Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Jumat, 14 Agustus 2026
Trending
  • Mentan Amran Gandeng KNPI Untuk Kawal Ketahanan Pangan
  • Dua SBU Tercatat Dicabut Sebelum Pemilihan, Surat Rektor UIN SATU Tulungagung Klaim Masih Berlaku hingga 2026
  • 10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman
  • 5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl
  • Kunjungan ke Pabrik Yamaha, Komunitas XMAX Bali Jelajahi Standar Produksi Global
  • Video Call dengan Bayi: Termasuk Screen Time? Ini Jawabannya
  • Penawaran Umum RANS Ditutup Besok, Jutaan Investor Antre Daftar di Bursa
  • Terdakwa Korupsi Rp 300 M Soroti Bukti Kerugian dan Validitas Audit
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Ditekan Pengumuman MSCI dan FTSE, Ini Nasib Pasar Saham Indonesia
Ekonomi

Ditekan Pengumuman MSCI dan FTSE, Ini Nasib Pasar Saham Indonesia

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover18 Mei 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Indonesia kembali menghadapi tekanan berat di pasar modal setelah pengumuman rebalancing dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan FTSE Russell. Hal ini memengaruhi kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang terkoreksi cukup dalam seiring keluarnya beberapa saham berkapitalisasi besar dari indeks global.

Dalam pengumuman terbaru pada Rabu (13/5), MSCI mengeluarkan enam saham dari MSCI Global Standard Indexes, yaitu AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT. Meskipun AMRT masih masuk dalam MSCI Small Cap Indexes, ada 13 saham lain yang terlempar dari MSCI Small Cap Indexes, termasuk ANTM, AALI, BANK, BSDE, DSNG, SIDO, MIDI, MIKA, MSIN, TKIM, APIC, SSMS, dan TAPG.

Akibatnya, IHSG turun 1,98% ke level 6.723,32. Beberapa saham yang tersisih dari indeks MSCI mengalami penurunan signifikan. Contohnya, AMMN turun 9,09% ke Rp 3.700 per saham, DSSA anjlok 11,16% ke Rp 1.035 per saham, dan trio saham milik Prajogo Pangestu seperti TPIA, BREN, dan CUAN juga merosot cukup dalam.

Selain itu, investor asing mencatatkan net sell di seluruh pasar sebesar Rp 1,53 triliun pada hari tersebut. Total net sell asing sejak awal tahun mencapai Rp 40,25 triliun. Di samping itu, FTSE Russell juga mengumumkan akan menghapus saham dengan kepemilikan terlalu terkonsentrasi dari indeksnya, yang menjadi sinyal keras bagi pasar modal Indonesia.

Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus menyatakan bahwa dampak dari sentimen ini sangat besar bagi pasar saham Indonesia. Indeks seperti MSCI menjadi tolok ukur pelaku pasar dan investor global dalam menentukan capital inflow. Jika Indonesia tidak ditempatkan dalam kategori yang baik, potensi capital inflow akan berkurang.

Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan bahwa tekanan IHSG kali ini relatif lebih terkendali karena pasar sudah mengantisipasi keputusan MSCI sejak beberapa pekan terakhir. Namun, dampak rebalancing MSCI tetap signifikan terhadap arus modal asing yang keluar.

Saham-saham seperti BREN, AMMN, DSSA, CUAN, TPIA, dan AMRT diperkirakan masih rentan volatil dalam jangka pendek akibat tekanan jual asing dan aksi pengurangan bobot portofolio institusi global. Selain itu, saham perbankan besar seperti BBCA dan BMRI juga menghadapi tekanan karena investor asing cenderung mengurangi aset berisiko di tengah penguatan dolar AS dan kenaikan yield US Treasury.

Di sisi lain, saham-saham defensif dan berbasis domestik relatif lebih diuntungkan karena dianggap lebih tahan terhadap tekanan eksternal. Pengamat Pasar Modal dan Co-Founder PasarDana Hans Kwee menyebut bahwa di balik volatilitas saat ini, terbuka peluang bagi investor untuk akumulasi saham blue chip yang harganya terkoreksi secara anomali akibat kepanikan dan tekanan jual paksa oleh fund manager pasif.

Evaluasi Regulator
Setelah pengumuman MSCI dan FTSE Russell, transparansi menjadi modal krusial bagi Indonesia. Peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) sangat vital dalam memperketat pengawasan terhadap struktur kepemilikan dan transaksi pihak afiliasi guna memastikan pasar saham yang lebih adil.

Upaya SRO dalam mendorong keterbukaan informasi yang lebih real-time serta langkah tegas OJK dalam mereformasi perlindungan minoritas akan menjadi sinyal positif bagi lembaga pemeringkat global. Indonesia bisa belajar dari India yang berhasil memulihkan kepercayaan investor dengan menyelaraskan batas kepemilikan asing dan memperkuat basis investor domestik melalui digitalisasi investasi yang masif.

Langkah Investor
Dalam kondisi seperti ini, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai strategi paling aman bagi investor adalah hold sekaligus wait and see sambil menunggu volatilitas pasar mulai mereda. Menurutnya, saat ini pasar kemungkinan terlalu fokus pada headline belasan saham keluar dari MSCI, tanpa menyadari bahwa sebagian besar tekanan sebenarnya sudah berlangsung bertahap dalam beberapa bulan terakhir.

Secara teknikal, IHSG masih berpotensi menguji area support psikologis 6.700 bahkan support berikutnya di kisaran 6.585 apabila tekanan global belum mereda. Hans menyebut, pengumuman MSCI dan FTSE dapat menjadi momen bagi investor untuk melakukan evaluasi portofolio secara objektif.

Di pertengahan tahun atau akhir semester I-2026, IHSG diprediksi berada di kisaran 7.000–7.200 seiring efektifnya hasil rebalancing MSCI pada Juni nanti. FTSE Russell juga akan membuat keputusan mirip dengan MSCI pada Juni nanti, namun dampaknya cenderung lebih ringan. Sampai akhir tahun 2026, IHSG diproyeksikan berada di kisaran 7.600–7.800 lantaran masalah MSCI dan FTSE Russell sudah selesai. Proyeksi ini juga dengan catatan bahwa konflik di Timur Tengah benar-benar mereda.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Penawaran Umum RANS Ditutup Besok, Jutaan Investor Antre Daftar di Bursa

11 Juli 2026

BEI Evaluasi Aturan Papan Pemantauan Khusus

11 Juli 2026

Bursa Asia Tertekan Selasa (7/7) Akibat Kenaikan Laba Samsung dan Pelemahan Yen

11 Juli 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Mentan Amran Gandeng KNPI Untuk Kawal Ketahanan Pangan

2 Agustus 2026

Dua SBU Tercatat Dicabut Sebelum Pemilihan, Surat Rektor UIN SATU Tulungagung Klaim Masih Berlaku hingga 2026

14 Juli 2026

10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman

11 Juli 2026

5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl

11 Juli 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?