Pelantikan Direktur Perumdam Tirta Sejiran Setason
Pada hari Sabtu, 31 Januari 2026, Bupati Kabupaten Bangka Barat, Markus, melantik Harpandi sebagai Direktur Perumdam Tirta Sejiran Setason di OR 1 Setda Bangka Barat. Pelantikan ini dilakukan untuk menggantikan posisi sebelumnya yang dijabat oleh Najamuddin, yang masa jabatannya berakhir pada Senin, 1 September 2025 lalu.
Dalam acara pelantikan tersebut, Markus menyampaikan selamat kepada Harpandi atas penunjukannya sebagai Direktur Perumdam Tirta Sejiran Setason periode 2026-2031. Selamat ini disampaikan atas nama pribadi dan pemerintah Kabupaten Bangka Barat.
“Semoga momentum ini menjadi spirit bagi saudara untuk meningkatkan kinerja perusahaan serta pelayanan publik,” ujar Markus. Ia juga mengajak Harpandi agar benar-benar menjalankan visi dan misi Perumdam Tirta Sejiran Setason serta program yang telah ditawarkan kepada masyarakat.
Markus percaya bahwa Harpandi mampu menjalankan tugas dan kewajibannya serta membawa perusahaan lebih baik lagi. Direktur baru ini sebelumnya pernah menjabat sebagai Komisioner KPU Kabupaten Bangka Barat. Menurut Harpandi, ada perbedaan peran dan tugas antara jabatan sebelumnya dengan yang sekarang.
“Sebenarnya ini lebih kepada manajerial saja, kalau kemarin kita di KPU. Kita manajerial kawan-kawan penyelenggara Pemilu. Sekarang kita sama-sama pelayanan juga, KPU juga melayani pemilih dan partai politik, PDAM juga sama,” kata Harpandi.
Strategi untuk Meningkatkan Kualitas Layanan
Harpandi menegaskan bahwa tugas utama dari PDAM adalah memberikan pelayanan sumber air bersih kepada masyarakat di Bangka Barat. Setelah dilantik, ia telah memiliki strategi untuk berinvestasi dalam kepercayaan masyarakat, terutama karena ada beberapa masukan dari masyarakat terkait masalah kualitas air.
“Jadi kualitas air kita yang memang katakanlah masih keruh. Terus lagi ada beberapa meteran yang kira-kira tidak akurat, nah ini yang memang harus kita benahi kembali,” jelasnya.
Ia ingin masyarakat percaya kepada PDAM. Karena PDAM bukan hanya perusahaan daerah air mandi tapi perusahaan air minum yang secara PH layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat Bangka Barat.
Menghadapi Masalah NRW
Selain itu, Harpandi mengatakan bahwa salah satu permasalahan utama adalah NRW (Non-Revenue Water), yaitu air yang tidak menghasilkan pendapatan. NRW atau air tak berekening (ATR) merujuk pada air bersih yang sudah diproduksi oleh perusahaan air minum seperti PDAM, tetapi hilang sebelum sampai ke pelanggan dan tidak menghasilkan pendapatan. Bisa karena kebocoran fisik, pipa bocor atau kehilangan komersial, pencurian air, meteran tidak akurat.
“Pertama itu NRW. NRW ini kan air tidak berkening. Jadi air tidak berkening ini ada beberapa permasalahan. Pertama masalah pipa rusak ataupun meteran yang tidak akurat yang mungkin saja ini bisa merugikan perusahaan ataupun masyarakat. Itu jangka menengah nanti akan kita mengoptimalisasi ataupun digitalisasi,” katanya.
Peningkatan Administrasi dan Pelayanan
Untuk meningkatkan pelayanan, Harpandi berencana memperbaiki administrasi di perusahaan. Salah satunya adalah dengan memudahkan pelanggan dalam melakukan pembayaran melalui aplikasi. Sistem digitalisasi ini akan mendorong tertibnya administrasi di perusahaan.
Evaluasi SDM dan Persiapan Musim Kemarau
Kemudian, terkait SDM, Harpandi menyatakan bahwa karena baru saja dilantik, ia akan melakukan adaptasi di perusahaan. Setelah itu, dirinya akan melakukan evaluasi terkait masalah SDM yang ada di perusahaan.
Selain itu, Harpandi menyampaikan rencana untuk menghadapi persoalan musim kemarau. Ia akan berkoordinasi dengan pihak perencana terkait beberapa titik yang akan dijadikan sumber air baku seperti di Mentok, Simpang Teritip dan Tempilang.
“Kita akan melihat seberapa jauh kualitas air itu bisa dikonsumsi ataupun bisa dipakai oleh masyarakat nanti. Itu ada beberapa titik sumber air bakunya,” tutupnya.



