan Grup GoTo Simon Ho menuturkan bahwa kinerja perseroan mencerminkan keberhasilan yang terus berlanjut dalam upaya mencetak pertumbuhan pendapatan (top-line) dan meningkatkan profitabilitas (bottom-line).
“Kami kembali mencetak rekor EBITDA Grup yang disesuaikan, ditopang oleh peningkatan pendapatan bersih, disiplin biaya, dan operating leverage yang positif,” ujarnya.
Di sisi lain, GOTO juga melihat potensi besar dari pengembangan GoPay sebagai bagian dari strategi memperluas ekosistem fintech. Lini ini dinilai mulai menunjukkan leverage operasional seiring peningkatan jumlah pengguna dan transaksi.
BUKA: Fokus pada Bisnis Gaming
PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) mengandalkan bisnis gaming sebagai sumber pertumbuhan baru setelah melakukan pivot dari model marketplace yang kompetitif. Sepanjang 2025, segmen gaming yang mencakup platform seperti Itemku dan Lapakgaming menjadi kontributor terbesar, dengan pendapatan mencapai Rp1,5 triliun pada kuartal IV/2025.
Direktur Bukalapak Victor Putra Lesmana dalam keterangan resminya mengatakan bahwa BUKA kini memprioritaskan kesehatan bisnis jangka panjang.
“Tahun 2025 adalah momen penting bagi kami untuk memperkuat fondasi perusahaan dengan berfokus pada strategi yang dapat memberikan nilai jangka panjang kepada stakeholders kami,” kata Victor.
Dengan dukungan cadangan kas dan investasi likuid sebesar Rp17,8 triliun, BUKA dinilai memiliki fleksibilitas untuk mengembangkan lini bisnis baru sekaligus menangkap peluang pasar.
BELI: Memperkuat Strategi Omnichannel
Adapun PT Global Digital Niaga Tbk. (BELI) atau Blibli memilih memperkuat strategi omnichannel dengan mengintegrasikan berbagai platform dalam satu ekosistem. Blibli mencatatkan pendapatan sebesar Rp22,36 triliun sepanjang tahun 2025, naik 33,77% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh integrasi ekosistem yang mencakup Blibli, tiket.com, Ranch Market, dan Dekoruma.
Kusumo Martanto, CEO & Co-Founder Blibli, mengatakan langkah tersebut menjadi fondasi utama dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat.
“Kami tetap fokus pada hal yang paling penting yakni membangun ekosistem omnichannel yang terintegrasi dan mampu bertahan untuk menciptakan nilai bagi pelanggan, mitra pemegang merek, serta pemegang saham,” kata Kusumo.
Menurutnya, integrasi ekosistem terus berkembang melalui implementasi keanggotaan terpadu dan program loyalitas yang menghubungkan seluruh platform.
“Kami meningkatkan pendapatan secara signifikan sekaligus meningkatkan kinerja profitabilitas kami. Ini kombinasi yang mencerminkan kualitas eksekusi kami, bukan sekadar pertumbuhan skala itu sendiri,” tuturnya.
Tantangan dan Prospek Masa Depan
Meskipun lini bisnis baru mulai menunjukkan kontribusi, analis menilai strategi ini masih membutuhkan waktu untuk benar-benar memperkuat fundamental. Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi memandang perusahaan teknologi saat ini masih berada dalam fase optimalisasi.
“Perusahaan masih dalam fase optimalisasi, bukan ekspansi struktural,” ujar Wafi, Kamis (9/4/2026).
Menurutnya, investor masih menunggu pembuktian keberlanjutan pertumbuhan dari lini bisnis baru tersebut, terutama dalam menghasilkan arus kas operasional yang positif.
“Untuk jangka panjang, masih perlu pembuktian arus kas operasional positif dan pertumbuhan GTV yang konsisten,” tuturnya.
Dengan demikian, meski fintech, gaming, dan omnichannel mulai menjadi andalan baru, efektivitas strategi tersebut dalam mendorong profitabilitas berkelanjutan masih akan diuji dalam beberapa tahun ke depan.




