Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Jumat, 26 Juni 2026
Trending
  • Realisasi rumah subsidi 2026 baru capai 22 persen
  • Klasemen Grup A Piala Dunia: Ceko 0-3 Meksiko, El Tri Kuasai Puncak
  • Penginapan Alam Bukit Tanjung Cinta Eputobi di Lewoingu, Flores Timur, NTT: Tempat Ideal untuk Beristirahat dan Menikmati Kopi
  • Apa Itu Crown Zirconia? Solusi Gigi Kuat dan Tahan Lama
  • Kronologi Aksi Berani Febry Selamatkan Anak Sulung di Tengah Api
  • Rencana Ruben Onsu Gugat Hak Asuh Anak, Ricky Sitohang: Saya Percaya Menang
  • Aturan Adu Penalti Baru FIFA untuk Piala Dunia 2026, Koin Ganda Dikabarkan Dihapus
  • Liburan Sekolah di Trenggalek: Pengalaman Berlibur Seru di Kebun Sorsow
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Enam Kabupaten Jateng Kekeringan, 4.808 Keluarga Kurang Air Bersih
Nasional

Enam Kabupaten Jateng Kekeringan, 4.808 Keluarga Kurang Air Bersih

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover26 Juni 2026Tidak ada komentar5 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Kekeringan di Jawa Tengah Memengaruhi Ribuan Keluarga

Dampak kekeringan mulai terasa di sejumlah wilayah di Provinsi Jawa, khususnya Jawa Tengah, memasuki puncak musim kemarau 2026. Warga di berbagai daerah mengalami kesulitan air bersih karena sumber air mereka mulai mengering.

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah menunjukkan bahwa kekeringan telah terjadi di enam kabupaten. Kondisi ini berdampak pada 4.808 keluarga yang terdiri atas 16.258 jiwa. Untuk mengatasi masalah tersebut, BPBD Jawa Tengah telah memulai distribusi bantuan air bersih.

Hingga Rabu (24/6/2026), BPBD telah menyalurkan 654 ribu liter air bersih kepada warga yang terdampak kekeringan di sejumlah daerah. Menurut Kepala BPBD Jateng, Bergas Catursari Penanggungan, air bersih tersebut didistribusikan ke wilayah terdampak kekeringan di enam kabupaten/kota, meliputi tujuh kecamatan di 11 desa.

Bergas merinci, dari enam kabupaten tersebut, Kabupaten Klaten menjadi daerah dengan distribusi terbesar, yakni sekitar 553 ribu liter. Berikutnya Kabupaten Purbalingga mendapatkan bantuan air bersih 30 ribu liter, Banjarnegara 26 ribu liter, Cilacap 20 ribu liter, Jepara 20 ribu liter, dan Purworejo 5 ribu liter.

Di Purbalingga dan Klaten, tiga desa mengalami kekeringan. Adapun di Banjarnegara kekeringan terjadi di dua desa. “Untuk Jepara, Purworejo, dan Cilacap masing-masing satu desa,” ungkapnya.

Menurut Bergas, tidak hanya enam kabupaten itu, sejumlah daerah lainnya juga telah menetapkan status siaga darurat kekeringan. Hingga akhir Juni 2026, terdapat delapan daerah yang telah menetapkan status tersebut, yakni Kabupaten Sukoharjo, Demak, Temanggung, Brebes, Kendal, Sragen, serta Kota Tegal dan Salatiga.

Potensi kekeringan tahun ini diperkirakan mengancam sedikitnya 18 kabupaten/kota di Jawa Tengah, meliputi Demak, Kudus, Pati, Rembang, Blora, Grobogan, Sragen, Brebes, Tegal, Pemalang, Boyolali, dan Kabupaten Semarang. Daerah lain yang juga terancam kekeringan, yakni Cilacap, Purbalingga, Purworejo, Klaten, Jepara, dan Banjarnegara.

Bergas memastikan, pelayanan distribusi air bersih akan tetap berjalan maksimal meskipun ada isu kenaikan harga BBM. BPBD akan meminta pemerintah kabupaten/kota memaksimalkan anggaran yang tersedia, pada Juni-Juli, untuk distribusi air bersih. “Sementara kebutuhan tambahan akibat kenaikan biaya operasional akan diakomodasi melalui perubahan anggaran,” jelasnya.

Kesulitan Air Bersih di Desa Kedungmalang

Di Kabupaten Jepara, warga Desa Kedungmalang, Kecamatan Kedung, mengalami kesulitan air bersih sejak 3-4 bulan terakhir. Pada Rabu (24/6/2026) lalu, Polres Jepara mengirimkan 6.000 liter air bersih diangkut menggunakan mobil water cannon ke Kedungmalang.

Kasat Samapta Polres Jepara, AKP Agus Nurhadi, mengatakan, bantuan air bersih diberikan dalam upaya membantu masyarakat yang membutuhkan. Masyarakat Kedungmalang sudah cukup lama kesulitan air bersih dampak suplai air baku di Bongpes tidak bisa digunakan lagi. Masyarakat setempat pun harus mengais air bersih dari sumur-sumur yang mengeluarkan air tanpa tercampur air laut.

Mengingat letak geografis Desa Kedungmalang dekat dengan kawasan pantai, sehingga kebanyakan air yang keluar mengeluarkan rasa asin. Sebagian masyarakat mengandalkan suplai air bersih dari PDAM yang kini terjadwal sepekan dua kali. Selebihnya mengandalkan air bersih dari bantuan BPBD dan bantuan dari berbagai pihak lainnya.

“Ini upaya kami dalam memberikan bantuan mengenai kondisi Desa Kedungmalang yang mengalami kekeringan parah, hingga membuat warga setempat kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Agus kepada Tribun Jateng.

Warga Kedungmalang, Toriqul Hadi (42) menyebut, air bersih sempat hanya mengalir sepekan sekali. Kondisi tersebut tidak mencukupi kebutuhan air sehari-hari bagi masyarakat. Warga pun harus mencari tambahan air dari sumur-sumur umum seperti musala dan pondok pesantren. Sebagian juga mengangsu air dengan cara membeli air bersih isi ulang galonan.

“Sekarang sudah ngalir seminggu dua kali. Itu pun belum cukup, kita andalkan juga bantuan air dari BPBD dan bantuan dari lainnya,” tutur dia.

BPBD Kabupaten Jepara mencatat, warga Kedungmalang yang membutuhkan bantuan air bersih tersebar di 11 RT dari 2 RW di desa tersebut. Kondisi kesulitan mendapatkan air bersih di desa tersebut berdampak pada 870 KK dengan perkiraan 2.500 jiwa di dalamnya.

Kekeringan Meluas di Kabupaten Cilacap

Sementara itu, di Kabupaten Cilacap, dampak kekeringan mulai meluas di sejumlah wilayah Kabupaten Cilacap sehingga kebutuhan air bersih masyarakat terus meningkat. BPBD Cilacap telah menyalurkan bantuan air bersih ke beberapa kecamatan yang kekeringan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cilacap, Taryo mengatakan, pihaknya telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi sejak awal musim kemarau untuk memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi. “Kami sudah melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan dan menyiapkan langkah penanganan sejak awal sehingga ketika permintaan bantuan masuk, distribusi air bersih bisa segera dilakukan,” ujar Taryo.

Hingga Selasa (23/6/2026), BPBD Cilacap telah menyalurkan 13 tangki air bersih ke sejumlah desa yang terdampak kekeringan di Kecamatan Nusawungu, Jeruklegi, Gandrungmangu, Patimuan, Kampung Laut, dan Adipala. Wilayah Kecamatan Jeruklegi menjadi daerah dengan kebutuhan bantuan terbanyak, yakni mencapai tujuh tangki air bersih, sementara kecamatan lainnya menerima bantuan sesuai tingkat kebutuhan masyarakat di lapangan.

Menurut Taryo, kondisi kekeringan diperkirakan masih berpotensi meluas seiring berlangsungnya musim kemarau yang diprediksi terjadi hingga November 2026 sehingga kewaspadaan seluruh pihak perlu terus ditingkatkan. “Musim kemarau masih berlangsung beberapa bulan ke depan dan potensi kekeringan bisa bertambah di sejumlah wilayah, karena itu kami terus memantau perkembangan serta menyiapkan distribusi air bersih jika dibutuhkan masyarakat,” katanya.

BPBD Cilacap juga telah menetapkan status siaga darurat kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan sebagai bagian dari upaya mempercepat penanganan dampak kemarau di daerah. Selain menyalurkan bantuan air bersih, BPBD bersama pemerintah kecamatan, desa, dan UPT terkait terus melakukan koordinasi untuk memastikan pelayanan kepada warga terdampak dapat berjalan cepat dan tepat sasaran.

Sementara itu, Warga Desa Karangkemiri, Warsilah mengatakan, bantuan air bersih tersebut sangat membantu karena wilayahnya mulai kekurangan air bersih. “Bantuan air bersih dari Pemkab Cilacap dan BPBD ini sangat membantu kebutuhan masyarakat saat musim kemarau seperti ini,” ujarnya.




Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Realisasi rumah subsidi 2026 baru capai 22 persen

26 Juni 2026

Kronologi Aksi Berani Febry Selamatkan Anak Sulung di Tengah Api

26 Juni 2026

Penginapan Alam Bukit Tanjung Cinta Eputobi di Lewoingu, Flores Timur, NTT: Tempat Ideal untuk Beristirahat dan Menikmati Kopi

26 Juni 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Realisasi rumah subsidi 2026 baru capai 22 persen

26 Juni 2026

Klasemen Grup A Piala Dunia: Ceko 0-3 Meksiko, El Tri Kuasai Puncak

26 Juni 2026

Penginapan Alam Bukit Tanjung Cinta Eputobi di Lewoingu, Flores Timur, NTT: Tempat Ideal untuk Beristirahat dan Menikmati Kopi

26 Juni 2026

Apa Itu Crown Zirconia? Solusi Gigi Kuat dan Tahan Lama

26 Juni 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?